
Bejo kelabakan melihat Maura tidak sadarkan diri, ia langsung membawa Maura masuk ke dalam hotel yang sudah ia pesan tadi pagi.
Bejo meminta minyak kayu putih pada petugas hotel agar istrinya itu bisa segera sadar.
Setelah mengoleskan minyak di bawah hidung Maura, Bejo memijat mijat pelipisnya merasa pusing.
"Aduh Dek, dengar kata bulan madu aja kamu pingsan gimana kalau kita melakukan hal yang biasa orang lakukan saat bulan madu, begini amat sih punya istri polos." Bejo bergumam sendiri seraya menggelengkan kepalanya melihat reaksi Maura yang diluar ekspetasi.
Beberapa detik kemudian Maura tersadar dari pingsannya, perlahan ia membuka matanya yang silau terkena cahaya lampu di atas.
Dirinya masih menyesuaikan dengan keadaan kemudian mendudukkan tubunya di atas kasur.
Maura ingat sebelum pingsan ia pergi bersama Bejo,bangun bangun dia sudah di suguhkan dengan sesuatau yang membuat jatung melompat lompat.
Maura menelan salivanya meraba seluruh tubuhnya bahkan ia mencubit dan memukul pipinya sendiri, mengira jika ia masih dalam keadaan pingsan.
"Aduh, ini bukan mimpi?" tanya Maura setelah menepuk pipinya berulang kali agar merasakan kesadaran.
"Bukan sayang ini bukan mimpi." Sosok Bejo yang telanjang dada dengan hanya melilitkan handuk di bagian pusar hingga lututnya melangkah maju mendekati Maura.
Bejo memilih mandi dan meninggalkan Maura yang masih belum sadarkan diri itu. Tetapi saat ia keluar dari kamar mandi Maura sudah bangun dan tengah menatapnya tanpa berkedip.
Dalam hati Bejo tersenyum, melihat wajah polos istrinya yang belum pernah melihat pemandangan seperti ini.
"Kamu gak mimpi kok ini nyata," ucap Bejo seraya mengecup kening Maura yang membuat gadis itu menegang, terasa tubuhnya memanas, pipinya bersemu merah, jantungnya berdegup sangat kencang, otaknya sampai tidak bisa dibuat berpikir, apa lagi roti sobek Bejo terlihat jelas di depannya.
"Mandi dulu gih, biar seger. Gak pingsan lagi." Perintah Bejo yang kini sudah mengambil kaos berwarna putihnya.
Masih belum bisa mengusir ketegangan membuat Maura hanya diam di tempat, seolah ia menjadi patung.
Bejo menoleh pada istrinya itu, ia mengerutkan keningnya.
"Loh Dek, gak mau mandi kah?" tanya Bejo seraya menepuk pundak Maura yang otomatis Maura terjingkat kaget.
"Hah, apa Mas?" tanya Maura yang baru bisa menguasai dirinya.
"Mandi." Kata Bejo seraya tersenyum.
"Oh, iya aku mau mandi kok." Maura langsung berlari ke kamar mandi, membuat Bejo menahan tawa.
"Sangat menggemaskan," gumam Bejo yang kini tengah beralih menyisir rambutnya.
Didalam kamar mandi, Maura terus merutuki dirinya yang lemah dan oon dalam hal bulan madu.
"Gimana nih, masak beneran sih aku sama dia harus melakukan itu, dia bilang Bulan Madu aja aku udah kaget sampai pingsan, gimana kalau nanti ia minta haknya, bodohnya aku, lagian kenapa sih dia gak bilang bilang dulu, aih, mendadak banget bulan madunya.
Tapi kalau di pikir pikir mau sampai kapan aku menahan dia untuk tidak meminta haknya, bukannya dia sudah janji ya gak akan nyakitin atau hianatin aku,
Maura kamu pasti bisa, lagian dia itu suamimu, jangan biarkan dia melirik wanita lain sebab kamu tidak mau melaksanakan kewajiban mu, buat suami mu itu candu terhadap mu, hingga gadis secantik apapun tidak akan bisa menarik hatinya."
Maura mulai membersihkan dirinya, mengenakan sabun yang wangi itu ia sudah bertekat untuk menyerahkan dirinya malam ini untuk Bejo, dan tidak akan membiarkan Bejo kecewa terhadapnya. Jangan sampai pingsan lagi .
