Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
pulang ke rumah.


__ADS_3

Begitu sudah di nyaakan baik baik saja, Bejo meminta untuk di rujuk pulang, meskpun seharusnya dirirnya di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari.


Maira pun inginya, suaminya itu tetap dirawat terlebih dahulu sampai kondisinya benar benar pulih, tetapi karena Bejo terus meminta untuk pulang, Al hasil Maura pun menurutinya.


kini mereka sudah berada di rumah, Maura tengah membantu suaminya itu untuk rebahan di kasur.


luka yang di derita Bejo memang tidak sangat parah, tetapi cukup membuat orang meringis yang melihatnya, sebab balok yang jatuh itu telah menimpa kaki sebelah kirinya sehingga membuatnya pincang, tidak patah. hal itu harus disyukuri karena penyembuhanya akan jauh lebih cepat.


"Mas istirahat ya, jangan mikitin apa pun, pokoknya kalau mau apa apa tinggal panggil aku, aku akan siap melayani kamu sebaik mungkin." Maura berkata dengan lembut penuh kasih sayang.


"Makasih ya Dek, kamu sudah mau rawat Mas dengan sangat baik, Mas janji begitu sembuh total, Mas Kan kabulkan permintaan kamu apa pun itu." Bejo mengelus pipi lembut istrinya.


"Janji Ya Mas, begitu sembuh aku bakalan tagih janji kamu, udah gih istirahat, aku mau ke kamar mandi dulu terus nanti langsung nyusul istirahat juga."


Maura langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian untuk tidur, Maura dan Bejo mendapat izin pulang setelah isyak tadi, stelah melaksanakan shalat isyak di rumah sakit, mereka pun langsung pulang, dan kini tinggal istirahat saja.


**


di kediamannya, Rifan dengan wajah yang penuh amarah melempar sebuah fas bunga yang berada di atas meja kerjana ke dinding hingga hancur tak berbentuk.


"Berengsek, kenapa hanya pincang, kenapa tidak sekalian saja patah kakinya, atau seharusnya seklian saja dia mati, akan jaih lebih mudah bagiku untuk mendapatkan Maura jika dia tiada."


Ternyata Rifan tengah melampiaskan amarahnya, karena rencana menghabisi nyawa Bejo ternyata gagal.


Rifan memang yang merencanakan semua kejadian naas itu, dia menyuruh orang untuk membuat kayu kayu balok tersebut jatuh, dan di buat seolah hanya sebuah kecelakaan belaka.


sunghuh buruk niat Rifan ini, tetapi rencananya gagal total, membuatnya mengamuk tak jelas seperti ini.


sebenarnya entah apa yang membuat Rifan begitu ingin mrnyingkirkan Bejo, apa benar hanya karena ia telah jatuh cinta pada Maura, dan ingin memiliki seutuhnya, sehingga berbagai cara kotor pun ia lakukan.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, lihat saja nanti, akan aku buat rencana yang jauh lebih buruk dari ini, dan pasti akan berhasil." gumam Rifan dengan seringai mengerikan di wajahnya.


"Tuan, saya sudah melaksanakan semua perintah anda." Salah satu kaki tangan Rifan datang melapor.


"Bagus, aku tidak mau jika merka buka suara, ada tugas batu untuk kalian." Rifan menyuruh kaki tangnnya itu mendekat lalu membisikkan sesuatu.


"Baik tuan, saya akan segera melaksanakannya." Begitu mendapat jawaban dari anak buahnya tersebut Rifan langsung menyuruhnya pergi.


kemudian pandnganya menatap keluar jendela dimana suasana di luar begitu gelap dan hanya ada sedikit cahaya dari lampu taman yang masih dinyalakan.


***


Pagi ini Maura sangat bersrmngat untuk melayani ang suami, sedari habis subuh Maura telah sibuk dengan area dapurnya untuk membutkan sarapan.


dirinya hanya membuat nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang kesuakaan suaminya.


Pernah Bejo memaksa dirinya untuk mengincipi, tetapi Maura langsung ngacir kabur begitu melihat lelehan kuning telur di sendok yang akan isuapkan kepadanya, hingga membuat Bejo tertawa terbahak bahak melihat istrinya yang ketakutan pada sebuah kuning telur.


