Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Mengembalikan


__ADS_3

"Maaf ya Mas, aku benar benar minta maaf." Maura terus terus meminta Maaf atas apa yang telah ia lakukan.


"Lain kali langsung bilang saja Sayang, Mungkin Aku akan marah, tetapi kita bisa selesaikan masalah dengan cepat." tangan Bejo mencolek hidung Maura dengan manja.


"Iya mana mungkin bisa marah, kalau berakhir di atas ranjang," ucap Maura seraya mengedipkan matanya.


"Oh, jadi masih kurang ya Sayang," ucap Bejo yang kini siap menerkam Maura lagi.


"Ampun Mas, udah cukup kok." Tolak Maura tetapi sudah terlambat, karena Bejo sudah mengukungnya kembali.


"Kamu sudah tidak bisa kemana mana sayang, kita tambah satu ronde ya, setelah itu tidur," ucap Bejo yang kemudian mencium bibir Maura.


Ide Maura untuk meredam amarah Bejo sungguh manjur, meskipun ia harus kelelahan gegara menebus kesalahan dengan tubuhnya. Bejo yang marah, sedikit agak kasar saat bermain tadi, tetapi masih bisa Maura menikmatinya dan pagi ini, Maura merasa punggungnya mau patah.


"Ah, gak lagi deh, pakai ide itu. Di maafkan sih, Di maafkan, tapi kalau ujung ujungnya badan ku yang remuk, dgak lagi deh. kayak senjata makan tuan mah kalau begini," gumama Maura dalam hatinya.


"Neng, kenapa kok melamun?" tanya Bik inem yang tengah membantu menggoreng tempe.


"Hah, gak kok Bik. cuma merasa capek aja, bentar lagi kan mau semesteran jadi ya kudu ekstra belajarnya."


"Oh, yang semangat Neng, semoga unjiannya lulus dan mendapatkan nilai yang bagus."


"Aamiin, makasih doanya Bik," ucap Mura seraya tersenyum dan melanjutkan memotong bawang.


setelah semuanya selesai dimasak, Maura dan Bik inem menata semua hidangana di atas meja, seperti biasa, Maura selalu mengajak bik inem untuk makan bersama tetapi selalu saja juga ditolak.


Tidak mau ambil pusing akan penolakan bik inem, Maura berpikir untuk pergi ke kamarnya. memanggil sang suami untuk sarapan bersama.


Belum ada satu langkah, Suami yang hendak di panggil telah datang dengan wajah yang sangat segar.

__ADS_1


"Seneng banget kayaknya Mas?" tanya Maura yang ikut tersenyum melihat wajah bersiri sang suami.


"seneng lah Dek, setiap hari kan Mas juga selalu seneng, apa lagi selalu di sayang sama istri tercinta."


"Halah, gombal. jangan bilang mau minta sesuatu, bicara yang manis manis begitu."


"Kamu ini, bisa aja sayang, Mas kan berkata jujur, kok malah kamu bilang gombal sih,"


"Ya, kan gak biasanya kamu ngomong keyak gitu, kenapa sih?" tanya Maura heran.


"Gak ada apa apa kok, yuk kita sarapan, masakan istriku memang yang terbaik, em, udah gak sabar untuk makan ini." Bejo mengambil piring yang lebih besar, menungkan nasi, Sayur serta lauk pauknya.


seperti biasa, mereka berdua makan bersama dengan Bejo yang menyuapi Maura.


tidak memakan waktu banyak, acara makan bersama itu sudah selelsai, Maura yang meminta Agar dirinya yang memberishkan piring sisa makan mereka berdua.


"Sayang, sebelum berngkat ke kampus, Mas mau kembalikan ponsel yang di belikan tetangga baru kita, nanti kamu ambilkan ya."


Maura bergegas menuju kamar, setelah selesai mencuci piring, Terlihat Bejo tengah bersiap untuk pergi ke kampus, Maura dengan hati hati mengambil Ponsel yang memang ia simpan di dalam lemari.


