
Bejo memilih pulang dan hanya memberikan tugas kepada mahasiswanya pada kelas selanjutnya.
Bogeman Rahmat yang mengenai ujung wajahnya itu mulai terasa sakit, sehingga Bejo memilih untuk pulang, agar luka lebamnya itu dapat di obati.
Sesampainya di rumah, Bibik Aisyah dan Maura pun terkejut melihat luka lebam di wajah Bejo, berbagai pertanyaan mereka berdua lontarkan membuat Bejo bingung mau menjawab yang mana dulu.
Maura mengambil es batu untuk mengompres luka Bejo, dengan pelan dan hati hati Maura mengopres luka tersebut.
"Ayo dong Mas, ngomong. ini kenapa kok bisa luka begini, siapa yang nonjok kamu, gak mungkin kan kalau luka jatuh." Maura memaksa Bejo untuk berbicara karena sedari tadi Bejo hanya diam saja membuat Maura mau pun Bibik Aisyah geregetan.
"Auh, Dek, pelan pelan dong, sakit." Keluh Bejo saat Maura sedikit menekan kompresan es batu di sudut bibir Bejo.
"Salah sendiri gak mau ngomong, cerita Mas. Ini tuh kenapa?" tanya Maura lagi masih terus berusaha sampai Bejo buka suara.
Bejo menghembuskan nafasnya kemudian ia membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi bukan mengatakan apa yang sudah terjadi melainkan. Menjawab salam dari Ustadz Zainal yang baru saja tiba.
Maura dan Bibik Aisyah memandang pada Ustadz Zainal yang langsung duduk di samping Bejo.
"Coba cerita Jo, kata Ahmat kamu bertengkar dengan Rahmat, kenapa?" tanya Ustadz Zainal membuat Maura dan Bibik Aisyah saling berpandngan.
"Oh, jadi kamu bertengkar sama Ustadz Rahmat Jo, kenapa?" tanya Bibik Aisyah yang penasaran.
Maura juga penasaran tetapi dia hanya diam saja menunggu suaminya menjawab pertanyaan Paman dan Bibiknya.
"Cuma salah paham kok, Paman, Bik.
Ustadz Rahmat itu suka sama Maura, jauh sebelum Bejo menikahinya." Jelas Bejo yang membuat Ustadz Zainal, Bibik Aisyah serta Maura sendiri terkejut.
"Serius kamu Mas?" tanya Maura yang gak percaya jika Ustdaz Rahmat menyuki dirinya.
__ADS_1
"Iya, Serius. Sebenarnya sejak pertama kali datang kesini, aku sudah diberitau darinya kalau dia menyukai santri disini, tapi aku tidak tau jika santri itu kamu, ia juga manggil kamu kan Maura, bukan Siti, Mana Mas tau kalau Maura itu kamu." Lanjut Bejo.
"Terus?" tanya Ustadz Zainal manunggu penjelasan selanjutnya.
"Ingat ustadz Rahmat yang kesini waktu aku dan Maura baru pulang dari jakarta, nah waktu itu dia melihat aku dan Siti berpelukan, aku mencari alasan agar dia tidak tau hubungan ku dengan Siti, waktu itu kan Dek Siti gak mau kalau setatus pernikahan kami go public.
Dan saat itu aku sudah tau jika Santri yang bernama Maura yang ia suka dan mau di jadikan istri, adalah Dek siti, yang sudah menjadi istri sah ku.
Ustadz Rahmat tidak terima saat mendengar kabar jika wanita yang dia sukai telah menikah dengan ku, dia juga kecewa karena aku tidak bekata jujur saat dia memergoki aku dan Maura berpelukan di rumah ini wakyu itu, dia merasa di tipu dan ditikung dari belakang." Jelas Bejo seraya melihat wajah Maura bergantian dengan wajah Ustadz Zainal dan Bibik Aisyah.
"Terus selanjutnya bagaiman, jadi dia masih marah sama kamu?" tanya Bibik Aisyah khawatir.
"Kesalah pahamanya sudah selesai kok. Bik, kami sudah saling memaafkan, karena, yah memang cuma salah paham. Jadi kami berdamai."
"Baguslah, kalau kalian udah saling memaafkan ,dan memilih jalur damai, yah memang tidak baik hanya karena Maura kalian bersitegang sampai pukul pukulan begitu." Sahut Ustadz Zainal.