"Wah, sarapannya sudah ludes, obatnya juga sudah di minum, kita lanjut ketaman yu Mas, buat berjemur, lumayan banyak fitaminnya, mumpung nih pagi mataharinya sudah menampakkan diri." Ajak Maura dengan wajah yang sangat bahagia.


"Boleh kok Dek, Pasti sangat segar berada di luar pagi pagi begini." Sahut Bejo yang menyetujui ajakan Maura.


"Oke, go go go..." Maura langsung membantu Bejo untuk berjalan menggunakan tongkatnya.


"Pelan pelan aja Mas, pasti sangat sakit kan." Maura merasa ngeri melihat wajah suaminya yang terlihat kesakitan itu.


"Ya, lumayan lah Dek,"


"Harusnya tuh kemaren kita bawa aja itu kursi rodanya Mas, biar mudah kamu kalau mau kemana mana, biar gak kesakitan begini. kamu sih dibilangin ngeyel." Keluh Maura.

__ADS_1


"Mas suka behini Dek, sekalian melatih otot otot kaki biar cepet pulih, sakit sedikit mah gak papa lah, asal cepet sembuh."


"Heem, terserah kamu aja lah mas," ucap Maura yang tidak ingin berdebat di pagi buta.


sesamainya di taman mereka berdua duduk dengan senyuman yang indah, menikmati segarnya angin pagi yang menyapa.


"Alhamdulillah, dibalik musibah ada berkah, kita jadi bisa menikmati pagi yang cerah seoerti ini Mas." Maura terus menarik nafas dan mengeluarkan nya berkali kali mencoba merikesasi dan menikmatinya.


"Benar sayang, semua itu pasti ada berkahnya, asal kita bisa menyukurinya pasti berkah tersebut akan terasa."


"Betul Mas, semoga kita selalu bisa bersyukur ya, atas segala apapun ujian yang Allah berikan." Maura membelai rambut depan suaminya dengan sayang.


"Aamiin, semoga saja." Bejo tersenyum mengamini doa sang istri.


"Oh iya Mas, apa yang harus kita berikan pada Pak Rifan sebagai bentuk terimakasih kita karena sudah menolong kamu, dia mau repot repot bawa kamu ke rumah sakit," ucap Maura seraya berpikir.


"Em, Mas juga bingung, Apa ya enaknya. Biaya rumah sakit pun kita masih belum mengganti nya kan dek?"


"Bener Mas, belum. duh sampai lupa aku, gimana ya Mas, kalau aku sendiri yang menemui beliau, aku gak mau Mas, nanti malah bisa ada kesalah pahaman orang yang melihat, kalay aku ajak kamu, kan masih kayak gini, gimana kalau tunggu sampai kamu jauh lebih baik aja, kita bertamu kerumahnya, pokoknya aku gak mau kalau aku sendiri yang ngomong sama dia." Maura terus berbicara meluapkan isi pikirannya membuat Bejo tersenyum.


"Kok malah senyum aja sih Mas, ngomong dong gimana?"


"Iya, sesuai dengan apa yang kamu omongkan tadi, tunggu Mas agak baikan, satu atau dua hari lagi, kita datang kerumahnya ya, lagian Mas juga gak akan kok suruh kamu menangani masalah itu, biar Mas yang selesaikan, dia kan laki laki jadi harus Mas yang hadapi, kamu sebagai istri cukup duduk manis saja." Bejo menolek hidung mancung Maura dengan lembut.


"Oke, aku suka gaya kamu yang begitu Mas, aku gak suka ikut campur urusan laki laki, kalau gak darurat ya, hehehe."


"Iya Sayang, Mas paham kok dengan apa yang kamu Maksud." Bejo menarik Maura kedalam pelukannya.


"Lagi pula Mas gak akan pernah ngebiarin kamu, berurusan dengan laki laki lain, meskipun itu berkaitan dengan ku, aku tidak akan sanggup melihatnya, hati ini terasa sangat panas membayangkan kalian berbucara nerduaan saja." Batin Bejo yang merasa cemburu.

__ADS_1


__ADS_2