
Bejo dan Maura pulang dari rumah Ustadz Zainal setelah shalat magrib disana, Bejo mengajak Maura untuk mengunjungi pasar malam yang ada di dekat rumah, tentu saja maura menyetujuinya, ia ingat saat masih kecil dulu dirinya sering main bersama abahnya ke pasar malam.
"Kamu suka dek, arummanisnya," tanya Bejo saat melihat Maura terus memandangi Arumanis yang sudah berada di genggamannya.
"Suka Lah Mas, siapa sih yang gak suka sama camilan legit ini, terbuat dari gula asli, kayak cinta ku ke kamu yang asli tanpa kepalsuan," jawab Maura membuat Bejo tersedak es teh yang baru saja ia tenggak.
"Ya Allah Mas, kalau minum itu hati hati, berdoa dulu biar gak kesedak begini," ucap Maura seraya mengelus punggung Bejo agar lebih tenang.
"Habisanya kamu dek, bisa aja gombalnya, aku baru tau kalau kamu bisa gombal begitu,"
"Ck, itu bukan gombal Mas, mana ada gombal, aku gak bawa gombalan kok, cuma pakai gamis sama hijab aja, kalau bawa bawa gombal jadinya berat." Maura menjawab tidak sesuai dengan apa yang Bejo harapkan, tidak nyambung tepatnya.
Bukannya marah Bejo malah merasa sangat gemas melihat tingkah sok oonnya Maura, membuatnya ingin menggelitik Maura tetapi dirinya tidak bisa melakukannya mengingat ini adalah tempat umum.
Bejo dan Maura duduk dengan alas plastik sebagai tikar yang mereka beli tadi, untuk makanan Maura lebih memilih beli arum manis sedangkan Bejo lebih memilih teh hangat manis.
serta kacang rebus sebagai camilannya, Bejo maupun Maura sama sama menyukai kacang rebus sehingga Bejo dengan suka rela mengupaskan untuk Maura.
"Mas, gak kebanyakan beli kacang rebusnya? " tanya Maura yang melihat satu kantong plastik kacang rebus yang belum di buka.
"Gak sayang, ini mas Mau bawa pulang buat bik inem sama Mang ujang, tapi kalau mereka mau, kalau gak mau ya buat Mas lagi. " Cengir Bejo membuat Maura merotasi bola matanya.
Maura dan Bejo saling menikmati makanan yang mereka beli dengan mata yang mengedar kesekeliling.
"Capek gak?" tanya Bejo.
"Em, gak kok, mau keliling lagi, Hayuk." Maura langsung bangkit dari duduknya, dirinya masih sangat bersemangat untuk berjalan mengelilingi pasar malam yang cukup besar dan meriah itu.
saat sampai tadi Bejo dan Maura langsung berkeliling, dan memutuskan untuk beristirahat untuk memakan kacang rebus dan arum manis, dan kini Bejo mengajak lagi Maura untuk berkeliling karean belum semua tempat mereka datangi, mereka saling bergandengn tangan, berjalan perlahan menikmati meriahnya suasana malam, dengan banyaknya orang orang yang lalu lalang, tak beda jauh dengan mereka berdua yang ingin menikmati indahnya pasar malam.
Maura sangat senang di ajak berkeliling, sekali kali berhenti saat ada sesuatu yang menarik dimatanya, meskipun hati nya sedikit tidak suka sih, karena banyaknya mata perempuan peremapuan yang melihat pada suami nya tanpa berkedip bahkan ada yang dengan sengaja meminta foto mengira jika suaminya itu seorang artis, apa lagi anak anak remaja saling berteriak menyebut oppa, dikira Bejo itu seorang idol.
__ADS_1
"Permisi, boleh minta foto Oppa ," ucap salah satu remaja wanita dengan berani.
"Untuk apa ya? " tanya Bejo yang terlihat tidak mau untuk di ajak berfoto.
"Oppa artis kan?" tanya remaja tersebut, sedangkan teman temannya hanya diam seraya tersenyum memandangi Bejo.
"Bukan," jawab Bejo singkat.
"Penyanyi?"
"Bukan."
"Terus Apa dong, kita mau minta foto aja, masak gak boleh sih, pasti Oppa gak mau dikenali ya sama Fens fensnya makamya Oppa, bilang bukan artis ataupun penyanyi." Eyel remaja tersebut yang membuat Bejo membuang nafasnya.
sementara Maura yang sejak tadi disamping Bejo sama sekali tidak terlihat di mata para remaja tersebut, membuat Maura kesal, apa lagi mendnegar panggilan mereka yang dibuat buat itu.
