Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Cium


__ADS_3

"Eh, Kok barang barang ku di masukin sini sih, kan aku mau langsung ke asrama." tukas Maura seraya menatap heran pada Bejo.


"Kamu mau sekarang balik ke asramanya, katanya gak mau ada orang yang tau kalau kita menikah, balik di siang bolong begini ya pasti di lihat orang lah Dek,"


"Em, iya juga sih, tapi barang ku biarkan di luar aja, biar nanti gak repot repot bawa ke luar lagi."


"Sudah biarkan aja disini, nanti habis isya' aku antar kamu ke asrama." Tawar bejo yang kini merebahkan tubuhnya pada ranjang yang biasanya memang ia tiduri.


"Eh, kok malah ikut antar, gak bisa nanti kalau ada orang yang lihat gimana, aku gak mau kamu antar, biar aku pergi sendiri, aku bisa kok bawa sendiri semua barang ini." Maura memandangi Bejo bergantian dengan tas nya.


Barang Maura tidaklah sebanyak biasanya jika ada sang Abah, kali ini hanya Diana dan Ani yang membantu untuk menyiapkan segala kebutuhan Maura.


Biasanya sang Abah yang akan heboh jika Maura akan kembali ke pesantren hal itu yang membuat Marsya sangat kesal karena Abahnya mengbaikan dirinya.


Sekarang hanya ada satu tas Besar berisikan baju dan dua tas berisikan makanan atau cemilan, Maura berpikir jika ia mampu untuk membawanya sendiri ke Asrama tanpa bantuan dari Bejo.


"Kamu yakin bisa bawa semuanya sendiri?" tanya Bejo tanpa mengubah posisianya.


"Iya, yakin bisa, cuma segini aja." Angguk Maura mantap.


"Ya sudah istirahat dulu sekarang, kamu pasti capek habis perjalanan jauh kan." Bejo menepuk kasur di samping kanannya yang masih tersisa banyak.


Kamar yang di tempati Bejo memang berukuran lebih besar di banding kamar Maura yang hanya sepetak.


disini Kasurnya jauh lebih besar untuk bertiga pun juga muat, lemari juga besar, kamar mandinya sudah tersedia di dalam sama persis dengan kamar Marsya dan saudara Maura yang lain. beda jauh dari kamar Maura itu, Namanya juga Anak pungut, dan tidak di sukai pula begitulah nasibnya.


"kenapa malah diam aja, sini istirahat, kasurnya masih muat nih, kamu mau main bola juga bisa disini karna ini masih lebar." Bejo kini memposisikan tubuhnya miring seraya menghadap pada Maura.


Maura berjalan mendekat, lalu mengambil guling dan meletakkanya di tengah tengah kasur, sebagai pembatas anatara dirinya dan juga Bejo.


"Kenapa harus pakai guling sih, kan kita sudah halal," uacap Bejo seraya mengambil guling tersebut dan membuangnya di pojokan.


"Ih, kok di buang sih, itu untuk pembatas antara kita, aku masih belum mengizinkan kamu menyentuh ku, karena aku belum cinta sama kamu." Maura sedikit bersungut saat mengatkanya.

__ADS_1


"Duh, kamu ini ya, kenapa bawel sekali sih, tinggal tidur aja ngapain pakai pembatas pula.


Dan iya, saya tidak peduli kamu izinkan atau tidak, terserah saya kan mau menyentuh kamu tau tidak, lagi pula kamu akan dosa sendiri menolak keinginan suami, mau dosa, terus Abah kamu ikut dapat dosanya juga."


Plak...


"Auh, KDRT kamu Siti." Keluh Bejo dengan mengusap usap lenganya yang kena tabok oleh Maura.


"Salah sendiri, siapa suruh bawa bawa Abah, kamu yang dosa ya, ngancem ngancem aku pakai nama Abah, sekali aku gak mau ya gak mau." Maura keluar dengan hati yang kesal ia membanting pintu cukup keras tadi.


"Duh, salah ngomong aku, ribet sekali punya istri yang tidak cinta pada suami, mau menang sendiri." Bejo berbicara sendiri.


"Ya Buat dia jatuh cinta dong Jo." Sahut Aisyah yang sedari tadi mendnegarkan perdebatan Bejo dan Maura yang terdengar sampai luar.


"Eh Bibik," gumama Bejo seraya mendudukkan dirinya.


