Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Kena Bogem


__ADS_3

Sementara itu Maura tengah kesal di dalam kamar karena di tinggal begitu saja oleh Bejo.


Maura sama sekali tidak tau jika Bejo pergi keluar membuatkannya susu, agar dirinya merasa lebih baik dan depat pulih kenbali.


Sesampainya Bejo di kamar, ia tersenyum manis dengan tangan yang membawa nampan berisikan susu dan gorengan pisang.


Maura menatap Bejo yang membawa segelas susu dan gorengan.


"Maaf ya, Mas tinggalin kamu, ini susu buat kamu biar cepet pulih, habisin Sayang," ucap Bejo seraya memberikan segelas susu buatannya sendiri.


Rasa kesal Maura langsung hilang begitu tau jika Bejo membuatkan susu untuknya, dirinya sudah salah paham tadi, dikira Bejo pergi karena malas mennggapi dirinya yang tengah menggerutu.


Dengan senyuman yang sekilas, Maura menerima segelas susu tersebut kemudian meminumnya dengan sekali tenggak.


"Wah, enak ya Dek, sampai langsung habis begitu?" tanya Bejo yang merasa senang melihat Maura menghabisakan susu buatan dirinya.


"Iya, Mas. Enak kok, makasih ya." Maura kini melirik pada gorengan pisang yang sepertinya sangat lezat itu.


Bejo mengikuti arah lirikan Maura langsung mengambilkan satu potong gorengan pisang itu lalu menyuapkan pada Maura.


"Buat ganjal perut ya, Bibik lagi masak. Jadi sementara makan ini dulu." Kata Bejo yang telaten memberikan suapan pada Maura.


"Kalau gitu aku mau bantuin bibik Mas, gak enak kalau aku gak bantuin." Maura hendak bangkit dari kasur untuk membatu Bibik Aisyah.


Namun di cegah oleh Bejo.


"Gak usah sayang, kamu istirahat aja, kamu kan masih cepek, tuh gerak aja sudah meringis kesakitan begitu kan, jadi mending kamu istirahat aja sambil menghabiskan gorengan pisang ini." Larang Bejo seraya mendudukkan Maura kembali ke atas kasur.


"Tapi mas, aku merasa gak enak, masak ada menantu perempuan dirumahnya, malah diam di kamar gak mau keluar bantu bantu sih, nanti apa kata orang Mas." Kekeh Maura yang tetap ingin membantu Bibik Aisyah.


"Iya, aku paham tapi ini kan beda keadaanya Dek, kamu gak fit banget."


"Tapi Mas.."


"Sudah gini aja, kamu tetep di kamar istirahat, biar aku yang bantuin Bibik memasak di dapur, Ok." Bejo memutuskan untuk membntu sang Bibik sebagai ganti sang istri.

__ADS_1


"Emang bisa masak Mas?" tanya Maura seakan mempertanyakan kemampuan Bejo.


"Ye, kamu jangan meremeh kan Mas dong, gini gini mas pandai loh." Kata bejo percaya diri.


"Pandai apa Mas?"


"Pandai ngerebus air."


"Buat bikin mie?"


"Bikin kopi." Kekeh Bejo yang memebuat Maura ikut tersenyum.


"Ya sudahlah sana bantuin Bibik, awas yang bener bantuinnya jangan malah bikin repot. ya," pesan Maura pada Bejo yang kini sudah mau keluar dari kmar.


"Iya, kamu istirahat ya." Maura menganggukkan kepalanya mendengar omongan Bejo.


Maura tersenyum sendiri meihat tingkah laku Bejo yang sempat sempatnya memberikannya kiss bye.


Maura merasa bersyukur, telah menikah dengan Bejo, orangnya penyabar, dan juga bisa di andalakan, sangat pengertian.


Yang terutama sangat mencintai dan menyayanginya. Terkadang kita akan jauh lebih bahagia, di saat kita mengetahui jika ada orang yang mencintai diri kita dan memperlakukan dirikita dengan baik.


"Aku gak nyangka Mas. Ternyata kamu sebaik ini, aku semakin hari semakin cinta sama kamu, semoga rumah tanggga kita selalu bahagia seperti ini ya." Doa Maura dalam hati.


Maura melanjutkan istirahatnya dengan di temani gorengan isang, sementara itu Bejo membantu Bibiknya memasak di dapur.


