
Maura tengah mengurung diri didalam kamar, di dalam kamar setelah kejadian tadi hingga kini iapun belum mau membuka pintu kamarnya yang ia kunci dari dalam.
Flasback On.
"Semua ini gara gara kamu, gara gara kamu anak pungut pembawa sial." Teriak Masrya seraya menarik tubuh Maura yang tengah meningis di pinggir jasad abahnya.
Maura tersentak kaget dengan apa yang Marsya katakan, apa benar karena dirinya Abah meninggal.
"Gara gara kamu, datang ke dalam keluarga ini, kamu merusak semuanya, kamu merusak hubungan Abah dengan ummik, mengambil kasih sayang Abah dari anak anaknya, kamu juga mengambil calon suami aku yang seharusnya menjadi milik ku." Teriak Marsya menggebu gebu menyalah kan kematian Abahnya pada Maura. padahal kematian Abah Husain sama sekal tidak ada hubungannya dengan Maura.
Deg.
Jantung Maura seolah berhenti berdetak. pikirannya kosong, air mata yang tadi mengalir pun kini semakin deras, perkataan Marsya menusuk hatinya, semuanya tidak benar tetapi karena tidak bisa berpikir jernih Maura pun membenarkan apa yang Marsya tuduhkan.
"Marsya, jaga bicaramu kematian Abah sama sekali tidak ada hubunganya sama Maura, Maura sama sekali tidak bersalah. " Husni mencoba menengahi dengan menghentikan Marsya agar tidak berbicara ngelantur.
"Mas, masih belain dia, jelas jelas dia penyebabnya Mas, Mas gak ingat setiap hari Abah panggil nama Maura terus dan Abah lupa sama Marysa padahal Maraya ada di sampingnya apa itu kurang bukti." Marsya masih bersi kukuh menyalah kan Maura atas kematian Abahnya.
"Pergi kamu pergi aku gak sudi melihat wajahmu, dia abahku bukan abahmu." Teriak Marsya isteris bahkan hampir pingsan jika Ani tidak menopangnya.
Husni menarik Maura keluar dari kamar Abah dan mengajaknya bicara di depan kamar Maura. Bejo pun ikut keluar juga.
Ustadz Zainal beserta istri dan anaknya pun mengikuti ketiganya, mereka penasaran dengan apa yang Marsya ucapkan tadi jika Maura mengambil tempat Marsya agar bisa menjadi istrinya.
"Siti..." Belum sempat Husni berbicara Ustadz Zainal telah memotongnya.
"Nak Husni apa benar yang di katakan Marsya jika Siti bukan anak kandung Abah dan Ummi, lalu apa benar jika seharusnya Marsya lah yang menjadi istri bejo bukan Siti?" tanya Ustadz Zainal yang penasan dan ingin kejelasan.
"Ah itu, begini saya bisa jelaskan nanti, saya mau berbicara dengan Siti dulu Ustadz tidak papa."
"Baiklah, silahkan." Ustadz Zainal merasa menyesal tidak bisa menahan rasa penasaran nya hingga sepertinya malah memperburuk keadaan.
__ADS_1
dalam hati ustadz Zainal ia terus beristigfar, karena kesalahanya itu.
"Siti, maafkan Mas ya, terpaksa mengluarkan kamu dari sana, tapi Mas minta pengertian kamu, Marsya sedang sangat emosi, Mas Harap kamu tidak memasukkan kata katanya kedalam hati, semua itu tidak benar, bukan kamu yang menyebabkan Abah meninggal, Allah tahu itu Siti."
"Mas, aku mau lihat abah, aku mau bacain yasin buat abah disana, untuk yang terakhir kalinya Mas, Aku ingin terus berada di samping Abah." Maura masih ingin kembali ke dalam kamar Abah.
"Tolong Mas Husni ya Sit, kasihan abah kalau kamu kesana terus Marsya marah marah lagi, lebih baik kamu disini dulu ya, sama Bejo." ucap Husni lembut tetapi perkataan yang lembut itu terdengar menusuk di dalam hati Maura
"Kamu ngusir aku Mas, tega kamu Mas Husni." Maura merajuk masuk kedalam kamar serta mengunci pintunya sehingga tidak ada orang yang bisa masuk kedalam.
"Astagfirullah haladzim, bukan seperti itu maksud Mas Husni, Siti, tolong jangan seperti ini, Mas Gak pernah membeda bedakan, kamu juga sama dengan Marsya sama sama Adik Mas," ucap Husni sedikit keras agar dapat di dengar oleh Maura.
