
Lilliana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa benar obat itu bisa mencegah kehamilan? Sementara kamu sudah melakukannya,"
Viola menatap Mira meminta jawaban.
"Saya yakin bisa nyonya." Mira berucap dengan hati penuh keyakinan. Sebelum dia meminta obat itu. Dia lebih dulu menjelaskan dengan pura-pura temannya sudah tidur lebih dulu. Dia bersyukur ternyata ada sebuah obat yang boleh di minum sesudah tidur bersama.
"Apa Ibu sudah menemukan Kakak?" tanya Viola mengalihkan pembicaraannya.
"Jika Ibu sudah bertemu dengan Kakak mu. Sudah Ibu pastikan kita berdua bebas dari keluarga itu." Pekik Liliana kesal. Semenjak bertemu dengan Viola sikap bar-bar Viola di ikuti Ibunya. Kini mereka seperti sepasang saudara yang bertengkar.
"Hah," Viola menghentakkan kakinya.
"Apa Ibu tidak berusaha?"
"Ibu sudah berusaha Vio. Bahkan Ibu sudah memberikan lukisan Nona Abella pada Kesatria yang Ibu percayai."
"Mungkin saja dia mengubah nama atau di sembunyikan orang. Dari dulu masalahnya hanya Abella. Tidak ketemu ujung-ujungnya." Ujar Viola dengan menopangkan dagunya.
"Bagaimana dengan pembukaan Restaurant mu nanti malam?"
"Sudah ada Marquess yang mempromosikannya. Biarkan saja dia yang menawarkan pada Bangsawan."
__ADS_1
Liliana tertawa lepas, baru saja dia mendengarkan putrinya membodohi bangsawan lagi. "Katanya kamu tidak menyukainya, tetapi kenapa kamu malah dekat dengannya."
"Sudahlah Ibu, aku hanya memanfaatkannya saja. Masa lalu biarlah berlalu. Jangan di ungkit, jangan ingatkan aku."
Viola berdiri, dia melangkahkan kakinya ke luar ruangan itu.
"Heh, kamu mau kemana?" teriak Liliana.
Viola berbalik, "Buat apa aku disini? Ibu tidak menemukannya kan."
Lilliana menganga, "Apa kamu tidak merindukan Ibu sedikit pun. Bahkan Ibu meluangkan waktu Ibu demi dirimu. Astagah, dia semakin menjadi-jadi saja."
"Nyonya sudah gampang tersenyum dan marah." Mira membungkuk, lalu menyusul langkah kaki Viola.
Viola berjalan seraya melihat sayur yang di jual di pinggir jalan itu. "Mira kamu beli semua macam sayur ini." Mira mengangguk, dia menyuruh beberapa sayur segar, wortel, tomat, kentang dan ubi ungu untuk di antarkan ke kediaman Duke Cristin.
"Darimana saja kamu?" tanya seseorang membuat Viola menaikkan alisnya. Melihat laki-laki di depannya itu.
"Ada apa? aku tidak ada waktu berdebat dengan mu." Viola melewati laki-laki itu. Duke Cristin pun menarik lengan Viola sampai keduanya saling bertatap.
Viola memundurkan badannya, dia memalingkan wajahnya merasakan detak jantungnya berlomba. "Sudahlah, ada perlu apa? aku masih ingin jalan-jalan di sini."
__ADS_1
"Apa kamu lupa? kita harus menemui Baginda Kaisar dan Permaisuri."
"Apa kita tidak bisa besok saja? aku masih lelah." Viola melanjutkan langkah kakinya di ikuti oleh Duke Cristin membuat Viola merasa risih.
"Bisakah kamu tidak mengikuti ku. Aku tidak perlu di jaga dan di ikuti oleh mu."
"Siapa yang mengikuti mu? aku hanya menuruti langkah kaki ku saja." Kilah Duke Cristin membuat Viola semakin kesal.
Viola berjalan cepat melewati Duke Cristin begitu saja. Tanpa sadar dia menabrak seseorang yang sedang menggunakan jubah menutupi kepalanya. Hingga keranjang yang berisi wortel dan tomat itu jatuh dan bertabur di tanah. "Maaf," ujar Viola seraya membantu memunguti tomat dan wortel itu satu per satu. Dan Mira pun juga ikut membantu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya suara datar itu.
"Aku sedang berbuat salah, ya tentu aku harus bertanggung jawab." Viola menatap ke arahnya lalu kembali memunguti wortel itu satu per satu.
"Tidak perlu, kamu hanya menggantinya saja." Duke Cristin memberi kode pada Armand agar mengganti kerugiannya.
Wanita yang berjubah itu semakin bergetar. Dia merindukan sosok laki-laki di depannya itu. Sudah beberapa bulan dia merindukan sosok laki-laki yang hangat padanya. Dia merindukan, pelukannya, dekapannya, senyumannya, wajah dinginnya dan lebih tepat lagi merindukan amarahnya yang begitu menggemaskan bagi dirinya.
"Nyonya kami akan menggantinya." ujar Armand dengan sopan.
"Duke," lirihnya seraya meneteskan air bening itu. Dia melirik sekilas ke laki-laki itu yang sedang berdebat dengan Viola. Dia langsung pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1