Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Mengusirnya


__ADS_3

Baroness Lilliana merasakan sesuatu yang berat di atas perutnya. Ia membuka matanya, lalu melihatnya. "Astagah!" Baroness Lilliana melirik, mengikuti tangan yang melingkar di atas perutnya itu. "Hah," Matanya menajam, ia memeriksa dadanya. Pakaian itu masih melekat di tubuhnya. Akhirnya ia bisa bernafas lega. Baroness Lilliana beringsut, ia membuat sandaran dengan bantalnya, lalu menyandarkan punggungnya.


"Apa semalaman dia tidur dengan ku?" Baroness Lilliana tersenyum. Karena tidak ingin berlama-lama, Baroness Lilliana pun memindahkan tangan kekar itu. Baru saja dia selesai memindahkan, tiba-tiba suara nyaring itu muncul di pintu kamarnya.


"Ibu, aku ingin keluar." Teriak Viola. Seketika Baroness Lilliana menutupi telinga Duke Arland dengan tangan kirinya.


"Ibu sudah bangun kah," Viola menghampirinya dan seketika mata itu membulat. Dia ingin berteriak, namun Baroness Lillian menggunakan tangan kanannya menyumbat mulutnya itu.


"Diamlah jangan berisik. Ibu akan menjelaskan nanti." Pekik Baroness Lilliana. "Sekarang kamu keluar dulu."


"Sebaiknya Ibu tidak perlu memaafkannya." Kesal Viola.


Anak itu gumam Baroness Lilliana


Baroness Lilliana membetulkan selimutnya, sejenak dia memperhatikan wajah yang tertidur dengan damai itu. Sejak dulu impiannya hanya ingin tidur bersama dengan laki-laki di depannya. Meskipun kondisi sekarang tidak memungkinkan untuk mereka bersama lagi, tetapi setidaknya ia bisa merasakan sesuatu yang sudah hilang.


Baroness Lilliana mengelus kepala Duke Arland. Satu kecupan singkat itu mendarat di keningnya. "Maafkan ayah ku, jujur aku malu berhadapan dengan mu. Penyiksaan mu dulu pada ku, tidak bisa membuat Ayah mu hidup. Terima kasih, dulu kamu dan keluarga mu pernah menyelamatkan diri ku. Seandainya aku tidak di selamatkan oleh mu, mungkin sekarang aku sudah menjadi simpanan orang lain. Menjadi istri yang seharusnya menjadi Ayah ku."

__ADS_1


Baroness Liliana pun beranjak turun, namun tangan kekar itu menghentikannya. "Lilli."


"Sudah bangun,"


Duke Arland mengucek matanya, lalu memeluk Baroness Lilliana, menenggelamkan kepalanya di ceruk lehernya.


"Selamat pagi." Tanpa rasa bersalah dia mencium pipi kanan Baroness Lilliana.


"Jangan seperti ini," Baroness Lilliana melepaskan tangan yang melingkar itu, lalu berdecak pinggang. "Kenapa kamu bisa di kamar ku?"


"Aku tidak tau, setau ku. Aku sudah tidur, mungkin saja aku berjalan ke sini sambil tidur." Bohong Duke Arland.


plak


aaaa


Duke Arland memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Dia ingin memarahi istri keduanya itu, mana ada seorang wanita memukul kepala suaminya dengan begitu kasar. Namun hatinya sekali lagi tak mengijinkannya, ia luluh melihat tatapan kejam di bola matanya.

__ADS_1


"Apa kamu ingin mengarang cerita aku tidak berbakti, dari dulu aku sudah berbakti pada mu hanya saja kamu yang menutup mata." Sindir Baroness Lilliana, ia meninggalkan Duke Arland dengan rasa bersalahnya.


"Lilli." Duke Arland menyusul langkah Lilliana, lalu memeluknya. "Aku minta maaf, aku salah."


"Sudahlah aku mau mandi, sekarang kembali lah ke kamar mu. Sebentar lagi kita akan sarapan, aku tidak ingin Viola menunggu kita terlalu lama. Aku tidak bisa membayangkan wajah yang kesal."


"Baiklah, tapi malam ini bolehkah aku tidur di sini."


Baroness Lilliana hendak memukul kembali, dengan sigap Duke Arland menangkap tangan kirinya lalu mendekapnya. Sejenak bola mata itu saling beradu.


Satu kecupan kening dan senyuman yang mengiringi langkah kaki Duke Arland keluar dari kamar Baroness Lilliana. "Duke Arland, jangan sampai kamu mengulanginya. Akan aku pastikan mulutnya tidak bisa makan." Geram Baroness Lilliana. Seulas senyum di bibirnya merekah. Bibirnya menolak tapi hatinya menerima. Baroness Liliana menepis rasa hangat itu, ia harus ingat dengan tujuan utamanya. Berpisah dengan Duke Arland. Ia tidak akan bahagia di atas penderitaan orang lain.


Sementara di lantai bawah. Viola tengah di kejutkan oleh seorang laki-laki yang tengah berbaring di sofa. "Mau apa kamu ke sini?" tanya Viola dengan wajah kesal. Tidak Ayahnya dan menantunya, sama-sama laki brengsek yang sekarang mengusik kembali ketenangannya. Baru beberapa hari hidupnya tentram dan sekarang kembali terusik dengan kedatangan dua cucunguk.


Laki-laki itu pun menurunkan kedua kakinya. Tanpa merasa berdosa dia langsung memeluk Viola. "Sayang aku merindukan mu. Apa kamu tidak merindukan suami tampan mu ini?"


Viola mendorong kasar tubuh Duke Cristin hingga tubuh itu terdorong ke sofa di depannya itu. "Aku tidak mengijinkan mu menginjakkan kaki mu ke sini. Pergi ! jangan mengganggu hidup ku. Sepertinya aku harus memperketat penjagaan di kediaman ini."

__ADS_1


"Vio, sudah jangan bertengkar. Sebaiknya kita sarapan. Lanjutkan saja nanti." Timpal Baroness Lilliana yang turun dari anak tangga. Dia juga terkejut dengan kemunculan Duke Cristin di depannya.


"Baik, dua Duke ini hanya numpang di sini. Setelah sarapan mereka harus pergi. Jangan mengusik ku dan Ibu ku. Pikirkan kedua wanita lainnya. Mungkin sekarang mereka tengah menangis dan meraung." Ujar Viola. Hatinya tidak bisa menerima kehadiran kedua orang walaupun statusnya sebagai seorang ayah dan suami.


__ADS_2