Dua puluh menit Maura keluar dengan mengenakan baju yang tadi, karena ia tidak membawa baju ganti.
Bejo yang tengah rebahan di kasur sembari memainkan ponselnya pun langsung duduk melihat istrinya yang selesai mandi.
"Kamu sudah ambil air wudhu,Dek?" tanya Bejo.
"Em, udah Mas."
"Ya sudah tunggu ya, aku ambil air wudu dulu." Bejo pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Sementara itu Maura mengenakan mukena yang ternyata sudah di siapkan oleh Bejo.
Setelah mengambil Air Wudhu Bejo langsung mengajak Maura untuk shalat isya' bersama, setelah shalat isya' Bejo mengajak Maura untuk jalan jalan di sekitar hotel.
Langit yang cerah dengan cahaya bintang bertaburan menyuguhkan keindahan alam yang jarang jarang meraka lihat.
"Duduk di taman berdua dan melihat bintang bintang, sangat membahagiakan dek, untuk ku." Kata Bejo seraya menggenggam erat jemari Maura.
"Em, sebenarnya kenapa sih Mas, kok mendadak kita bulan madunya?" tanya Maura yang kini melihat wajah Bejo, ingin ia mencari kejujuran di wajah tampan tersebut.
__ADS_1
"Em, menurut kamu ini mendadak ya, sebenarnya Aku sudah ingin mengajak mu dari pas kita masih di jakarata, tapi karena kita masih baru memulai hubugan jadi aku memberikan mu waktu." Jujur Bejo, meski belum semua alasan ia ungkapkan.
"Em, begitu ya."
"Kamu gak suka?" tanya Bejo menelisik wajah cantik Maura.
"Suka kok, kalau gitu kita ke kamar aja. Ngapain disini." Maura berdiri seraya tersenyum menatap Bejo.
Membuat Bejo terkejut tetapi kemudian tersenyum dan mengikuti Maura berdiri.
Bejo terkejut karena respon Maura berbeda dari yang tadi, yang sampai pingsan itu.
Tapi ini malah Maura yang mengajaknya masuk ke kamar, hati Bejo sangat senang sekali.
Maura yang memang sudah bertekat untuk menyerahkan Diri pada Bejo, ia berpikir tidak mau menjadi wanita yang sok sok an menolak tapi padahal aslinya mau.
Toh mereka sudah sah, dan datang ke sini memang dengan niat untuk menyatukan lebih dalam hubungan mereka.
"Oh ya Dek, tadi Bibik kasih. Titipan buat kamu, katanya sih baju tidur," ucap Bejo sebelum mereka masuk kedalam kamar.
"Em, baju tidur, kalau di hotel gak tersedia ya, Mas?" tanya Maura dengan polosnya.
"Gak ada lah dek, yang ada cuma jubah mandi ama handuk. Kalau mau gak pakai apa apa sih juga boleh aja," jawab Bejo untunh sudah berada di dalam kamar.
"Auh, kenap kok di cubit." keluh Bejo yang mendapat cubitan di perutnya.
"Mas, kamu itu kalau ngomong di filter dikit dong, meskipun ngimongnya hanya kita berdua aja, aku kan gak biasa dengerin hal hal fulgar begitu." protes Maura yang kini cemberut meski dengan wajah yang bersemu merah.
"Biar kamunya biasa dek, wajar lah kalau kita yang halal bicara begitu, asal jangan di depan teman teman kamu, mereka masih terlalu kosong." Eyel Bejo yang menolak saran dari Maura.
"Ya udahlah terserah kamu Mas, pokonya jangan ngomong fulgar kalau ada orang lain, cukup kita berdua aja, oh iya mana baju tidurnya yang dari Bibik." Pinta Maura seraya mengangkat tanganya di udara.
Bejo mengambil tas yang berisikan baju tidur dari sang Bibik kemudian di berikan pada Maura.
Maura berjalan menuju kamar mandi untuk berganti baju, sementara itu Bejo memilih salin di tempat aja toh ia hanya berganti baju dengan piama tidur yang bergambar miki mouse miliknya itu.
