
Setelah lelah mencari Bulan kemana mana, Akhir nya saat semangat Ello tengah luntur, Sang Rembulan datang dengan sendiri nya di hadapan nya.
" Buu..." Ello berseru senang saat melihat wanita yang sangat di Cintai nya kini berada tepat di hadapan nya.
" Stop disana Danello. !"
Deg !
" What Buu ? Danello ?" Tanya nya tak percaya.
Danello ? Bulan memanggil nama nya ? Biasa nya dia akan memanggil dengan sebutan Dua huruf saja dengan suara lembut nya yang manja.
Ello menatap tak percaya pada wanita yang sangat di cintai nya.
" Buu..." Panggil Ello lagi.
Bukan hanya bisa menundukan pandangan nya tidak berani menatap wajah tampan kekasih bule nya itu.
Rasa nya sesak sekali menahan semua nya.
" Aku ingin kita putus !"
Deg !.
Jantung Ello berdetak lebih kencang, Apa apaan ini ???
Putus ??
" Are U Kidding Me Buu ? Oh, C'mon Buu, It's not April Mop! You know that !" Ello bicara seakan dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Bulan barusan.
Aneh !
Ello tertawa, Namun tawa itu adalah tawa getir yang di berikan nya pada Bulan, Bukan tawa lepas seperti biasa nya.
" Katakan ini bercanda Buu, Ini tidak lucu Buu, " Wanita itu hanya menatap datar ke arah Ello.
Walau saat ini hati nya menangis meratapi semua nasib kisah nya harus kandas bersama Ello harus kandas begitu saja, Terlebih lagi saat ini dia sedang mengandung, bagaimana dia menghadapi semua nya nanti ?
Saat anak anak nya lahir dan bertanya tentang Daddy nya ?
Air mata Bulan mulai merembes keluar dari bola mata indah itu.
Ello terpaku melihat itu, Dia maju mendekat ingin menghapus air mata itu, Tapi Bulan kembali mencegah nya lebih dulu.
" Maaf, Aku rasa ini semua sudah selesai. " Bulan langsung berbalik untuk meninggalkan Ello.
__ADS_1
Namun langkah nya terhenti saat Ello memeluk nya dari belakang, Pelukan itu terasa sangat nyaman.
Bisakah Bulan untuk terus menikmati nya ? di saat saat kehamilan nya ?
Bagaimana ini Tuhan ??? Apa yang harus di lakukan nya ? bagaimana ?
" I Love You Buu, I Love You, I Love You So Much, I Really Love You Buu, I Love You. " Ello semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh Bulan.
Bahkan entah dorongan dari mana, Seakan menuntun tangan Ello mengusap perut Bulan, Entah lah, Ello tidak tau kenapa ?
" Buu, " Bulan memejamkan mata nya, Saat tangan besar nan hangat milik Ello mengusap perut nya yang mulai merubah bentuk nya.
Dimana disana ada calon ketiga anak mereka, Bagaimana ini ?
" Maaf, Aku harus pergi. " Bulan melepas paksa belitan tangan besar Ello yang melingkar di perut nya.
" Jika sekali saja kau pergi sari ku, Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan mu Buu, Sekali pun kau memohon pada ku !"
Deg !
Jantung Bulan kali ini yang seperti di remas oleh tangan besar tak kasat mata yang membuat seluruh tubuh nya hancur hingga tak bersisa.
Seluruh nya hancur sudah !
" Dan aku pastikan aku tidak akan pernah ingin kembali pada mu ! Im Promise !" Ello menyunggingkan senyuman sinis nya terhadap Bulan yang kini mulai berjalan menjauh dari nya.
Namun dia masih bisa mendengar apa yang di katakan Ello pada nya.
Bulan semakin mengeratkan pelukan nya pada area perut nya, Dimana anak anak mereka sudah hadir.
" Mereka telah hadir El, Mereka ada disini. " Gumam Bulan dalam hati nya.
Miris sekali hidup nya bukan ?
Dimana semua wanita saat tengah mengandung menginginkan pasangan nya, Lalu bulan ? Dia malah harus menghadapi semua ini ? Apa salah nya ? Sampai harus menjalani semua ini sendirian ?
