
" Embun, Ayo makan dulu..." Daniel terus mengetuk pintu kamar yang di tempati Bulan.
Sudah sejak tadi Daniel menunggu Embun di meja makan, Tapi sampai saat ini Embun belum juga keluar dari kamar nya.
" Embun, Makan lah...ayo bicara . " Daniel terus mengetuk pintu kamar yang di tempati Embun nya.
" Embun..."
Ceklek...
Pintu kamar nya terbuka dan menampakan wajah sendu yang kehilangan rona wajah nya.
" Ayo makan..."
" Daniel, Sudah...jangan menyulitkan diri kamu sendiri. " Daniel menggeleng, Dia tetap menatap wajah Embun.
" Kamu yang menyulitkan diri mu sendiri Embun, Kenapa tidak datang pada ku ? Kenapa tidak datang pada ku? Kenapa memilih menerima semua kesakitan kamu ?? kenapa Embun ?" Embun tidak menjawab nya.
Daniel langsung pergi meninggalkan Embun, Embun tidak bisa di paksa jika begini terus.
" Aku tunggu di meja makan. " Terpaksa Embun mengikuti langkah Daniel menuju meja makan.
Disana sudah tersedia berbagai macam makanan, Semua lengkap, Bahkan ada juga rendang Jengkol dan semur tempe kesukaan Embun dan Daniel.
" Makan lah, Setelah ini kita akan bicara. Aku ingin memberi tahu sesuatu pada mu. " Embun menatap wajah Daniel tapi Daniel kembali menyuruh nya untuk makan terlebih dulu.
Hingga Embun menurut dan makan bersama Daniel.
Cukup lama Daniel menunggu Embun yang menghabiskan makanan nya hingga benar benar habis di makan oleh Embun.
" Jadi, Apa yang ingin kamu bicarakan ?" Tanya Embun dengan pasti.
Dia menatap wajah tampan Daniel dengan wajah datar nya yang Daniel tau wajah itu penuh dengan tekanan.
" Ini, Hubungi mereka, Mereka merindukan mu. " Daniel menyerahkan ponsel nya pada Embun dan Embun mengambil ponsel milik Daniel dan melihat nya.
Air mata Embun langsung merembes keluar dari sudut mata nya.
Apakah ini benar ? Benar benar keluarga nya ?
" Dane, --" Panggil Embun dengan Lirih.
Daniel hanya tersenyum saja.
" Hubungi mereka, Aku akan ke Atas dulu. " Embun tidak lagi sanggup berkata kata.
Air mata nya terus saja mengalir dengan deras.
__ADS_1
Dengan tangan yang bergetar, Embun menekan layar ponsel Daniel dan menghubungi keluarga nya.
" Embun...Nak...." Embun hanya bisa menutup mulut nya dengan tangan saat terdengar suara wanita yang sangat di cintai nya.
" Embun Sayang...Nak...." Tidak sanggup berkata atau menjawab, Embun hanya bisa menahan tangis nya, Dia menangis dalam diam nya.
" Embun...Cahaya Embun..."
" Ba--pak..." Suara Embun terbata bata, Dia benar benar tidak kuat saat ini.
" Ka-kamu sehat nak ?" Tanya Bapak nya Embun...
" Embun sehat Pak..."
" Setelah ini tolong jangan bilang bahwa kamu baik baik saja, Maafkan bapak yang tidak bisa melindungi kamu, Maafkan bapak nak..." Pecah isak tangis Embun
Dia tergugu dan terisak saat mendengar suara keluarga yang terdengar baik baik saja.
" Sudah dulu ya nak, Sehat sehat, Nak Daniel itu baik ke ibu dan bapak, Bahkan sejak kamu hilang kabar, Nak Daniel selalu datang membawa kabar kamu. Cepet pulang, Kami tunggu kamu dirumah. " Embun hanya bisa mengangguk dan langsung mematikan ponsel Daniel.
Sebegitu nya kah Daniel berkorban untuk nya ? Semua yang telah di lakukan nya ? Untuk keluarga nya juga ?
" Maaf, Apa melihat Daniel ?" Tanya Embun saat melihat salah satu pelayan di lantai dua rumah ini.
" Di Paviliun Nona, Sebelah kiri. " Jawab Pelayan tersebut
" Oke , Terima kasih..." Pelayan tersebut mengangguk dan Embun langsung mencari keberadaan Daniel.
" Dane..." Panggil Embun dengan lirih
Daniel berbalik, Tanpa bisa menolak atau mengelak, Embun langsung menubrukan tubuh nya ke alam dekapan hangat Daniel.