Membuat Maura mmelototkan matanya, merasa jijik dengan kemanjaan Bejo yang tidak tau sikon.
Maura hanya melanjutkan mengompres dengan diam tidak mau menanggapi rengekan Bejo, dia merasa malu menanggapi di depan Paman dan Bibik.
"Ya sudah, obati lukamu. Ayo Mik, kita harus berangat sekarang." ajak Ustadz Zainal yang memang tadi sudah bilang mau mengajak Istrinya pergi.
"Iya Bi, sebentar aku ambil tas dulu di kamar." Bibik Aisyah berlalu menuju kamarnya untuk mengambil tasnya.
"Kalain mau di bawkan apa nanti kalau pulang, kayaknya Paman sama Bibik ,bakalan pulang sore, Fahri nanti ikut kami, jadi ini nanti jemput Fahri dulu dan langsung cap cus ke acara." Jelas Bibik Aisnyah.
"Gak usah Bik, gak usah repot repot, Bibik dan semuanya pulang aja dengan selamat itu sudah membuat kami senang kok."
Bibik Aisyah merasa senang mendengar jawaban Maura.
__ADS_1
"Baiklah, kita berngkat dulu ya," ucap Bibik Aisyah lalu mengucapkan salam dan langsung keluar menuju mobil di mana Ustadz Zainal sudah menunggunya.
"Aku gak nyangka Mas, ternyata Ustadz Rahmat suka sama aku, selama ini aku gak pernah tuh ketemu dia, jarang sih maksudnya, tapi kok bisa ya dia suka sama aku?" Maura berpikir hal apa yang menyebabkan Ustadz Rahmat menyukainya.
"Ck, kamu itu Dek, kamu yang gak tau aja kalau banyak laki laki yang naksir sama kamu." Kata Bejo memberitau Maura.
"Ih, dari mana kamu tau Mas, emang mereka bikang gitu sama kamu,"
"Bukan bilang tapi aku denger sendiri, di asrama putra itu ya, nama kamu yang selalu di sebut sebut sama mereka, yang katanya cantiknya alami gak neko neko, cinta kebersihan pula, istri idaman benget katanya." Terang Bejo menirukan para santri yang bergosip tentang istrinya, tentunya saat Bejo belum mengenal Maura.
"Masak sih Mas, berarti bener dong aku cantik." Maura tersenyum mencoba menggoda Bejo.
"Kalau aku tau yang mereka bicarakan itu kamu, dan waktu itu aku suda nikah sama kamu, pasti ku tampol satu satu tuh santri, berani beraninya berkhayal ingin menjadikan istriku, istri idaman mereka."
"Ye Mas, gak boleh begitu tau, ya kan mereka hanya mengtakan kalau istri idaman itu yang modelnya kayak aku, tapi bukan berarti mereka bakalan jodoh sama aku kan, buktinya aku malah jodohnya sama kamu."
"Iya, aku paham, makanya kalau dandan jangan cantik cantik ya, cantiknya kalau di depan aku aja." Pinta Bejo seraya menangkup pipi Maura.
Maura tersneyum mendengar permintaan Bejo, yang menurutnya berlebihan, karena selama ini Maura tidak pernah tuh tampil mempercantik diri, dirinya berpenampilan seperti biasanya, make up pun ala kadarnya, jadi tidak perlulah sampai Bejo memintanya jangan tampil cantik.
"Aneh, kamu Mas. Aku kan gak pernah Make up, jadi aku tuh cantiknya sudah dari sono nye," ucap Maura yang kemudian mendapat kecupan di bibirnya.
"Mas Kangen Dek, boleh ya?" tanya Bejo menjurus pada urusan ranjang.
"Mas, ini masih siang loh, bentar lagi mau dhuhur." Maura terkejut dan malu medengar pertanyaan Bejo.
"Gak papa Dek, gak ada larangan kok mau melakukan siang atau malam Dek, yah, boleh ya." Tanpa menunggu jawaban dari Maura Bejo langsung menggendong Maura menuju kamar, Maura hanya bisah pasrah di bawa oleh Bejo.
Maura tau jika dalam hati suaminya kini ada rasa kekhawatiran, apa lagi permasalahnya tentang dirinya, meski bukan kesalahanya Maura sedikit tidak enak hati, pasti ada rasa tidak terima dalam Hati Bejo mendengar maupun mengingat orang lain membicarakan istrinya, bahkan samtpi ingin memilikinya.
__ADS_1