Husni menatap Ustadz Zainal juga Bejo.
"Marsya menolak perjodohan karena itu Abah meminta Siti yang menggantikannya, semua orang sudah setuju, Siti pun juga mau menerima perjodohanya, jadi tidak ada sapa yang merebut siapa, Marsya hanya sedang merasa tertekan karena kehilangan Abah, mangkanya dia berbicara melantur, saya harap Ustadz memaafkan sikap adik saya." Husni melenggang pergi kekamar abah lagi setelah menjelaskan sedikit, dan melihat kelegaan di wajah Bejo dan Ustadz Zainal beserta istri.
Flasback Off.
"Eh, Masya allah, itu ganteng banget, siapa sih itu."
"Saya denger sih menantu Abah Husain, itu suami dari anak angkatnya yang cantik itu."
"Weh, emang beda ya kalau keluarga Kiyai mantunya ganteng ganteng."
"Iya jeng, lihat mirip loh sama poster yang ada di dalam kamar anak saya, itu boyban korea."
"Ya Allah iya ya, beruntung sekali si Siti itu, sudah di rawat sampai besar di sekolahkan tinggi, nikahnya sama yang seperti ini pula. duh jadi iri."
"Eh tapi ya jeng, bukannya anak Abah Husain masih ada yang belum menikah yang perempuan kenapa ini yang di nikahkan kok malah anak angkatnya."
"Ih, gimana sih kamu ini jeng, kan lihat lihat dong meskipun anak Kiyai, tapi wajahnya gak secantik anak angkatnya ya pastilah tuh bocah ganteng milih yang cantik,"
__ADS_1
"Ah emang gak cantik ya."
"Cantik sih, tapi cantikan anak angkatanya banyak banyak."
"Hussstttt, ibu ibu ini gak tahu sikon apa, ini lagi berkabung kok malah bergosip sih, udah diam, lagi baca doa itu." Tegur salah satu ibu ibu yang kupingnya ikutan panas mendnegar pergunjinagan para ibu ibu jaman Now.
Marsya yang sedari tadi mendengarkanya pun menambah kebencian di dalam hatinya ada Maura, memang dari segi fisik Maura jauh lebih unggul dari Marsya, karena hal itu pula Marsya tidak suka pada Maura.
"Dasar ibu ibu tidak tahu diri suka menggosipkan orang lain, tidak tahu saja akulah yang menolak si Bejo itu, bukan aku yang di tolak, huh." Kesal Marsya di dalam hati.
Wajah Bejo yang tampan, sikap sopannya juga menjadi nilai plus untuknya, bahkan para ibu ibu pentakziah sangat suka menatap lama lama wajah Bejo.
mereka seperti memiliki kriteria baru untuk mendapatkan menantu.
sementara itu Jenazah sudah selesai di mandikan, di kafani serta di sholati, dan kini tinggal ritual terakhir yaitu mengantarkan jenazah pada peristirahatan terakhirnya.
Diana dan Ani terus mengetuk pintu Maura agar keluar supaya bisa ikut mengantar kepergian Abah untuk yang terakhir kali.
Namun semuanya nihil tidak ada sahutan sama sekali dari Maura.
"Biar aku yang coba bicara Dek, kak. siapa tahu dia mau keluar." Ferdy suami Ani yang memang dekat dengan Maura.
"Dek Siti, ini Bang Ferdy, buka pintunya dong, Abang mau bicara?"
Tanpa menunggu lama pintu pun terbuka lebar. terlihat wajah kusut Maura, mata yang sembab karena terus menangis, kesedihan terlihat jelas di matanya.
"Bang Ferdy, Abah Bang." Maura memeluk tubih Ferdy dengan tangisan yang memilukan.
Menyaksikan hal itu Bejo merasa hatinya tercubit sakit, karena seharusnya Maura menangis dalam pelukannya, yang notabene suami sahnya, bukan malah pada laki laki lain, meskipun dia adalah kakak iparnya, jika mengingat Maura adalah anak Angkat maka Ferdy dan Maura bukan lah ipar sesungguhnya.
tidak ingin menjadi pergunjingan, Bejo dengan perlahan menarik Maura dalam pelukanya. Ferdy yang melihat hal itupun tersadar jika adiknya itu sudah memiliki suami dan tidak sepatutnya mereka saling berpelukan di hadapannya.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, ada aku disini, percayalah semuanya akan baik baik saja, aku antar kamu cuci muka lalu kita bersma sama atar Abah ya." Bisik Bejo lembut seraya mengusab sayang punggung Maura.