
Karena Papanya tidak jadi pulang ke Indonesia Bejo membawa Maura pulang ke Surabaya, jika ia mau egois, dan tak ingat akan pekerjaanya Bejo pasti ingin tinggal lama dirumah nya itu, apa lagi hubunganya dengan Maura semakin hari semakin membaik.
"Mang, Bik, kami pamit ya, kalin hati hati dirumah kalau ada apa apa langsung aja hubungi nomor darurat lalu hubungi aku atau paman." Pesan Bejo sebelum berangkat ke bandara.
"Siap Den, Aden tidak usah khawatir yang terpenting, Aden dan Neng Maura hati hati ya di jalan." Balas Mang Ujang.
"Siap Mang." Bejo menenteng tasnya sementara kopernya Mang ujang yang akn menenteng dan ia masukkan ke dalam mobil.
Sementara itu Maura yang sudah dari tadi menunggu di dalam mobil pun tengah bertelpon dengan Diana.
"Kak, sudah dulu ya, Nanti kalau sudah sampai Surabaya aku kabarin lagi." Maura meletakkan ponselnya setelah sambungan telepon di matikan oleh Diana.
Bejo masuk dan duduk di depan samping sopir, di tempat sopir tentu saja ada Mang ujang yang menempatinya, karena mereka akan di antar Mang ujang sampai ke bandara.
Bik susi terus memandang mobil hitam itu sampai hilang dari pandangannya, ia seka air mata yang sudah menumpuk di ujung mata itu.
"Sepi lagi, padahal kan seru kalau ada Neng Maura disini, hiks hiks hiks." Bik Susi menghapus Air matanya kemudian masuk kedalam.
Setelah sampai di bandara Bejo maupun Maura berpamitan lagi pada Mang Ujang untuk yang terakhir kalinya, sebelum mereka masuk ke dalam pesawat.
"Hati hati ya Den, Neng, semoga selamat samai rumah." Doa mang ujang setelah mereka mau masuk ke dalam pesawat.
Bejo tidak menyahuti tetapi hanya melambaikan tanganya serta tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Sesampinya di dalam pesawat Maura duduk di dekat jendela, Bejo terus menggandeng kedua tangan Maura membuat Maura tidak bisa bergerak bebas menggunakan tangan kirinya.
Tapi maura ingat bahwa mereka setelah ini tidak akan bertemu, karena sesuai perjanjian didepan santri mereka seperti tidak saling kenal.
"Ingat ya Mas, jangan sampai kebongkar ya setatus pernikahan kita." Pesan Maura sebelum mendarat di bandara juanda.
"Kenapa sih, Dek, kamu gak mau benget santri tau setatus kita, jangan bilang kalau ada santri yang kamu suka?" tanya Bejo dengan tatapan tajam.
"Jangan ngawur Mas," ucap Maura seraya melepaskan genggan tangan bejo.
"Aku cuma gak mu jadi korban bully ya, kamu kan tau sendiri bagaiman para santri, suka sama kamu, hampir setiap hati kamu mengajar, mereka selalu membicarakan mu, kalau sekarang mereka mendengar kalau aku menikah dengan mu, duh mati aku." Terang Maura yang membuat Bejo mengerucutkan bibirnya, terlihat lucu di mata Maura.
Cup,
__ADS_1
Sebuah kecupan di bibir Bejo yang monyong membuatnya kaget, tidak menyangka jika Maura akan melakukan hal itu di tempat banyak orang.
Maura sih berani melakukannya karena ia yakin tidak ada satu orangpun yang menegenali mereka, apa lagi melihat ekspresi imut Bejo membuatnya gemas dan ingin menciuminya.
"Kamu mulai nakal ya," ucap Bejo yang kini membalas kecupan di kening Maura.
"Hehehe, habisnya kamu imut banget sih Mas," ucap Maura yang membuat Bejo tidak percaya, masak dia yang cool begitu di hilang imut.
Sebenarmya tanpa Bejo tau Maura banyak memikirkan hal, berhubung Bejo suaminya mengajak untuk kembali ke kampus, Maura mau tidak mau untuk mengikutinya.
Saat ini tidak ada orang yang bisa ia sandari kecuali Bejo suaminya, lagi pula Bejo bukan Suami yang buruk, malahan sangat baik tidak memaksa Maura untuk melakukan kewajibanya sebagai seorang istri, justru sebalikanya pengertian, dan sabar untuk menunggu.
Jika saja Bejo tidak mengajaknya balik, mungkin Maura akan menyarankan untuk pergi ke tempat orang tuanya, dari mulai rumah sang ibu hingga mencari keberadaan sang Ayah.
Tetapi semuanya ia tahan dulu, jika ada kesempatan lagi ke jakarta ia akan meminta Bejo untuk menemaninya pergi ke dua tempat penting itu, yang saat ini ia harus fokus pada kuliahnya yang masih memakan waktu lama untuk menyandang gelar sarjana.
Di dalam pesawat tidak ada kejadian seperti saat sebelum sebelumnya, karena bangku di samping Bejo adalah seorang laki laki.
