
Maura sangat ketakutan melihat semua santri mendatanginya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Heh, jadi kamu menggoda Ustadz Bejo ya, dasar wanita murahan, kamu itu gak pantes jadi istrinya Ustadz Bejo," ucap Lala dengan nada yang tinggi mengompori semua santri yang ada di situ.
"Iya, bilangnya aja, gak mau sama ustadz Bejo taunya, nusuk dari belakang," sambung Anggi yang juga menatap tajam pada Maura.
"Ck, masih bagusan Kak Najwa kemana mana, tau gak sih," ucap Tutik yang memang lebih suka Ustadz Bejo bersama Najwa.
"Iya, Betul." sambung yang lainya.
Maura terasa terpojokkan dengan situasi, dirinya tidak menyangka jika dengan terbongkarnya setatus hubunganya dengan Ustadz Bejo akan separah ini, meski sudah membayangkan sebelumnya tapi tetap saja sangat mengerikan melihat pandangan para santri yang melotot pada dirinya.
Sebuah air berbau busuk telah membasahi tubuh Maura, Amel dan Nada terus memberontak, karena saat ini mereka berdua tengah di cekal oleh beberapa santri agar tidak bisa membantu Maura, semua santri tau jika Amel dan Nada itu sahabat Maura.
Telur, tepung, dan beberpa hal yang lain sudah menjadi hiasan di seluruh tubuh Maura, tanpa terasa Maura menangis, dirinya tidak mau berbuat atau menjelaskan apapun, toh semuanya percuma, di mata para teman satu asramanya, dirinya adalah wanita yang tidak pantas untuk lalaki setampan dan sesholeh Ustadz Bejo, yang mereka damba dambakan.
Ini memang sudah keterlaluan, tetapi apalah daya, sebuah kekecewaan telah membutakan hati dan pikiran mereka.
Tiba tiba ada suara seseorang yang mengagetkan semua santri.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Kak Najwa, kita lagi kasih pelajaran, pada gadis munafik dan pembohong ini kak, di juga sudah merebut ustadz Bejo dari kita semua, bahkan dari Kakak." Lala mencoba untuk memprovokasi Najwa.
Najwa dengan wajah yang tidak suka maju mendekati Maura.
"Kalian pikir, dengan begini Ustadz Bejo akan menyukai kalain, dasar gak punya otak, dengan perbuatan seperti ini, ustadz Bejo malah akan semakin benci dan tidak suka pada kalian. Ini keterlaluan." Bentak Najwa membuat semu santri kaget bahkan Maura pun sama kegetnya.
Maura pikir Najwa akan menambahi perundungan dirinya, tetapi kenyataanya Maura salah sangka.
__ADS_1
"Aku akan adukan sama Abah, semua yng menyaksikan peristiwa ini, harus mendapat hukuman. Tidak terkecuali." Jelas Najwa yang menambah kekagetan para santri.
"Kak Najwa, kita ini ngebelain kakak, Ustadz Bejo itu gak pantes bersanding sama dia, pantesnya tuh sama Kakak," ucap Tutik yang langsung mendapat tatapan tajam dari Najwa.
"Jangan bawa bawa nama ku atas pembenaran perbuatan terkutuk kalian, Aku akui kalau aku tertarik pada ustadz Bejo, bahkan aku ingin sekali menjadi istrinya, sampai sampai aku bilang pada Abah jika aku mau menjadi yang keberapapun, tapi aku tidak bodoh ya, setelah mendapatkan penolakan pertama, aku malah semakin menguji ustadz yang begitu populer dan di kagumi semua santri itu. Apa kalian pikir aku akan buta begitu saja. Ck. Aku ini sudah lulus S2 dari Cairo, jadi jangan samakan aku dengan kalian yang sukanya berpikir buruk pada orang lain. Jadi Stop menyangkut pautkan aku dalam masalah ini." Jelas Najwa yang membuat semua santri menunduk ketakutan.
"Heh, kalian lepasin mereka," ucap Najwa pada santri yang mencekal Amel dan Nada.
Amel dan Nada langsung menghambur pada Maura yang penampilanya sudah tidak karuan.
"Kalian berdua bantu Maura bersih bersih, dan juga membereskan barangnya, Ustadz Bejo mau membawanya pulang, aku akan sampaikan pada Abah dan Ummi jika Maura tengah beraip siap." Setelah berkata Najwa langsung pergi meninggalkan tempat.
Sementara itu Maura dengan di bantu Amel dan Nada pergi ke kamar mandi untuk membersihkn diri.
"Alhamdulillah Mel, Kak Najwa datang, kalau gak aku gak tau gimana nasib Maura." Nada berbicara dengan wajah kelegaan.
