
"Pak Hendra, bagaimana bisa Oma diculik buknkan klian sangat ketat menjaga Oma tadi?" Perotes Maura dengan air mata yang tak sungkan lagi untuk keluar.
"Maafkan saya Nona, itu memng salah kami yang terlalu lengah, ada mata mata di dalam penjagaan, tiga orang dari pengawal adalah penghianat, saya pantas mendapatkan hukuman karena itu." Terang Mahendra yang sanga mtenyesal akan kecerobohanya, bisa bisanya dirinya tak menyadari ada mata mata sebanyak itu.
"Ya, mungkin anda memng pantas untuk mendapat hukuman, tetapi masalahnya bukan itu yang terpenting sekarang, karena yang terpenting sekarang adalah kita harus bisa secepatnya menemukan Oma." Tukas Bejo seraya memeluk Zehra yang menangis di pelukannya.
"Mas, Oma diculik, ini semua gara gara aku kelamaan ya beli apelnya, makanya mereka dengan mudah bawa Oma, kenapa gak aku aja, Oma kan udah tua Mas," ucap Maura di sela tangisnya.
"Suttt, kamu ngomong apa sih sayang, penculikan Oma gak ada kaitanmya sama kamu yang beli Apel,emang si penculik nya aja yang pinter cari momen. idah jangan menyalah kan diri kami sendiri." Bejo terus berusaha menenangkan Maura yang menangis, tetapi tak juga kunjung berhenti.
"Aku mau cari Oma, Mas." eyel Zehra yang sedari tadi ingin keluar untuk mencari keberadaan Oma Fatma.
"Sayang, jangan itu bahaya, kita serahkan saja pencarian Oma pada Pak Hendra dan Polisi, kalau kamu mau cari sendiri, yang ada kamu malah ikutan diculik sayang." Tehur Bejo pada Maura.
"Tapi Mas, Aku gak bisa diam aja kayak gini, sementara Oma gak tau ada dimana. huwa.."Tangis Maura semakin lama semakin kencang, membuat Bejo bingung mengatasinya, biasanya Maura anteng anteng saja saat menghadapi masalah, sekarang kenapa malah jadi secengeng ini.
kring...
__ADS_1
kring...
kring...
Dering telpon Rumah terdengar membuat Maura terdiam seketika, bertepatan dengan Mahendra datang.
Hendra mengode Maura untuk mengangkat telponnya, sementara dirirnya menyelinap pergi keruang CCTV untuk melihat apakah masih ada mata mata didalam rumah.
"Hallo, assalamualaikum, Maura cantik ada disini," ucapnya dengan ventil secara tiba tiba dengan sambil mengusap air Matanya.
"Heh, penculik yang gak tahu diri, kamu tuh yang tua bangka, udah kelihatan tau dati suara kamu yang jelek, kalau kamu itu penculik yang Tua, yang udah Kakek kakek, bau tanah. kembalikan Oma ku." Teriak Maura yang emmbuat Bejo tertegun, Pasalnya Bejo tengah menggunakan telpon lain untuk mendengarkan percakapan mereka, eh malah mendapat kejutan amarah Maura yang menukik tajam.
"Heh, sialan. loe mau Oma loe mati sekarang." Bentak si penelpon yang terpancing emosi oleh Maura.
"Aku gak takut, lagian mana bisa kamu bunuh Oma, kalau kamu Bunuh Oma, aku yang bakalan bunuh kamu nanti, Awas aja ya, kamu tunggu aja aku bakalan nemuin kamu dan bakalan aku hajar sampai tulang kamu patah semua." Geram Maura yang lalu dengan kasar menutup Telpon.
"Kok dia lebih galak dari gue sih, gue kan penculiknya bukan dia," Batin si penculik disebrang sana yang merasa kesal dipermainkan Oleh Maura.
__ADS_1
"Kalian sudah Ambil Videonya, cepat bawa kemari." Perintah pemimpin preman yang menculik Oma fatma dan Eme.
sementara itu Mahendra telah berhasil menangkap dua mata mata yang masih ada di dalam rumah, keduanya adalah pelayan yang biasa melayani Oma Fatma.
tanpa di duga, Maura pun menjambak kedua pelayan tersebut dengan ganas, membuat Bejo kebingungan melihat tingkah Maura yang seperti kesurupan.
"Jadi kalian mata matany, sini aku colok mata kalian, biar kalian gak bisa jadi mata mata lagi, dan aku rontokin rambut kalian biar botak, ngeselin banget sih, bersekongkol dengan penjahat," Amuk Maura yang membuat kedua pelayan tersebut sangat ketakutan, karena Maura benar benar menjambak bahkan sampai mencakar cakar.
"Aduh, sayang berhenti, tolong biar Pak Hendra aja yang kaaih mereka pelajaran. anti tangan kamu sakit loh." Tegur Bejo berusaha menenangkan Maura yang sangat emosi.
"Huwa... huwa..." Tiba tiba Maura menangis yang membuat Bejo bingung, tak hanya Bejo Hendra dan yang lainnya pun juga bingung, tak terkecuali dua penghiat itu, bahkan Bejo mengira jika Maura Beneran kerasukan.
"Sayang, Huwa.." Rengekaura yang membut Bejo semakin bingung.
"Iya sayang kenapa, ada apa kok tiba tiba nangis?"
"Tangan aku sakit, semua ini gara gara dia, huwa kuku aku gak cantik lagi.. huwa..." Rengek Maura yang sungguh di luara nalar, Bejo pikir Maura menangis karena sangat khawatir atau ketakutan, tetapi ternyata karena masalah kukunya yang rusak habis digunakan mencakar dan menjambak si penghianat, sungguh Bejo dibuatnya topok jidat.
__ADS_1