
Bejo melongo melihat tumpukan bantal berada di tengah tengah ranjang, sementara Maura yang berada di sebelah kiri sudah meringkuk dengan selimut tebal membalut tubuhnya.
"Sebegitu tidak maunya dia ku sentuh sampai samapi semua bantal ia pakai untuk dijadikan pembatas," gumam Bejo menghela nafasnya.
Bejo mengambil satu bantal untuk yang sudah Maura persiapkan untuk dirinya, sementara Maura tidur tanpa mengenakan bantal.
Sepertinya Maura telah tidur lelap bahkan sampai tidak terganggu dengan gerakan Bejo yang memberikan bantalnya untuk Maura.
Bejo sebagai laki laki merasa dirinya tidak jentelmen jika menggunakan bantal itu sendiri, lebih baik dirinya yang tidak berbantal dibanding melihat istrinya tidak memakai bantal.
Masih tidak terpikirkan jika Maura akan melakukan hal sekonyol ini, Bejo dengan perlahan membereskan bantal guling yang menjadi pembatas antara dirinya dan istrinya itu.
dan kini malah berbaring dengan mendekap Maura dalam pelukannya. Tidak ada pergerakan dari Maura, Bejo sangat yakin jika Maura kecapekan sehingga tertidur dengan lelapnya.
"Aku kan sudah bilang, bersentuhan akan menghasilkan pahala yang banyak untuk kita, tapi kenapa kamu terus melakukan hal hal yang justru menghasilkan dosa tanpa kamu sadari," gumam Bejo yang kemudian mengecup kening Maura.
Tepat pukul setengah empat dini hari, Maura terbangun, matanya mengerjab ngerjap, untuk memulihkan kesadarannya, ia tampak tidak mengenali dengan dinding tembok yang ia lihat ini, saat BejO bergerak semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Maura.
Barulah wanita itu tersadar jika yang di lihatnya tadi bukanlah dinding melainkan kaos putih milik Bejo yang melekat pada dada bidangnya.
"Astagfirullah..." Maura membungkam bulutnya sendiri dengan tangan kananya, ia tidak menyangka jika dirinya, bisa tidur di dalam pelukan Bejo suaminya.
Padahal semalan sudah ia pasang tembok pembatas agar mereka tidak saling berplukan seperti ini.
Dengan gerakan pelan Maura mencoba melepaskan pergelangan tangan Bejo yang melingkar erat di pinggangnya.
"Duh, nih tangan berat banget sih, please bisa dong," gumam Maura yang tidak sabar untuk lepas dari pelukan Bejo.
Setelah beberapa waktu Maura berhasil melepaskan diri, dan kini tengah berdiri memandangi Bejo.
__ADS_1
"Pasti dia yang sudah merusak pambatas yang aku buat, dia cari kesempatan banget sih, tapi kalau dipikir lagi aku kan paling gak bisa kalau tidur dipeluk orang, tapi kenapa di peluk dia malah terasa nyaman ya, sapai mimpi indah pula." Batin Maura terus berpikir dengan keanehanya itu.
"Tauk lah, mandi dulu, lalu shalat malam terus bangunin dia buat shalat subuh." Maura berjalan menuju kamar mandi, di pagi hari Maura tidak akan mandi dengan durasi panjang, karena ia tidak mau sakit karena terlalu lama berandam di dalam air, lima belas menit sudah cukup untuk mengguyur tubuhnya, stelah selesai dengan ritualnya Maura keluar dengan wajah yang segar, rambutnya yang panjang bergelombang, tengah ia keringkan dengan handuk.
Terbesit ide jail dari Maura, ia mengibas kibaskan rambutnya yang masih setengah basah itu hingga air nya mengenai wajah Bejo yang masih tidur.
Merasa seperti terkena rintik hujan Bejo mengerjapkan matanya untuk melihat apa yang terjadi, Matanya terbuka lebar saat melihat bidadari di seberang tempat tidurtnya yang tengah memainkan rambutnya yang setengah basah itu.
Bejo langsung duduk tanpa mengalihkan pandanganya dari sosok bidadarinya, matanya pun juga tidak berkedip sekalipun, rasanya ia tidak mau kehilangan momen sedikitpun dari sang Bidadari yang belum menyadari bahwa Bejo telah bangun.
"Astagfirullah, kaget aku," ucap Maura sedikit keras saat mengetahui Bejo telah duduk dan menatapnya tanpa berkedip.
