
Dua hari dua malam seorang laki-laki tengah menyibukkan diri dengan pekerjaan, mengalihkan pikirannya pada seorang wanita yang tengah berlari dari hidupnya. Laki-laki itu menulis sesuatu, bukan sebuah tulisan melainkan hanya coretan yang tak bermakna. Laki-laki itu meremas kertas putih yang tak bersalah, lalu membuangnya ke sembarangan arah.
Bukan hanya satu kertas yang ia buang, bahkan ruang kerjanya hanya ada tumpukan kertas yang berbentuk bulat berserakah di mana-mana. Ada di bawah meja, di bawah kursi, dekat rak buku dan di belakang pintu.
Selama dua hari itu tak ada yang berani mengunjunginya. Hanya seorang wanita yang setia melihat kondisinya, membawakannya sarapan dan makan malam, di siang harinya dia akan membawa camilan. Namun tak ada yang mampu membuat air liurnya keluar. Laki-laki tegas berwajah dingin itu tetap fokus pada coretan yang mewakili perasaannya tak ber ujung arah.
"Yang Mulia," seru seseorang. Wanita itu membawa sebuah nampan di ikuti salah satu pelayan kediamannya. Segelas air putih dan nasi beserta sayur dan lauk pauknya.
"Sudah dua Yang Mulia seperti ini." Ujarnya seraya menaruh nampan itu di atas meja. Tidak bisa di pungkir rasa sedihnya dan rasa cemburunya semakin meningkat. Apa yang dia rasakan melihat suaminya terpuruk pada wanita lain, istri keduanya. Sudah dua hari ini, suaminya tak tersentuh sedikit pun.
"Bawalah kembali aku tidak berselera." Lagi-lagi dia meremas kertas yang hanya berisi coretan itu, membuangnya ke sembarangan arah. Wanita itu melihat setiap sudut ruangan. Entah berapa banyak pelayannya membawa kertas kosong, bisa saja stok kertas di kekaisaran itu akan habis oleh perbuatannya.
"Makanlah walaupun sedikit."
"Jangan memaksa ku." Jawaban singkat tak ada yang boleh membantah, tapi wanita di depannya masih keukeh, tak ingin kondisi kesehatannya menurun.
__ADS_1
"Bukannya Yang Mulia tidak menyukainya, tapi kenapa sekarang malah merasa terguncang."
"Yang Mulia merindukannya, maka temuilah dirinya bukan menyiksa diri."
Coretan pena itu berhenti. "Aku tidak ingin di ganggu, bawa saja semua makanan itu. Jangan membahasnya."
"Sadarkah perbuatan Yang Mulia juga menyakiti ku."
Seketika pena di tangannya langsung patah. "Aky sadar, namun aku tidak bisa menghentikan perasaan ku."
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri. Sebelum Duchess merasa dikhianati."
"Pertama kalian adalah ibu dari anak ku. Kedua kalian memang menyandang istri sah ku. Dan jika boleh memilih, sandianya waktu bisa di putar kembali. Aku ingin memilih .."
Perkataannya menjeda mengingat masa lalunya.
__ADS_1
"Kamu akan memilihnya, dari awal kamu memang menginginkannya. Seandainya kejadian itu tidak terjadi. Ya, kamu akan hidup bersamanya dengan Viola." Ujarnya meneruskan perkataan Duke Arland. Sudah ia rasakan, tatapan kebencian itu tak sepenuhnya benci masih ada rasa cinta.
Laki-laki itu tertawa, namun matanya berkaca-kaca. "Ya, seharusnya memang seperti itu. Seharusnya memang aku menjadi laki-laki yang beruntung memilikinya, tapi sayang aku menyiakannya. Seharusnya aku memang tidak melimpahkannya pada dirinya. Dia wanita yang tidak tau apa-apa."
"Tidak bisakah Yang Mulia membohongi ku, menjaga perasaan ku."
"Selama ini aku berbohong bukan, seandainya dia tidak muncul. Mungkin rasa itu masih aku pendam semakin dalam. Membiarkan perasaan itu terkubur seiringnya waktu."
"Dan Yang Mulia akan membohongi perasaan Yang Mulia."
Duke Arland semakin tertawa, ia bingung harus menjawab seperti apa. Tadi saja istrinya menyuruhnya untuk berbohong, tapi sekarang.
"Lalu aku harus apa? kamu menyuruh ku berbohong."
"Apa perlu aku menceraikan mu?" tanya Duke Arland. Seketika air mata itu turun mengalir. Tidak pernah ia harapkan perkataan itu keluar dari mulutnya. Sudah belasan tahun, laki-laki itu memperhatikannya, memanjakannya. "Kenapa Yang Mulia berubah hanya karena kedatangannya yang baru saja."
__ADS_1
"Dan kenyataanya, aku baru menyadarinya. Dari dulu aku hanya diam-diam melihatnya dari jauh. Saat Ayah mengatakan jika aku akan di jodohkan dengannya. Rasa bahagia itu tidak bisa di gambarkan oleh apa pun. Sebuah kenyataan yang membuat Ayah ku meninggal dan kenyataan pahitnya Ayah orang yang aku inginkan mempunyai niat buruk untuk keluarga ku. Dia berniat menghancurkan, memisahkan Ayah dan Ibu ku. Kenyataan pahit itu membuat ku tak bisa membedakan mana cinta dan balas dendam. Dan selama ini aku memilih balas dendam dari pada cinta."
Duchess Eliana merasa hidupnya semakin runtuh, "Makanlah." Ujarnya berlalu pergi. Ia tidak tahan mendengarkan semua kejujurannya. Duchess Eliana pun memilih diam sendiri, menangis di dalam kamarnya.