
Mereka semua masih kesulitan untuk mencari keberadaan Oma fatma saat ini, jika ingin melacak dari sambungan telpon tidak bisa, karena telpon yang di gunakan penculik tadi adalah telepon rumah.
"Pak hendra, gk naruh alat yang canggih apa gitu di tasnya Bibik Eme?" tanya Zehra berharap pikirannya tersebut benar benar ada.
Hendra menggelengkan kepalanya, dirinya juga tidak berpikir sampai sana, sehingga membuat Zehra merasa kecewa.
semuanya sedang berpikir bagaimana caranya bisa mengetahui lokasi Oma Fatma tiba tiba.
kring...
kring...
kring...
Maura sampi melemparkan ponselanya yang ada di genggamannya karena terkejut, merasa ada yang bergetar di tangan nya.
Untungnya Bejo tanggap dan langsung menangkap ponsel yang melayang di hadapannya.
"Alhamdulillah, ketangkep." girang Maura melihat Bejo berahasil menangkap ponselnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Dek, sampai ponsel di lepar lempar begitu." tanya Bejo heran, sebelum sebelumnya tidak pernah Maura bertingkah aneh seperti ini.
"Aku sangat terkejut Mas, tadi aku lagi fokus mikirin cara buat bisa nemuin Oma eh malah ponsel aku geter sama bersering tiba tiba kan aku jadikaget." Jelas Maura seraya mengelus ponselnya yang sudah kembali ke tangannya.
"Eh, Mas ini no baru, kirim Video juga nih." Maura memperlihatkan ponselnya pada Bejo.
"Ini Video Oma," ucap Bejo sehingga semua orang yang ada di sampingnya menatapnya.
"Kita bisa lacak, nomor ponsel tersebut meskipun sudah tidak aktif sekarang tetap bisa melihat titik terakhir nomor tersebut digunakan." Terang Mahendra yang langsung memasukkan nomor tersebut ke ponselnya dan menyerahkan pada pihak pelacak.
tak berselang lama ponsel Maura berbunyi lagi dari nomor yang sama.
Bejo mengaktifkan mode lospiker, agar dirinya dan Mahendra pun bisa ikut mendengarkan pembicaraan Zehra dan si pencilik.
Bejo langsung memberikan kode pada Maura untuk bersuara.
"Hay kamu siapa?" tanya Maura memancing Si penculik untuk bersuara.
"Aku siapa itu tidak penting, yang terpenting sekarang kau sudah melihat nenek mu kan, dia benar benar ada di tanganku, kalau kau macam macam, dan melaporkan kami kepolisi, maka nyawa nenekmu akan melayang." ancam si penculik tersebut.
__ADS_1
"Dasar penculik jelek, udah terlambat kali, kalau mau mengancam mah seharusnya dari tadi, sekarang polisi juga audah menemukan posimu," gerutu Maura dalam hati.
"Hem, lalu maumu apa?" tanya Maura terus memancing agar tau niat si penculik yang sesungguhnya.
"Kirimkan uang sebesar sepuluh milyar, dan bawa uangnya di gedung tua pinggir kota, aku beri kalian waktu 24 jam dari sekarang, lebih dari itu kalian akan melihat mayat nenek tua ini. hahaha. " Setelah menjelaskan apa yang harus di lakukan oleh Maura si penculik tersebut langsung mematikan ponselnya.
"Sepuluh milyar, kita dapat uang dari mana Mas, hiks hiks, 100 juta aja aku belum pernah lihat apa lagi 10 milyar, enak banget sih jadi penculik, tinggal mintak minta doang." Gerutu Maura seraya menangis memikirkan uang dari mana mereka bisa mendapatkanya sebnyak itu.
"Tapi tunggu, kita semua kan mengira jika Oma di culik oleh Rifan, tapi kenapa mereka minta tebusan, harusnya kalau anak buah Rifan, yang seharusnya di minta kan surat pengalihan ahli waris." Ungkap Bejo yang diangguki oleh Mahendra.
.
"Tandanya, ini bukan perbuatan Den Rifan tapi penculik lain." Duga Mahendra.
sementara itu Rifan tengah menghajar anak buahnya yang membiarkan Omanya dan pelayan setia si Eme kabur.
"Cepat cari mereka bagaimanapun caranya kalian harus menemukannya secepatnya." Perintah Rifan dengan penuh emosi pada anak buah nya yang lain.
Ternyata awalnya anak buah Rifan yang menculik Oma fatma dan Eme, tetapi di tengah perjalanan Eme berhasil mengecoh mereka dan berhasil kabir, tetapi naasnya, mereka malah bertemu dengan penculik lain.
__ADS_1