Bagimana Maura tahu jika Bejo sudah bangun, saat itu kan ia tengah fokus mengeringkan rambutnya, sehingga ia tidak menyadari jika Bejo telah bangun sadari tadi.
"Kamu habis mandi, Dek?" tanya Bejo yang kini turun dar ranjang dan menghampiri Maura.
"Dia kenapa sih kok aneh, kayak mau makan orang begitu wajahnya." Ada rasa takut dalah diri Maura saat menatap mata Bejo yang sepertinya ingin memakan dirinya.
"Apa dia marah ya karena aku tadi menyipratkan air kemukanya." Batin Maura lagi.
Maura yang terus mundur tanpa terasa dirinya sudah mentok ke dinding, sehingga Bejo bisa dengan mudah memandang wajah gugup Maura.
"Kenapa kamu sepertinya ketakutan sih, ada apa?" tanya Bejo yang kini telah berada tepat di depan Maura.
"Ya gimana gak takut kalau Kamunya terus maju sambil melihatku tanpa berkedip."
"Karena kamu cantik," jawab Bejo dengan membelai rambut basah Maura.
"Wangi," ucap Bejo kemudian. Yang membuat Maura mengerutkan keningnya, merasa jika Bejo terlihat seperti orang mesum yang ada di televisi itu.
__ADS_1
"Mas Aku mau sholat malam, keburu subuhnya tiba," ucap Maura mencoba kabur dari kungkungan Bejo.
karena saat ini Bejo tengah mencengkram kedua tangan Maura dan ditaruhnya di atas kepala Maura.
Bejo benar benar tidak bisa mengendalikan nafsunya saat ini, dengan tatapan mata yang mengunci dua bola mata Maura yang indah itu, Dengan lembut Bejo menempelkan bibirnya pada bibir Maura, sedikit ******* Bejo berikan, membuat Maura semakin membelalakkan matanya saat menyadar apa yang di lakukan suaminya itu.
Dengan sekuat tenaga Maura mencoba melepaskan diri tetapi tenaga Bejo lebih kuat sehingga Maura menyerah dan menerima ciuman yang cukup membuatnya melayang, tidak bisa Maura pungkiri, ciumn yang Bejo berikan mampu mengosongkan pikirannya hingga suara adzan subuh menyadarkan kembali. Dan dengan gerakan mendorong dada Bejo ciuman mereka terlepas.
Saat tadi Maura menyerah dalam melepaskan diri, ia mulai pasrah dan mulai membalas ciman Bejo dengan kaku, ini pengalaman pertama mereka, Bejo hanya menggunakan instingnya sementara Maura, melakukanya dengan meniru apa yang Bejo lakukan.
Tangan mulai melingkar di leher Bejo, sementara kedua tangan Bejo masing masing merapatkan pelukan sehingga memperdalam ciuman mereka.
"Udah subuh Mas, aku kan puasa kalau diteruskan bisa bisa aku batal puasnya." terang Maura dengan wajah yang memerah karena malu.
Bejo justru tersenyum melihat ekspreai malu Maura yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Aku yang meminta maaf, seharusnya aku menghentikanya tadi, tetapi kamu terlalu manis sehingga aku tidak dapat menghentikanya," ucap Bejo dengan mengusap bibir Maura yang basah.
"Aku juga sudah berniat puasa, kita shalat shubuh berjamaah ya, saya ambil air wudhu dulu." Bejo melangkah kan kakinya menuju kamar mandi sementara Maura masih berdiri mematung di tempatnya seraya mengnyentuh bibirnya yang habis bergulat dengan lawanya tadi.
Maura memejam kan matanya seraya mengeleng gelengkan kepalanya, rasanya ia masih tidak percaya jika baru saja ia melepas keperawanan bibirnya.
Bahkan dirinya sampai terbuai hingga tidak jadi melakukn shalat malam.
"Ya Allah, dada semakin berdebar kencang, mengingat hal tadi, diterusin gak sih ini puasaku, atau emang sudah batal, tapi katanya tadi dia juga puasa,
Tapi kan kalau aku gak bisa fokus begini, dan memikirkan hal itu, bukanya fiks batal ya." Batin Maura berdialog sendiri memikirkan nasib puasanya.
"Benar benar subuh kali ini sangat panas." Geleng Maura dengan terus mengusap dadanya.
__ADS_1