"Kamu ini, gak berubah ya, suka main didapur," ucap Bibik Aisyah.


"Kan aku sudah bilang Bik, bakalan jadi suami dan menantu idaman yng bisa masak." Kata Bejo membuta Bibik Aisyah tersenyum.


Pasalnya memang sedari dulu Bejo sngat suka membantu Bibiknya memasak di dapur, dia juga pernah berkata deperti itu, ingin menjadi suami dan menantu idaman yang bisa memasak, menyajikan makanan lezat di setiap pagi, siang hingga malam untuk sang istri dan anaknya.


"Iya, Alhamdulillah semuanya terwujud, ini makanan nya sudah matang semua, kamu ke kamar aja jemput istrimu, biar Bibik yang menanta semuanya di meja makan, " pinta bidik Aisyah pada Bejo yng di angguki oleh Bejo.


Bejo kembali ke kamar tetapi tidak menemukan Maura disana, tetapi terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi,

__ADS_1


"Dia pasti lagi mandi." batin Bejo yang kini memutuskan untuk membawa piring dan gelas kosong untuk di cucinya.


Kemudin ia kembali lagi dengan mendapati Maura yang sudah segar dan rapi dengan hijap biru lautnya yang menampakkan kecantikan alaminya.


"Kamu terlihat sangat menyegarkan sayang." Puji Bejo yang membuat maura tersipu malu.


"Ah, kamu ini Mas bisa aja. Aku gerah tadi Mas, jadi mandi lagi biar kelihatan lebih segeran lagi."


"Iya, ya sudah yuk kita ke depan buat sarapan udah di tunggu sama Paman dan Bibik."


"Iya, Mas." Maura meraih tanga Bejo yang terulur kearahnya.


meski jalan Maura sedikit agak pincang, tapi Maura berusaha untuk berjalan normal seperti tidak terjadi apapun tethafap dirinya.


Selesai sarapan pagi, Bejo berpamitan Untuk pergi mengajar, karena sudah cukup banyak ia absen dari kampus, Maura pun mengizinkanya pergi karena memang sudah turga suaminya untuk bekerja.


Sementara itu Maura tetap di rumah, Bejo memintanya untuk beristirahat memulihkan energinya, lagi pula kondisi di luar juga masih memanas dengan berita yang sudah beredar, dimana wanita yang menjadi istri Ustadz Bejo sudah di ketahui semua orang.


termasuk Rahmat, yang kini berjalan menuju ruangan Bejo, dengan hati yang panas, emosi yang tinggi.


Brakk


Suara pintu di buka dengan keras membuat Bejo dan Ahmad yang memang berada Di sini, pun kaget.


"Rahmat, kalau membuka pintu itu jangan keras keras, bikin kaget saja kamu ini," tegur Ahmad yang terkejut hingga jantungnya mau copot.


Rahmat sama sekali tidak menanggapi teguran dari Ahmad, dan memilih langsung menggenggam erat kerah Bejo seraya berkata.


"Brengsek kamu, Jo. Kamu penghianat, di depan kamu baik, tapin di belakang ternyata kamu itu menusuk." Rahmat berkata fetngan suara yang sangat keras.


Ahmad yang mengetahui hal itu pun langsung mencoba untuk menenangkan Rahmat dan memintanya untuk melepaskan kerah baju Bejo.


sementara itu Bejo hanya bisa memasang wajah pasrah jika Rahmat yang sudah ia anggap sebagai teman dekat ini marah padanya, memang berapa sih, tetapi takdir seolah mempermainkan mereka berdua, di kala Rahmat menceritakan sosok wanita yang di cintainya itu, Bejo sudh terlebih dahulu menghalalkan gadis itu.


"Mat, tenaga Mat, kita bisa bicarakan baik baik maslah ini, Sebenarnya maslah apa sih sampai kamu bisa semarah ini. Ayo lah ini di kampus, Tenangkan dirimu." Kata Ahmad seraya menepuk punggung Rahmat.

__ADS_1


Bukannya menurut pada nasehat Ahmad, Rahmat malah melayangkan bogemnya pada wajah Bejo sehingga membuat Bejo terpental hingga punggungnya menabrak kursi.


"Rahmat." Teriak Ahmat yang merasa ikut emosi melihat tindakan Rahmat yang sama sekali tidak mengindahkan perkataanya.


__ADS_2