Istri Simpanan Tuan Jeremy

Istri Simpanan Tuan Jeremy
Kebencian


__ADS_3

Hati hati Bulan sangat berat di lalui nya setiap hari nya.


Kebencian Ello pada nya membuat nya seakan sulit untuk bernafas.


Apalagi semenjak Hadir nya Alesya, Yang semakin hari semakin gencar bersama Ello, dan Ello seakan menyambut nya.


" Buu, Menurut kamu aku pake baju apa buat dinner sama Ello ? Eh, walau gak sama Ello doang sih, Kan acara From Night. " Alesya terus berceloteh.


Sementara Bulan, Dia merasa sakit di perut nya semakin menjadi karena Parfume Alesya, tapi dia tidak berani bilang bahwa Bulan merasa mual dengan Parfume nya.


" Hey, Buu, Kamu kenapa ? Kok pucat gitu ? kita kerumah sakit ya ? Aku antar. " Alesya sudah hendak membantu nya, Namun Bulan mencegah nya.


Dia tidak ingin siapa pun mengetahui kehamilan nya.


" Gak perlu, A-aku bisa sendiri..." Bulan bangkit dari kursi nya dan berjalan pelan pelan menuju mobil nya.


Saat ini, Kehamilan nya sudah memasuki bulan ke 5 dan sebentar lagi dia akan mengambil cuti kuliah nya.


Dia tidak ingin semua orang mengetahui kehamilan nya nanti.


Terlebih lagi Ello, Pelan pelan Bulan berjalan sambil berpegangan tembok tembok kampus sampai saat tiba di dekat lorong ujung, Bulan hampir terjatuh.


Mungkin jika tidak ada tangan besar yang menopang tubuh nya Bulan sudah tersungkur ke lantai.


Parfume ini, Aroma tubuh ini sangat di rindukan nya. Boleh kan dia memeluk Tubuh kekar ini.


" Ma-maaf, A-aku bisa sendiri. "


" Ya, Memang ! Kau harus bisa sendiri menghadapi hari mu, Karena kau telah menghancurkan hari hari orang lain. "


Deg !


Bulan memejamkan kedua mata nya saat suara dingin itu seakan menembus benteng pertahanan diri nya.


Bahkan kata demi kata yang keluar dari mulut Pria yang sangat di cintai nya itu seakan menusuk jantung dan hati nya.


" Ma-maaf, Permisi..." Bulan kembali melanjutkan langkah dengan tertatih melewati Ello.


Sementara Ello, Dia masih menatap tubuh mungil yang sekarang semakin berisi itu.


Entah lah, Apa yang di rasakan Ello tadi saat dia membantu Buu nya yang hampir terjatuh ?


Seakan ada rasa yang mendorong nya untuk tidak melepaskan Bulan.


Namun rasa sakit hati dan benci nya membuat Ello kembali muncul sebagai Pria dingin.


" El, Kamu ngapain ?" Tanya Alesya saat melihat Ello.


Sementara Bulan, Dia terus berjalan tertatih sambil terus memegang perut nya yang semakin menjadi sakit nya.

__ADS_1


Perut bagian bawah nya terasa sangat keram dan kamu.


Sakit, Tapi Bulan harus kuat menahan nya hingga dia bisa sampai di mobil nya.


Dimana sang supir sudah menunggu nya di sana.


" Aneh banget sih Bulan, Kayak orang hamil aja. Makan nya banyak banget. Sering minum susu juga, heran deh. Kemarin juga dia makan Salad buah sampek 3 box. "


Deg !


Hamil ?


Ello tidak salah dengar kan ?


Apa yang Alesya katakan tadi ? Bulan seperti orang hamil ?


" Hamil ?" Tanya Ello penasaran .


Alesya hanya mengangguk.


" Iya beneran. Bahkan dia sering mual mual gitu. Terus ngapain coba, Pake baju besar besar gitu, Pake Hoodie besar lagi ? Kayak nutupi sesuatu gitu. " Alesya semakin memberikan penjelasan tentang kecurigaan nya.


Sementara Ello, Dia masih mencerna dan memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Alesya, Wanita yang beberapa bulan ini dekat dengan nya.


Lebih tepat nya mendekati nya, Karena Ello tidak merasa dekat dengan wanita mana pun setelah hati nya di matikan oleh seorang Wanita yang bersama Rembulan Sanjaya.


" Gak nyangka sih gue, Polos begitu liar juga. Tapi gak salah sih, Negara bebas juga. Lagian Barang barang dia branded semua, jadi mungkin--"


Ada apa ini ? Apa yang salah dari kata kata nya ?


Kenapa kesan nya Ello merasa tersinggung disini ?