"Iya, Alhamdulillah, untung aja Kak Najwa datang tepat waktu, aku pikir tadi Kak Najwa bakalan ngapa ngapain Maura, untungnya Kak Nakwa masih bisa berpikir rasional, dan tidak terbawa perasaan." Sambung Amel.
"Ok Bos." Nada dengan tangan di taruh di pelipisnya seperti orang yang memberi hormat.
Amel pergi ke kamar untuk mengambilkan baju ganti untuk Maura, dia juga membereskan baju baju Maura untuk di bawa pulang, Amel sudah tidak tahan lagi jika Maura terus lama lama di asrama maka pasti hal seperti tadi tidak mungkin tidak terjadi lagi.
Maura pergi dari asrama itu lebih baik bagi Amel.
Setelah beres dengan barang Maura, Amel pergi ke kamar mandi untuk memberikan baju ganti pada Maura, yang ternyata baru selesai juga, setelah mengenakan baju ganti Maura keluar dari kamar mandi dengan mata yang memerah.
Amel dan Nada Tau jika Maura pasti menagis di dalam kamar mandi, sehingga begitu lama waktu yang ia butuhkan untuk membersihkan diri.
"Sudah, jangan dipikirkan, Kamu gak salah kok, mereka aja yang keterlaluan. Hem." Amel mengatkan Maura yang mendapat anggukan dari Amura.
__ADS_1
"Senyum dong, mana Maura yang jutek seperti biasanya." Kata Nada seraya tersenyum.
Maura memberikan senyuman pada kedua sahabatnya itu meski dengan terpaksa ia lakukan, tetapi dengan keterpaksaan itu Maura bertekat jika ini hanyalah permulaan ujian pernikahanya, ia harus kuat, dan tidak boleh putus asa.
Biarkan orang lain mengatakan jika dirinya tidak pantas untuk Bejo, tetapi ia tahu tuhan sudah merencanakan kehudupan yang indah untuknya bersama laki laki yang tuhan takdirkan untuk mendampingi dirinya seumur hidup itu.
Sesampainya di kamar, Mata tajam menyorot pada Maura, Nada dan juga Amel.
Tapi mereka bertiga tidak menghiraukan tatapan tajam itu, toh mereka tau tidak ada yang salah dari perbuatannya.
Maura malah tersenyum seraya berkata.
"Makasih, pasti kalain ya yang beresin barang ku?" tanya Maura.
"Hehehe, tau aja Ra, ya kan kita kepengen kamu segera bertemu dengan Ustadz Suami mu, dari pada lama lama disini, banyak nenek lampir yang pasti buat kamu gak nyaman." Sindir Amel dengan berani.
"Hus, Amel, kalau ngomong suka benar deh, ck. Aku jadi takut nih." Sahut Nada yang kemudian tertawa membut para santri lainya semakin bermuka masam.
Meraka hanya bisa diam mendapat sindiran dari Amel, karena ternyata mereka masih punya rasa takut akan tambahan hukuman jika berbuat keributan lagi.
Sementara itu Najwa yang sudah mengatakan pada Bejo perihal Maura yang masih bersiap siap mengemasi Barangnya kini iapun berniat menjemput Maura karean Najwa rasa waktu sudah cukup lama, masak berberesnya masih belum selesai.
Kini Maura sudah berada di ruang tau bersama Najwa dan Bejo serta yang lainnya.
"Ra, Aku minta Maaf ya, karena aku, kamu jadi dapat perlakuan buruk dari anak anak, jujur aku ingin menjadi istri dari Ustadz Bejo, tapi aku masih punya perasaan kok, benar kata Ummi bahwa poligami itu tidak semudah kita mengucapkanya, mungkin kemarin aku hanya sedang terbawa emosi saja, dan itu hanya keinginan sesaat kok, jadi aku harap kamu mau memaafkan aku." Jelas Najwa mengungkap kan perasaanya.
Semua orang yang ada di ruang tamu merasa lega mendnegar apa yang Najwa katakan, Apa lagi Pak Kiyai dan Bunyai begitu terharu mendengar pengakuan Sang putri yang di luar duagaan, mengingat gadis itu sangat lah keras kepala.
"Aku udah maafkan Kok Kak, terimaksih ya, tadi udah nolongin aku, aku gak tau akan bagaimana diri ku kalau kakak gak datang." Maura memeluk Najwa dengan tulus begitu pula dengan Najwa yang membalas dengan ketulusan.
__ADS_1
Bejo dan yang lainya mengerutkan keningnya merasa ada sesuatu yang terjadi, jika tidak kenapa Maura berterimakasih atas pertolongan Najwa.
Apa yang sudah Najwa lakukan, pikir Bejo.