Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Apel semerah kelopak mawar


__ADS_3

Sore ini, sesuai permintaan Maura, Oma Fatma membawanya ke makam kedua orang Tuannya.


Maura dan Bejo cukup terkejut dengan persiapan yang di berikan oleh Mahendra, banyak pengawal yang nengikuti mereka.


Meskipun sebenarnya Maura tidak menyukai dengan hal itu, tetapi saat mengingat terakhir kali mereka mendapat serangan saat di perjalanan, Maura pun membiarkannya.


"Padahal kita cuma mau ke makam, udah kayak Mau kunjungan presiden aja di kasih pengawalan sebnyak ini," gumam Maura yang membuat Bejo tersenyum.


"Disyukuri aja Sayang, selagi masih ada." Kata Bejo yang diangguki oleh Maura.


tepat pukul tiga tiga puluh mereka semua berangkat menuju makam, tidak memakan waktu banyak hanya sekitar dua puluh menitan mereka semua sudah sampai.


Dibantu oleh Pelayan Eme dan mahendra Oma Fatma turun dari mobil.


"Sudah berapa tahun, kita tidak berkunjung Eme." tnya Oma Fatma mencoba mengingatnya.


"Sekitar tiga tahun nyonya." Jawab Eme dengan sopan.


"Sudah lama ya, Anak anak ku pasti sangat merindukan ku." Oma Fatma memberikan kode pada Eme untuk segera mendorongnya menuju makam putra dan menantunya yang bersandingan.


Namun Maura menghentikan nya.


"Boleh aku saja yang mendorong kursi roda Oma?" tanya Maura yng tentu saja di perhotelan.


Maura dan Oma Fatma berjalan setelah Pelayan Eme, karna dia lah sang petunjuk jalan sementara itu Bejo dan Hendra berada di belakang beserrta pemgawal yang lainnya menyebar ke berbagai tempat untuk berjaga jaga.


"Disini nyonya," ucap pelayan Eme menghentikan langkahnya di sebuah makam yang terdapat bunga mawar putihnya.


"Maura lihatlah, ini Makam Papa mu, dan yang sebelah kirinya itu makam Mamamu, sedangkan yang sebelah kanannya makam Kakek mu, semuanya ada tanaman bunga Mawar putihnya, kesukaan Mamamu." Terang Oma Fatma dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Pa, Ma Kakak, ini Maura datang berkunjung bersama Oma dan Mas Bejo suami Maura, Maaf ya baru bisa datang sekarang, nanti Maura akan sering datang kok, mengunjungi kalian." Maura bersimpuh di antar makam sang Papa dan Mamanya memperkenlkan diri serta menyawa mereka.


Tak mau membuang waktu Bejo pun ikut duduk di depan Maura, dirirnya memimpin doa untuk ketiga Almarhum.


tanpa terasa air mata hau menetes dari mata tua Oma Fatma.


"Mas, cucu yang tak kau inginkan, dialah yang sebenarnya keturunan sesungguhnya Adi jaya, kau yang selalu menghinanya dan tak mengakuinya, datang dan mendoakan mu dengan sangat tulus. Aku berharap kau selalu damai di alam sana Mas." Batin Oma Fatma seraya memandang pusaran sang suami.


Setelah selsesai membaca doa, Maura menaburkan bunga di ketiga makam, dibntu oleh Bejo.


"Eh mas, ini bunga terakhir biar aku aja yang taburin," ucap Maura seraya mode menjaga keranjang bunga agar tak di sentuh oleh Bejo.


"Iya," jawab Bejo dengan lembut.


"Em, Mas. Aku pengen makan buh Apel yang warnanya merah kayak kelopak mawar ini." Maura menunjukkan satu kelopak mawar yang merahnya sangat pekat dan memberikannya pada telapak tangan Bejo.


"Ya sudah, habis ini kita mampir beli ya."


"Iya sayang," jawab Bejo dengan lembutnya, meski merasa heran karena Maura banyak permintaan Bejo tetap akan melakukannya selagi Maura yang memintanya.


Bejo memberitahukan kepada sopir untuk berhenti di salah satu toko buah jika nanti di perjalanan ada toko buah.


Karena mobil yang Maura dan Oma Fatma berbeda, Oma Fatma menyuruh sopir yang membawa Maura dan Bejo untuk jalan duluan, dengan tetap di kawal beberapa bodigard di belakngnya.


"Nah, itu ada toko buah, bisa pinggirkan mobilnya Pak," ucap Bejo yang di angguki oleh sang Sopir.


saat Bejo hendak keluar malah di cegah oleh Maura.


"Jangan di toko itu Mas, cari ditempat Lain." tukas Maura yang membuat Bejo mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kok gitu?" tanya Bejo bingung.


"Pokonya cari tempat lain Pak." perintah Maura dengan ketus.


Pak sopir pun membawa mereka ke toko lain, ada tiga toko selanjutnya pun juga sama Maura melarang Bejo untuk tirun, sehingga sedikit membuat Bejo kesal.


"Sebenarnya kena sih Sayang, kok minta ganti toko terus, Mas gak mau tau ya ini toko terakhir. udah mau magrib ini." Bejo menghembuskan nafas beratnya.


"Kok kamu Marah sih Mas, kamu gak sayang lagi ya sama aku."


"Hah, bukan begitu sayang, Mas sayang banget lah sama kamu, cuma saja."


"Ya udah jangan marah marah."


"Ya udah Mas turun, cari buah Apel yang kamu mau." Kali ini Maura tidak melarangnya dan membiarkan Bejo pergi.


"Alhamdulillah, dapet sayang, ini." Bejo memberikan apel sesuai permintaan Zehra, hanya ada tiga buah yang warnanya sama persis sepeprti kelopak bunga yang Maura tunjuk tadi, sehingga Bejo pun juga membeli ketiganya.


"Yey, makasih ya Mas, akhirnya dapet juga, ya udah yuk kita pulang," uca pi Maura dengan wajah ceria, terlihat jika Maura sangat senang mendapat apa yang ia mau.


Bejo ikut bahagia melihat kebahagiaan yang luar biasa dari Maura, padaha cuma di kasih Apel, seseneng itu si Maura.


"Sebenarnya tadi kenapa sih Sayang , kamu minta ganti toko terus?" tanya Bejo penasaran.


"Oh, karena penjaga tokonya cewek semua, aku gak suka, nanti mereka godain kamu lagi." Jawab Maura dengan jujur yang membuat Bejo melongo, bahkan sang supirpun tersenyum penuh arti.


"Cuma gara gara itu?"


"Heem," jawab Maura polos.

__ADS_1


"Hah, sabar Bejo sabar, untung sayang," gumam Bejo dalam hati menahan rasa kesalnya.


sesampainya dirumah, Merek berdua di kagetkan dengan kabar bahwa Oma Fatma di culik.


__ADS_2