"Ini Mas, Ponselnya. em mengembalikannya apa aku boleh ikut?" tanya Maura dengan hati hati.


" Gak usah, kamu tunggu di dalam mobil aja." Kata Bejo tanpa memandang Maura.


Maur paham, mungkin suaminya itu masih ada rasa kesal, meskipun sudah mengatakan jika ia telah memaafkan, tapi siapa yang tidak cemburu dan marah, jika mengetahui wanita yang kita cintai di belikan barang oleh laki laki lain.


"Ya udah aku siap siap dulu ya," ucap Maura selembut mungkin.


"Maaf Sayang, Mas gak mau emosi lagi, kalau kamu ikut, Meskipun ini hanya rasa cemburu dari mas sendiri, yang mungkin terlihat belebihan, tapi jujur Mas gak suka kamu bertemu dengan Pak Rifan, meskipun mas juga Tau, jika Pak Rifan mungkin tidak ada maksud appun terhadap mu." Batin Bejo seraya memgambil kotak yang didalamnya adalah ponsel pemberian Rifan.

__ADS_1


Beberpa waktu kemudian Maura sudah selelsai berganti pakaian dan kini dirinya sudah siap untuk nerangkat ke kampus, di carinya Bejo ternyata sudah tidak ada di kamar. Maura pun turun ke bawah untuk mencari sosok suami nya itu.


"Bik Inem, lihat Mas Bejo gak?" tanya Maura pada Bik iniem, yang kebetulan lewat.


"Oh, Den Bejo tadi keluar Neng, kayaknya mau ke rumah depan." Terang Bik inem yang langsung di mengerti oleh Maura.


"Oh, ya sudah, saya sama mas bejo mau berngkat ke kampus Bik, tolong dirumah baik baik ya, jangan lupa pintunya di kunci. "


"Siap Neng," ucap Bik Inem yang kemudian mengikuti langkah Maura.


Ternyata Mobil yang akan mereka gunakan sudah di panasi mesinnya oleh Mang ujang, Maura pun langsung masuk ke dalam, sesekali dirinya melihat ke depan berharap suaminya segera muncul.


Dua menit kemudian, terlihatlah Bejo yang berjalan ke arahnya, senyum Maura pun merekah.


"Sudah siap Sayang?" tanya Bejo yang kini tengah memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Siap dong, oh iya gimana Mas, Pak Rifan, gak marah kan kita kembalikan ponselnya." tnaya maura


"Gak kok, tadinya sih gak mau nerima, tapi Mas Paksa, jadi yah mau gak mau harus di terimaa dong." Kata Bejo seraya melajukan mobilnya.


"Syukur deh, semoga orangnya gak marah, jadi kan kita bisa bertetangga baik dengannya."


"Hem, iya. pak Rifan kan orang baik, jadi tentu saja kita akan bertetangga baik dengannya sayang," Bejo mengulas senyum saat melihat Maura mengangguk menyetujui apa yang ia katakan.


Benar Rifan memang menolak ponsel tersebut, dan mengatakan jika itu adalah hadiah darinya, tetapi Bejo tetap menolaknya, dengan alasan ponsel lama Maura masih bagus, dan Maura memilih untuk memakainya, tentu saja didepan Bejo Rifan mencoba tersenyum dan dengan ikhlas menerima kembali pemberiannya.


padahal dalam hatinya ingin rasa nya Rifan menghajar habis habisan lelaki yang dihadapannya itu, sungguh sangat sombong kira Rifan.


"Karena kau telah menunjukkan peperangan padaku, maka aku tidak akan sungkan lagi, untuk melenyapkanmu." Suara Rifan begitu dingin.

__ADS_1


dirinya benar benar kesal akan perilaku Bejo yang seolah telah menghinanya.


"Tunggu saja, aku akan membuatmu menyaksikan dari neraka, menyaksikan Maura yang menangisi jasadmu."


__ADS_2