"Saya memang bukan artis, ataupun penyanyi, maka dari itu saya menolak kalian untuk berfoto, kalau kalian tanya siapa saya, saya itu adalah suami dari istri saya yang sangat cantik ini, tidak kah kalian melihatnya, saya harap kalian sudah paham dengan apa yang saya jelaskan. permisi." Bejo menjelaskan siapa dirinya kemudian pergi meninggalkan para remaja yang masih mematung disana.
Lelah berkeliling apa lagi banyaknya perecokan membut Bejo menyudahi jalan jalan mereka kali ini, sehingga pukul sepuluh malam barulah mereka sampai di dalam rumh.
Bik Inem serta mang Ujang menyambut kedatangan mereka dengan senang, Apalagi saat Bejo memberikan sebungkus kacang rebus serta sekotak martabak telor membuat mereka senang.
Mang ujang pun tidak mengantuk lagi melihat makanan tersebut dan langsung meminta bik inem untuk membuatkan secangkir kopi untuk menemani makan martabak dan kacang resbus.
"Tadi kan sudah dibikinkan kopi Mang, kok sekarang minta lagi." Protes Bik Inem.
"loh ya Beda to Bik, yang tadi udah habis, mumpung ada makanan enak ya harus ada kopinya." Terang Mang ujang.
"Betul mang, memang ditemani Kopi sangat mantap." Sahut Bejo yang masih mendnegar percakapan Mang ujang dan Bik Inem.
"Tuh, Den Bejo aja setuju sama Mamang, udah bikin aja ya." Mang ujang merasa senang mendapat dukungan dari Bejo.
__ADS_1
"Oh, jadi lebih seneng nih kalau di temenin sama kopi, berarti gak senng dong ditemenin istri?" sahut maura yang juga msih mendengar percakapan Mang ujang Bik Inem dan Bejo yang ikut menyahuti di luar tadi.
"Mana ada begitu Sayang, mas lebih suka kamu yang temani Mas, Apalagi kalau di atas ranjang ," jawab Bejo seraya memainkan kedua alisnya dengan genit.
Bejo memulai memeluk tubuh istrinya dan mulai meraba raba, tetapi Maura yang masih fokus langsung menghentikan tangan Bejo dan menyuruhnya untuk ganti pkaian.
"Ganti Mas, aku gak mau kamu mita jatah ke aku tapi kamu gak mandi dulu, kita kan habis dari luar, jadi ya harus bersih bersih dulu." Maura membalik tubuh Bejo dan mengarahkannya masuk ke dalam kamar mandi.
"Tapi Mas kan udah mandi dek, kok disuruh mandi lagi, tar mas masuk angin bagaimana?" Tolak Bejo.
"Pakai air hangat dong Mas, mandinya. udah ah, sana bersih bersih dulu nanti gantian sama aku." Pinta Maura yang hendak pergi dari depan kamar mandi tetapi dicegah oleh Bejo.
"Mandi bareng aja, Sayang." Tawar Bejo yang ditatap horor oleh Maura.
"Gak mau, aku gak mau ono ono di dalam kamar mandi." tolak Maura yang langsung melepas tangannya yang di genggam Bejo kemudian menutup pintu kamar mandi.
"Maksudnya apa ono ono?" gumama Bejo yang tidak paham dengan kata kata tersebut.
Tidak mau berlama lama di kamar mandi Bejo lekas mebuka baju nya dan membersihkan diri.
Sementara itu Maura yang sedang mau mengambil baju tidur miliknya serta Baju tidur Bejo pun terhenti saat pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Oh, Bik Inem, ada apa Bik?" tanya Maura begitu ia telah membuak pintu kamarnya.
"Em, ini Non, tadi sore ada undangan dari tetangga baru depan rumah, katanya mau ada tasyakuran dan Nona serta Den Bejo di undang, ini, maaf saya mengganggu, saya takut lupa kalau kasihnya besok, jadi bibik kasih sekarng aja." Bik Inem menyodorkan selembar undangan pada Maura yang langsung diterima oleh Maura.
"Iya gak papa, maksih ya Bik, kalau udah ngantuk istirahat Bik." Kata Maura penuh perhatian.
"Iya Non, saya kembali ke kamar kalau begitu," ucap Bik inem lantas pergi dari depan kamar Maura.
Maura hanya membolak balikkan undangan tersebut, dan saat mau membukanya Bejo telah keluar dari kamar mandi, dan Maura memilih menaruh undangan tersebut di atas meja, dan dirinya bergegas masuk ke kamar mandi tidak lupa membawa baju ganti.
__ADS_1