Daniel kaget, Dia syok melihat Embun menangis dan memeluk nya, Terisak dengan begitu pilu nya.
" Makasih udah selalu ada buat aku, Makasih udah mau bantu keluarga aku, Makasih Dane, ? Makasih banget. Makasih udah mau nolong perempuan hina ini--"
" Sssttt...Kamu bukan perempuan Hina, Kamu tetap cahaya embun ku. " Bukan nya berhenti menangis, Embun semakin kencang menangis.
" Kenapa Dane ? Kenapa ? Kenapa harus aku yang menerima cinta kamu ? Kenapa harus aku yang kamu pilih ? Aku gak pantes Nerima itu semua. Aku wanita yang sudah kotor Dane, Aku wanita kotor. "
" Embun cukup ! Kamu tidak kotor, Jika pun kamu kotor izinkan aku yang membersih kan nya, Ijin kan aku melakukan nya Embun. " Embun semakin menurunkan kabut di wajah nya.
Ini tida semudah yang di pikirkan Daniel, Semua nya tidak semudah itu.
Apa yang harus Embun lakukan ? Menerima Daniel atau ??
" Dane kamu gak tau siapa Wilson, Dia bukan laki laki biasa, Dia itu laki laki kejam. Dia laki laki tega Dane, Dia laki laki nekad. "
__ADS_1
" Jika dia berani menyentuh mu lagi, Dan melukai hati mu, Aku bersumpah atas nama ku sendiri, Aku akan menghancurkan nya, Hingga untuk membuka mata saja dia malu, Malu untuk melihat ke indahan Dunia ini. " Embun langsung menarik tangan nya dari kepala Daniel.
Dia menggeleng dengan kuat, Dia tidak mau Daniel terluka karena nya.
" Maaf tidak memberi tahu mu lebih dulu, Tapi aku pikir ini yang terbaik. " Daniel menyerahkan amplop coklat ke tangan Embun.
Tangan Embun sampai bergetar membaca isi amplop berlogo pengadilan Negeri di Negara mereka.
" Kamu tidak perlu datang, Orang ku yang akan mengurus semua nya. Nanti kita akan kirimkan bukti tentang kamu lewat Telepon saja. "
" Dane..." Panggil Embun lagi.
" Semoga ini yang terbaik untuk kamu. " Embun mengangguk.
Sementara di Kota Wina, Pria yang bernama Wilson menggeram tertahan, Emosi nya benar benar sudah berada di ambang batas nya.
Embun entah lari kemana ! Dia tidak membawa dompet dan ponsel, Hanya beberapa gepok unag Dollar milik nya.
Dan emosi nya tambah memuncak saat anak buah nya mengatakan bahwa keluarga Embun tidak lagi tinggal di rumah mereka.
Bahkan juga Audrey yang menjadi sasaran empuk untuk menekan Embun kini tengah mengajukan cuti panjang.
Hak itu semakin menyulut emosi Wilson saat ini.
" Aaahhh...Embun !!! Jika aku tidak bisa memiliki mu, Maka orang lain tidak akan ku biarkan memiliki mu, walau hanya sehelai rambut mu saja. !" Geram nya lagi.
" Apa lagi ??? Jangan mengganggu ku !!!" Teriak nya marah.
Tanpa melihat siapa tamu yang datang ke ruangan kerja nya.
" Katakan pada Papa apa ini ?" Wilson langsung melihat siapa tamu yang datang .
Dan betapa terkejut nya Wilson saat melihat Papa nya membawa amplop besar berlogokan pengadilan Negeri.
" Katakan apa ini ?" Emosi Papa nya sudah memuncak saat mendapatkan surat itu dirumah nya.
Dan sejak itu juga dia langsung berangkat ke Wina.
Plak !!!
" Apa yang sudah kau lakukan dengan embun ?? Dia wanita baik baik ! Wanita berhati sesuci embun pagi seperti nama nya. Dan kau ? Kalau malah membuang permata demi kerikil jalanan ? Dimana otak mu hah ?" Wilson hanya bisa diam saja saat papa nya menampar pipi nya.
Bahkan kepala nya juga di tunjuk dengan sangat kasar.
" Cari Dimana Embun, aku beri waktu satu Minggu, Jika kau tidak bisa menemukan nya, Bersiaplah untuk kehilangan segala nya. " Papa nya langsung keluar dari ruangan Wilson.
Dan dia hanya bisa menggeram marah terhadap wanita baik hati itu...
__ADS_1
" Aku akan memberi mu pelajaran yang setimpal Embun. Aku pastikan itu. " Gumam nya emosi sambil meremmas surat gugatan cerai dari Embun.
...❄️❄️❄️...