"Bibik masuk ya," Tanya Aisyah yang kepalanya melongok di ambang pintu.


"Siap, biar pamanmu gak kebingungan kalau cariin nanti." Aisyah perlahan masuk kedalam kamar Bejo.


"Bibik mendengar semua apa yang kami bicarakan?" Tanya Bejo.


"Iya, kedengeran sampai luar, kalian kenceng sih ngomongnya, tapi kalau paman mu gak soalnya udah tidur." Aisyah tersenyum seraya duduk si samping bejo.


"Bibik tau kok, kalau Maura itu masih belum siap jadi istri kamu, karena itu kamu harus bisa ambil hatinya.


Buat dia jatuh cinta sama kamu, dia cantik loh, sayang kalau kamu sia sia kan."


"Caranya bagaimana Bik, aku dekati aja dia gak mau."


"......."


"Ya kamu ini, masak meluluhkan hati istri gak bisa, belajar sana sama Paman mu,"

__ADS_1


"Lah gimana sih Bibi kok malah pergi, habis ngomng panjang lebar langsung pergi begitu aja," gumam Bejo yang melihat bibiknya pergi dengan senyuman yang mencurigakan.


Bejo bangkit dari tidurnya kemudian ikut keluar mencari keberadaan sang istri, yang ternyata berada di depan TV tengah melihat acara kartun.


Bejo duduk tepat di samping Maura, di raihnya remot TV yang ada di tangan Maura. Maura tidak kaget sih karena ia memang sudah tau kedatangan Bejo.


"Saya minta maaf jika perkataan saya tadi menyinggung perasaan mu, saya sama sekal tidak bermaksud menyakiti hatimu.


yah sebagai seorang suami yang ingin istrinya tidak di benci Allah, saya hanya mengingatkan jika sentuhan ku adalah ladang pahala untuk mu." Jelas Bejo seraya memandangi wajah cantik Maura.


"Aku tau, tapi jangan lagi bawa bawa Abah, aku gak suka." Satu bulir air mata berhasil jatuh dari mata Maura.


Bejo merasa sangat bersalah dan menyesal atas ucapannya yang ternayata sangat menyakiti hati Maura, ada rasa sakit juga sih saat melihat wanita yang setatusnya sudah sah menjadi istrinya itu meneteskan air mata karena ucapanya.


Dengan lembut Bejo mengusap air mata Maura kemudian tanpa di diduga Bejo mencium lenbut pipi Maura.


Deg,


Jantung keduanya pun berdegup kencang seperti lomba maraton, pipi Maura bersemu merah karena malu tidak menduga jika Bejo akan mencium dieinya, ini pertama kalinya ada yang menciumnya, terakhir kali ia mandapat ciuman di pipi itu pas lulus SD, ciuman dari sang Abah yang gemas dan bangga karena Maura menjadi murid terbaik dengan nilai tertinggi.


sudah sangat lama sekali kan dan sekarang Bejo adalah laki laki satu satunya yang menciumnya, membuat jantung Maura berdebar tak karuan


sama halnya dengan Bejo yang sepertinya melakukan hal itu tanpa sadar, ia tidak bisa mengendali kan diri melihat wajah cantik Maura serta pipi meronanya membuat Bejo mengulangi kecupannya sekali lagi.


Maura tidak marah atau mengusir Bejo, karena memang benar apa yang di katakan oleh suaminya itu, bahwa dirinya akan mendapat banyak pahala saat ikhlas mendapat sentuhan dari suaminya, sebaliknya ia akan mendapat kan dosa jika menolaknya.


Dua kali dicium Maura langsung menundukkan wajahnya seraya memegangi pipi yang di kecup oleh Bejo.


Bejo tersenyum melihat tingkah Malu Maura. "Menggemaskan," gumam Beho dalam hati.


"Weh, jos gandos nih ponakan ku, aku hanya menyuruhnya meminta maaf tapi dia gercep sampai langsung cium cium begitu. kalau begini mah, gak bakalan lama aku punya cucu." Batin Aisyah yang sedari tadi mengintip kedua ponakannya itu.


sebelum pergi Aisyah tadi meminta pada Bejo untuk meminta maaf saja, karena wanita itu sangat suka jika laki laki yang lebih dulu meminta maaf, meski mereka tidak tahu letak kesalahanya dimana.

__ADS_1


__ADS_2