Bejo maupun Maura merasa lega melihat laki laki yang duduk di samping Bejo.
Pesawat mendarat tepat di bandara Juanda, Bejo yang sudah memesan gerobak stelah mereka turun dari pesawat pun kini tengah berjalan menuju mobil tersebut.
"Paman tidak bisa Dek, di pesantren ada acara haul pendiri pesantaren, jadi saya pesan taksi online saja." Terang Bejo yang mendapat anggukan kepala dari Maura.
Di dalam mobil Bejo yang ikut duduk di jok belakang, Ia menarik Maura agar duduk dekat denganya sehingga Bejo dengan mudah memeluknya.
"Mas, jangan begini dong, malu sama sopirnya." Peringat Maura.
"Gak papa Sopirnya juga paham kok Dek, kita kan pengantin baru." Jelas Bejo dengan agak keras. Sehingga sang sopir hanya bisa tersenyum simpul.
"Ist, meskipun begitu gak begini juga kalik Mas," ucap Maura yang melihat tubuhnya menempel lekat di tubuh Bejo.
"Biarkan begini sampai rumah, karena kamu kan nanti pasti langsung ke asrama, setelah itu tidak ada kesempatan untuk ku memeluk mu begini." terang Bejo dengan wajah yang imut.
"Ah, itu, benar juga sih, setelah ini kan kita seperti orang yang tidak kenal." Batin Maura yang kini sudah membiarkan Bejo yang melakukan apapun sesukan hatinya.
Maura membiarkan apa yang Mau Bejo laukan, kini Maura sudah pasrah di pekukan Bejo.
__ADS_1
Ingian rasanya Bejon cium bibir Maura untuk perpisahannya kali ini, tetapi ia menahanya karena tidak mungkin jika ia melakukanya di depan orang asing.
Sang sopirpun yang peka, langsung menyalakan tabir pembatas, yaitu sebuah tirai yang menutupi dagin depan dan melakang sehingga yang mengemudi tidak dapat melihat penumpangnya, sebaliknya penumpang bekalang tidak melihat apa pun di depan selain tirai.
tidak mau membuang waktu, Bejo langsung saja mencium Bibir Maura dengan penuh napsu.
Sementara Maura yang terkejut melihat tirai yang bergerak sediri. Sehingga ia tidak merespon ciuman Bejo.
Merasa tidak ada balasan dari Maura. Dengan ringan Bejo menggigit kecil bibir Maura sehingga ia merasa sakit dan membuka bibirnya.
"Ah, Emmmttmm..." Keluh maura yang tidak bisa lagi bersuara karena Bejo tidak memberikan kesempatan pada Maura.
Disinilah Maura mulai membalas ciuman Bejo sebisa dirinya, Bejo yang mulai lihai pun mengapsen semua rongga mulut Maura, bahkan membelitkan lidahnya dengan lidah Maura yang membuat mereka berdua semakin merasa panas.
Bejo dengan lihai mencabut jarum di leher Maura sehingga tanpa Maura sadari kerudungnya telah jatuh dan kini Bejo telah beralih menyesap leher jenjang Maura hingga meninggalkan benerapa bekas merah di leher Maura.
"Ma Mas, kita masih ada di mobil, tolong sadarlah," ucap Maura terbata bata karean menikmati sentuhan bibir bejo.
Sebelum mengakhiri Bejo kembali mencium Bibir Maura kemudian beralih mengecup keningnya.
"Maaf, aku pasti akan merindukan mu." terang Bejo seraya memandang lekat wajah Maura.
"Maaf," ucap Maura ia tau bahwa permintaanya pasti akan menyiksa suaminya yang kini sudah terbiasa akan dirinya, tidak di pungkiri juga Bahwa Maura mulai terbiasa dengan keberadaan Bejo apa lagi dengan sentuhannya yang membuat Maura terkadang ingin mengulangnya kembali.
"Tidak, jangan meminta maaf aku mengerti apa yang kamu takutkan, pakailah hijap mu, sepertinya kita akan segera sampai." Kata Bejo seraya membantu Maura mengenakan hijab nya.
Tidak berselang lama sang sopir membuka kan tirai, dia tersenyum melihat ekpresi cerah di wajah Bejo, dan menemukan semburat merah di wajah Maura.
sebelum Mobil itu pergi Bejo memberikan tips dan ucapan terimakasih, atas pengertiannya.
"Terima kasih Pak untuk pertolongannya tadi." ungkap Bejo.
"Tidak masalah, saya juga pernah pengantin baru kok." Kata sang sopir dengan senyum ramahnya.
Setelah mobil pergi Bejo menenteng semua tas dan koper untuk di bawa kedalam rumah pamannya.
Sementara itu Maura hanya di suruh membawa tas milik bejo dan dirinya sendiri yang hanya berisikan domoet dan peralatan penting lainnya.
__ADS_1
Dari kejauhan sepasang mata tengah memandang tajam pada keduanya, melihat interaksi yang mesra antara Bejo dan Maura, tanganya terkepal kuat.