Bulan semakin mempercepat langkah kaki nya hingga dia semakin menjauh dari jangkauan Ello yang masih berdiri mematung di tempat nya.
" I Hate You Rembulan Sanjaya !!!! " Teriak Ello sekuat tenaga nya.
Bahkan di sekeliling nya menatap heran ke arah nya saat ini.
" I Hate You Now, Than, And More !!!" Teriakan Ello yang kedua kali nya semakin kencang.
Bahkan kini kedua tangan nya terkepal erat menahan emosi dan rasa kecewa nya yang bersatu padu.
Bulan semakin berurai air mata meninggalkan Ello, Bahkan tangisan yang sejak tadi di tahan nya perlahan keluar dan menjadi tangisan pilu.
Bulan menangis dengan sangat pilu di dalam mobil nya, Bahkan kini supir Papa Sakti Sanjaya itu tak kuasa menahan rasa haru nya.
__ADS_1
Bukan dia tidak tau masalah yang tengah di hadapi keluarga Bos nya ini.
Pak Imam, Supir kepercayaan keluarga Papa Sanjaya itu tau betul bagaimana perasaan Nona muda satu satu nya dari keluarga Sanajya itu itu saat ini.
" Kita Jalan Non ? atau mau kemana dulu ?" Tanya Pak Imam pada Bulan.
" Pulang saja kerumah Pak, Buu capek, Mau tidur aja, Perut nya mual. " Pak Imam mengangguk dan membawa Nona muda nya langsung menuju rumah yang baru di beli oleh bos nya.
Saat mobil Bulan telah pergi meninggalkan nya, Ello hanya tersenyum sinis dengan mata yang terus menatap tajam mobil bintang tiga itu melaju meninggalkan nya,.
Tanpa di sadari nya, Air mata nya jatuh begitu saja menyaksikan kepergian Bulan.
Entah lah, Rasa nya hancur sekali perasaan Ello saat ini.
Dia mati matian berusaha hidup tanpa bantuan Daddy nya, agar Daddy nya tau dan bangga pada nya, Dia juga ingin memantaskan diri nya agar bisa bersanding dengan Bulan tanpa nama belakang keluarga nya.
Dan Saat ini, Alasan nya untuk bertahan malah melakukan ini semua pada nya ?
Miris sekali hidup mu Ell... !
Akhir nya Ello melajukan mobil nya ke bengkel yang di bangun nya bersama Bulan dan akan mengembalikan semua modal yang terlah di bangun nya bersama wanita itu.
Jika Bulan bisa melakukan ini pada nya kenapa dia tidak bisa melakukan itu pada nya ?
" Akhu bisa Buu, Aku bisa. " Ello terus bergumam sambil menatap datar dan lurus jalanan Kota yang kini sedang di lewati nya.
Lain Ello, Lain lagi Bulan yang baru saja sampai di rumah keluarga Sanjaya di Amerika.
" Sayang, Kamu sudah pulang Buu..." Mama Regina merentangkan tangan menyambut kedatangan putri satu satu nya.
Bahkan Dia lah pewaris tunggal Tahta kerajaan Sanjaya Sakti Farm Tbk, yang bergerak di bidang Farmasi dan Susu, Karena juga mereka memiliki peternakan Sapi yang sangat besar untuk pemasok Susu di Sanjaya Milk Farm Tbk.
" Makan yuk sayang, Papa udah nunggu kamu. " Ucap Mama Regina lagi.
Bulan melepas pelukan nya dan bergegas kembali berjalan.
" Buu gak lapar Ma. " Bulan langsung berjalan menuju kamar nya.
Bahkan dia tidak pamit dan menatap Papa nya.
Seakan Papa Sanjaya tak terlihat oleh nya.
" Buu, Makan dulu nak, Kamu sedang--"
" Nanti kalau Buu lapar Buu makan. " Tidak ada lagi yang bisa di katakan Mama Regina.
Dia hanya bisa mengehela nafas nya berat menatap sendu wajah putri satu satu nya yang tengah berjalan menaiki satu persatu tangga rumah besar ini.
Mama Regina dapat melihat bagaimana kesakitan yang di rasakan Wanita yang tengah mengandung itu.
__ADS_1
...❤️❤️❤️...