Sebenarnya sepasang lagi yang untuk Maura ada, tetapi karena Sang bibik sudah berpesan agar Maura pakai baju tidur darinya, Bejo membiarkan piyama tidur untuk Maura tersimpan di rumah.
Maura masih terus melongo melihat baju tidur dari Bibik Aisyah itu. Yang lebih tepatnya disebut lingeri.
"Ya Allah, ini baju apa, Bibik kok bisa sih kasih yang beginian." Batin Maura.
Maura membaca pesan yang tertulis.
"Siti sayang kenakan baju ini ya, dijamin Bejo tidak akan berpaling dari dirimu, lagi pula menyenangkan suami melalui matanya itu, termasuk pahala besar. Selamat menikmati."
"Sabar sabar sabar." Maura mengelus dadanya setelah membaca surat singkat dari sang Bibik.
"Kalau begini mah lebih baik polos aja gak usah pakai apa apa, duh pakai gak ya," gumam Maura yang bimbang hatinya.
Bejo yang merasa aneh karena Maura sangat lama di dalam kamar mandi yang hanya sekedar berganti baju saja. Langsung mengetuk pintu kamar mandi.
"Dek, masih lama kah, kamu baik baik saja kan di dalam?" tanya Bejo merasa khawatir.
"Oh, iya Mas, bentar lagi."
Beberapa saat kemudian Maura membuka pintu kamar mandi, perlahan ia menongolkan kepalanya yang ternyata sudah ada Bejo yang berdiri didepan pintu.
"Kamu kenapa sih Dek, ayo keluar jangan kelaman di dalam kamar mandi gak bagus." Bejo menarik tangan Maura untuk keluar dari kamar Mandi.
Bejo sudah membalik kan badan ketika Maura di seretnya keluar tadi, sehingga ia tampak terkejut saat mengetahui Maura hanya menggunakan baju tipis yang menampakkan lekuk tubuhnya yang indah sempurna.
Susah bagi mejo menelan air liurnya, melihat pemandngan indah dihadapanya itu. Tanpa menunggu lama Bejo segera mengucap doa dan meniup tepat di ubun ubun Maura.
Maura merasa bulu kuduknya merinding, mendapat perlakuan lembut dari Bejo.
Bejo yang seorang ustadz tentu saja sudah mempelajari kitab bagaimana tatacara menjamah istri, dengan doa dan sentuhan sentuhan lembut, membuat Maura terbuai akan sentuhan yang selama ini hanya ia dengar dari beberapa teman yang suka melihat drama korea itu.
Tanpa sadar pun tubuh Aura sudah berada di atas kasur, tentunya Bejolah yang membawanya dan kini tengah menikmati belah durennya yang sudah ia nanti nanti sejak kemarin.
suasana kamar yang dingin tidak dapat dirasakan oleh dua orang yang tengah dilanda panasnya asmara.
__ADS_1
Hingga pukul sebelas malam, Bejo menyudahi penjelejahannya di taman surga milik istrinya.
Di karenakan Maura sudah terlihat kelelahan. Lagi pula Bejo pikir masih ada waktu esok, untuk menanam benih lagi di taman milik istrinya.
"Terimakasih sayang, Aku mencintai mu, tidur yang nyenyak ya." Bejo mengecup kening Maura lembut, setelah melihat mata Maura perlahan tertutup.
Teat pukul tiga dini hari Maura menggerakkan badanya yang terasa sakit semua, ia heran tidak biasanya dirinya akan mengalami sakit hingga seluruh tubuh begini, saat membua mata, dan dirinya berada di dalm pelukan seseorang barulah Maura tersadar dengan apa yang tadi malam terjadi.
Wajah Maura merah karena malu, mengingat pergulatan panas antara dirinya dan Bejo suaminya, sungguh ia tidak menyagka tenaga Suaminya itu seolah tidak akan pernah melemah, tetapi tidak bisa Maura pungkiri jika dirinya menyukai hal itu.
dengan sengaja Maura menempelkan bibirnya pada bibir Bejo, ingin merasakan lagi bahwa semua ini bukanlah mimpi.
Saat mau melepaskan bibirnya tengkuknya ditahan oleh tangan Bejo.
Mata bejo masih tertutup, ia seolah bermimpi dicium oleh istrinya karean itu ia menahan tengkuk Maura dan mengubah ciuma tersebut dengan ciuman yang meggairahkan.