" El, Kok kamu marah ? Aku kan cuma--"


" Stop ! Gue gak suka liat orang ikut campur urusan orang lain. Liat diri lo sendiri. udah bener atau belum. " Ello langsung pergi meninggalkan Alesya yang masih mematung memikirkan setiap ucapan Ello.


" Kok dia yang marah ? Aneh..." Alesya langsung mengendikan kedua bahu nya.


Ello ? Dia langsung berjalan menuju parkiran, Mencari dimana wanita bernama Rembulan Sanjaya itu, Dia harus memastikan nya sendiri.


Bahwa apa yang di katakan Alesya tadi benar atau tidak, jika memang Bulan hamil, Kenapa dia tega pada Ello ? Kenapa dia tidak minta pertanggung jawaban dari nya ?


Kenapa memilih merasakan semua nya sendiri ?


" Buu, Lo kenapa sih ? Gue benci sama lo Buu, Gue benci. " Ello terus menggumam kan kebencian nya terhadap sosok wanita bermata bulat, Berambut panjang dan berwajah sendu nya.


" Rembulan Sanjaya...Gue benci elo !!!!" Teriak Ello di Parkiran saat tidak mendapati lagi mobil yang biasa di pakai untuk pulang dan pergi nya wanita bernama Bulan.


" Gue benci elo Buu, Gue benci elo .." Ello mengusap kasar wajah nya saat merasakan begitu Frustasi dengan semua yang di hadapi nya saat ini.

__ADS_1


Kenapa Tuhan memberikan Jalan berliku begini pada mereka ?


Apa salah nya sampai harus merasakan ini semua ?


" Aauhhh...." Ello meringis tertahan saat merasakan perut nya seperti di remas, bahkan rasa nya perut nya terasa sangat kram.


Keringat dingin mulai keluar dari pelipis Ello, Dia semakin merasakan sakit yabg semakin menjadi di perut nya.


" Apa lambung gue kambuh ? Tapi gue hanya minum Vodca kemaren. " Lirih Ello.


Akhir nya dia menghubungi Asisten nya di bengkel untuk menjemput nya menggunakan mobil dan membawa teman untuk membawa motor nya.


" Tenang nak, Kita akan baik baik saja, tenang oke, Mimi akan selalu bersama kalian, Mimi sayang kalian nak, Mimi sayang kalian. " Bulan terus mengelus perut besar nya untuk terus menenangkan calon ketiga anak nya.


Dan hari ini juga adalah hari terakhir Bulan kuliah, Dia berhenti kuliah dengan alasan akan pindah...


Dia sudah memastikan untuk berhenti kuliah saja.


Dia juga sudah memutuskan untuk pergi dari Negara ini.


Dia ingin tinggal dirumah Oma nya yang ada di Swiss.


Dia akan kembali tinggal di Daerah pengunungan di Swiss yang terkenal dengan udara bersih nya.


Setelah berhasil menenangkan ketiga anak nya, Bulan meminta berhenti di sebuah Toko Kue.


Dia menginginkan Strawberri Cake dengan coklat hangat.


Kembali kerumah dengan perut yang sudah terisi penuh, Bulan kembali di hadang Mami dan Papi nya.


Namun seperti biasa nya, Bulan tidak terlalu banyak berinteraksi dengan keluarga nya lagi.


" Sayang, Makan siang dulu yuk, Mami udah masak Soup iga kesukaan kamu, Mami masak sambel Kentang balado juga, Ayo makan. " Bulan berhenti dan melihat ke arah Mami nya.


" Buu kenyang Mi, Tadi Buu udah beli Cake dan minum coklat hangat sama Pak Imam, Mami sama Papi makan aja duluan. Nanti Buu nyusul. " Terlihat Papi Sanjaya bangkit dari kursi nya saat ini.


Dia menghampiri putri kesayangan nya yang sudah menghilang dan menjauh dari mereka selama beberapa bulan ini.


" Kalau kamu tidak ingin ada Papi meja makan it's oke. Papi akan pergi. Tapi makan lah. Kamu harus makan. Karena ketiga calon cucu Papi membutuhkan gizi yang baik. " Papi Sanjaya memberanikan diri untuk mengelus perut buncit Putri kesayangan nya itu.


Bulan memejamkan kedua mata nya saat merasakan kehangatan tangan Papi nya yang membuat nya nyaman saat di elus perut nya.


" Buu mau tinggal di Gurda ! Buu mau berhenti kuliah ! Papi dan Mami gak perlu ikut Buu, Buu bisa jaga diri Buu sendiri. " Mami Regina meneteskan air mata nya.


Putri nya ini sangat tersiksa dengan semua ini mungkin.


" Gak sayang, Mami gak ijinin kamu. "


" Terserah, Buu akan tetap pergi. " Bulan langsung pergi menuju kamar nya meninggalkan Mami dan Papi nya yabg masih menatap sendu atas kepergian nya.

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2