
semenjak tertangkapnya pelaku teror itu, satu minggu ini cukup mendamaikan hati Bejo dan juga Maura.
Bejo berjanji minggu pagi ini ia akan mengantar Maura beserta keua temannya bermain di Mall, tempat faforit mereka untuk jalan jalan.
"Duh enaknya, yang udah ada suami kemana mana selalu di jagain." Sindir Amel yang merasa iri melihat Bejo selalu mengikuti kemanapun Maura pergi.
"Betul, irinya kapan aku dilamar." sahut Nada yang langsung mendapat tatapan dari semuanya.
"mang udah ada calonnya kok minta di lamar?" tanya Maira penasaran.
"Hahaha," Amel tetawa memdemgar pertanyaan Maura yang sudah jelas jaeabanya.
Nada yang ditertawakan hanya bisa memanyunkan bibinya.
"Ck, gak asik kalian, awas aja kalau tiba tiba aku dilamar, kamu bakalan gigit jari Mel." Dengus Nada yang kesal.
"iya oya Nada sumbang, aku tunggu kabarnya, sebelum itu kamu harus cari dulu yang mau sama kamu, hahaha." Amel masih saja mentertawakan nada.
lelah bercanda tawa di sela sela belanjanya, kini Maura, Bejo dan yang lainnya pindah ke kafe untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
"ternyata seru juga ya, sayang. pergi bersama teman teman kamu, gokil semua anaknya." Bisik Bejo di telinga Maura, saat di tinggal oleh Amel dan Nada yang sedang pergi ke toilet.
__ADS_1
"Memang mereka sangat seru Mas, selain itu, mereka sudah aku anggap seperti saudara sendiri, merekalah yang selalu ada disaat aku terpuruk, aku berharap mereka bisa mendapatkan jodoh yang baik juga."
"Aamiin, semoga saja," sahut Bejo seraya mengelus kepala maura yang tertutu pk hijap hijau pastel.
tidak berselang lama Amel dan Nada sudah kembali dari toilet, bersamaan dengan makanan yang mereka pesan pun juga datang.
tanpa menunggu lama, stelah berdoa mereka langsung melahap hidangan yang sangat lezat itu.
selesai makan mereka pun melanjutkan perjlanan untuk pulang, setelah mengantar Nada dan Amel ke asrama putri, Bejo dan Maura pun pulang.
sesampainya dirumah.
"Mas, gimana ini, Pak Rifannya kok susah sekali di temui, apa dia sesibuk itu ya, aku semakin gak enak Mas kalau gak segera mengembalikan uang ganti rumah sakit." Kata Maura seraya mengupas apel yang tadi ia beli.
"Aamiin,"
"Maaf sayang, Masasih belum bisa bilang sama kamu, siapa sebenarnya Rifan itu, karena Informasi yang Mas dapat masih belum lengkap. " Batin Bejo merasa sedikit bersalah pada Maura.
dua hari yang lalu, Bejo mendapat telpon dari Bastian, dan memberitahukan kepadanya jika teror yang menimpa nya itu bukan lain ulah dari Rifan, untuk alasannya pun masih belum di ketahui dengan jelas.
Bejo sangat marah mendengar hal itu, tak ingin Maura mengrtahui hal itu, Bejo memilih diam, akan saatnya nanti jika dia sudh tau siapa sebenarnya Rifan itu, maka bejo akan memberitahukan pada Maura semuanya.
__ADS_1
"Mas, Mas, Mas Bejo?" panggil Maura sampai tiga kali karena Bejo tidak kunjung menyahuti panggilannya.
"Eh, iya Sayang, ada apa?"
"Ck, kamu ini di ajakin ngomong kok malah ngelamun sendiri sih Mas, hayo mikirin apa?"
"gak mikirin apa apa, cuma lagi mengingat ingat aja, Kapan Bastian mau kerumah, aku lupa Sayang soalnya waktu dia ngomong suaranya gak jelas, kemarin itu." Bohong Bejo.
"Is, kamu itu ya tinggal telpon aja lagi, di tanyain kapan dia mau kesininya,"
"Iya, nanti Mas tanya lagi kedia."
tiba tiba mang ujang datang.
"Ada apa Mang?" tanya Bejo.
"Itu Den, ada yang nyari,"
"Siapa?" sahut Maura.
"Gak tau non, katanya mau bertemu sama Non Maura."
__ADS_1
seketika Maura dan Bejo saling tatap merasa geran dan menerka nerka siapa kira kira orang yang datang mencarinya itu.