Setelah mendaat cengraman kuat dari kuku ku Maura yang menancap dalam di lenganya barulah Bejo membuka matanya dan yang tengah ia alami ini bukan sebuah mimpi, Beji tersenyum seraya berkata.
"Kamu canduku Sayang, tapi tenang kali ini hanya satu ronde saja."
Bisik Bejo di telinga Maura.
satu jam kemudian mereka sudah selesai dengan percintaan yang panas itu.
Maura mengeluh tidak kuat berdiri, Bejo yang merasa bersalah langsung menggendong Maura ke kamar mandi.
"Biar mas Bantu mandikan ya sanyang." Bejo tanpa ragu langsung memandikan Maura dengan telaten.
Maura mau menolak terapi bagian intinya sangat sakit, mau tidak mau dia harus bergantung pada suaminya.
selesai mandi Bejo mengenakan baju untuk Maura, sungguh Bejo seperti seorang Ayah yang tengah mengasuh sang anak perepuannya.
"Kamu bisa shalat dengan berdiri?" tanya Bejo ppada Maura.
"Em, aku coba dulu deh Mas, kayaknya sih bisa kalau pelan pelan." Maura berdiri perlhan kemudian rukuk juga perlahan.
"Bisa kok Mas, jadi pelan pelan ya sholatnya."
"Yakin gak sakit?" tanya Bejo yang masih khawatir.
Maura mengangguk mantap, dan yakin jika dirinya tidak kesakitan.
Seusai shalat dan Berdoa, Bejo mengecup kening Maura setelah Maura mencium punggung tanganya.
"Makasih ya, sayang sudah percaya sama Mas, Maaf karena Mas juga kamu jadi merasakan sakit."
"Mas kok bilang begitu sih, yah ini kan resiko Mas, makanya Mas gak boleh sakitin aku dengan hal yang lain, padahal berhubungan badan itu sangat nikmat tapi bagi perempuan itu sekaligus sakit yang musti di tanggung, sama halnya dengan mengandung, kalau dipikir tuh ya, perempuan banyak merasakan sakitnya loh Mas, jadi jangan ditambah lagi dengan sakit sakit yang lain ya."
"Iya Dek, mas ngerti kok maksud kamu, oh iya. Mas belum bilang ke kamu."
"Perihal Apa Mas?" tanya Maura penasaran.
"Kemarin Subuh Pakiyai meinta Abah menikah dengan putrinya yang bernama Najwa,"
"Terus?"
"Mas, tolak dong Sayang, kan Mas sudah punya istri kamu, mana mungkin Mas terima," ucap Bejo seraya terseyum melihat wajah pias Maura.
"Pakiyai pasti tanya alasan kamu Mas, kenapa menolak menikahi Kak Najwa."
"Mas udah jujur kok, kalau Mas sudah menikah, jadi Pakiyai terima lapang dada kok."
"Tapi kalau Kak Najwa mau jadi yang kedua dan terus memaksa Pakiyai buat bujuk kamu nikahin dia gimana Mas," ucap Maura degan mata yang mulai berkaca kaca.
"Hai, Dek. Jangan berpikir yang tidak tidak ya, Mas akan tetap nolak, karena dalam kamus Mas, gak akan pernah ada yang namanya poligami. Sudah ya jangan bersedih." Bejo mengusap pipi Maura dengan jari jempolnya dengan lembut.
"Jadi berita itu bener ya Mas," ucap Maura dengan isakan.
"Berita apa?" tanya Bejo bingung, karena Maura bukanya tenang malah menangis.
"Tadi pagi ada santri yang bilang kalau Kak Najwa minta di jodohin sama kamu, aku pikir itu cuma gosip, tapi beneran, terus para santri juga dukung kalau kamu nikah sama Kak Najwa, yang cantik dan lulusan S2 dari kairo." Terang Maura dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi.
__ADS_1
Bejo merengkuh tubuh Maura untuk di dekapnya.
"Pegang omongan Mas, sampai kapan pun dan dalam keadaan apapun Mas gak akan pernah melakukan poligami, biat Mas kamu satu satunya istri Mas, jadi jangan pikirkan yang lain ya, Mas sayang dan cinta sama kamu dek."