
Sementara itu di area pesantren, telah menyebar kabar jika ustadz Bejo itu telah menikah, banyak santri yang terkejut mendengar hal itu, apa lagi Najwa yang telah mendengar sendiri dari mulut Abahnya.
Kemarin pagi setelah mengimami shalat subuh di masjid, Pak kiyai langsung menemui Najwa untuk membahas perihal keinginanya untuk dinikahkan dengan Bejo.
"Abah serius dia udah menikah," tanya Najwa dengan raut wajah kecewa.
"Iya Nduk, yah memang disayang kan karena dia sudah menikah, tapi yah mungkin memang bukan takdir kamu berjodoh dengannya, jadi ya kamu yang sabar ya, masih banyak pemuda yang lain yang jauh lebih baik dari dia." Nasihat Pak kyai pada sang Anak.
"Tapi Najwa maunya sama dia Bah, Najwa udah terlanjur mantap loh mau jadi istrinya, kok dia udah nikah, aku penasaran siapa yang jadi istrinya itu?" tanya Najwa dengan wajah yang kesal.
"Abah juga kurang tau, dia hanya bilang kalau baru beberapa minggu yang lalu menikahnya, kamu ndak bisa memaksakan hati orang lain Nduk."
"Memaksakan gimana sih bah, lagi pula diakan belum tau aku, nanti kalau udah ketemu pasti juga tertarik sama Najwa, dia itu kan ponakanya Ustadz Zainal Bah, ngomong gih ke ustadz Zainal kalau aku mau dijodohin sama keponakannya itu, aku hak peduli ya bah mau jadi yang keberapa pun aku yakin, dia itu jodohku." Eyel Najwa yang kemudian pergi meninggalkan Abahnya sendiri di ruang keluarga.
Pak kiyai hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku putri satu satunya dari Almarhumah istri pertamanya itu, mungkin karena seringnya dimanja, apapun yang dia mau selalu dituruti jadinya begini, tidak mau mengerti dengan keadaan.
"Poligami memang diperbolehkan, tapi apa mungkin dia mau untuk poligami," gumam Pakiyai yang meras pusing dengan permitaan anak perempuan semata wayangnya.
Melihat suaminya tampak melamun Bunyai pun menghampirinya.
"Abah kenapa kok melamun?" tanya Bunyai sembari duduk disampingnya.
"Itu loh Mik, si Najwa ngeyel mau dinikahkan sama Ustadz Bejo, tapi ustadz Bejonya kan sudah menikah." Jelas Pakiyai dengan wajah sedih.
"Oh, ustadz Bejo sudah menikah, kapan Bah, kok gak ada kabar selama ini?" tanya Bunyai kepo.
"Katanya sih belum genap satu bulan Mik, jangan tanya dengan siapa Abah pun juga tidak tau karena Ustadz Bejo tidak bilang."
"Is, Abah mah, iya sudah kalau udah menikah ya cari laki laki lain sih Bah, banyak Ustadz di pesantren kita yang ganteng dan pinter gak kalah dari si Ustadz untung itu."
"Ustadz Untung? Siapa mik?" tanya Abah bingung.
__ADS_1
"Ih, Abah Bejo kan artinya untung,"
"Meskipun sama kalau nama jangan di ganti ganti Ummik, kan nama pemberian dari orang tua, bikin bingung Abah aja." Protes Pak kiyai mendengar istrinya mengganti panggilan Ustadz Bejo.
"Sama ajalah Bah, tapi emang disayangkan sih, kalau Najwa bersanding dengan tuh ustadz pasti serasi banget kan, cantik dan ganteng."
"Tapi Mik, Ustadz Bejonya udah menolak, dia udah menikah dan gak mau menikahi si Najwa. Eh malah Najwanya tetep ngeyel minta dinikahkan, Abah jadinya pusing."
"Kalau begitu, bujuk aja lagi bah mungkin, dia bakalan mau setelah bertemu dengan Najwa, kalau Najwa dah tau ustadz bejo punya istri tapi masih mau dinikahin, berarti dia udah siap dong di poligami."
"Justru itu Mik, Abah gak mau kalau Najwa jadi istri kedua, memang Umi mau di jadikn istri kedua?"
"Ih Abah, mana bisa Bah, Umi kan udah jadi istri Abah, mana bisa mebikah lagi, kalau di madu sih Ummi ogah, lebih baik Umi minta dicerai aja dibanding harus lihat Abah menikah lagi." Bunyai berkata dengan nada yang sangat ketus.
"Nah itu kan, pasti istri Ustadz Bejo juga sama dengan Umik, yang gak akan mau di poligami, Umi bantu Abah bujuk Najwa ya, toh Najwa itukan juga belum paham betul dengan kehidupan, masih perlu pengajaran Mik, meskipun udah lulus S2 pun."
"Ya sudah deh, insya Allah nanti Ummi bantu ya,"
Kembali pada Maura dn Bejo yang kini tengah menikati sarapan pagi yang romantis, saling menyuapi sama lain, membuat mereka bisa melihat tatapan mata yang penuh dengan cinta dan ketulusan.
"Heran kenapa Mas?"
"Kenapa gak dari dulu kita dipertemukan."
"Sesuatu yang sepesial itu pasti akan ada waktu sepesial juga untuk mendapatkanya Mas," jawab Maura diiringi dengan senyuman.
"Ehem, jadi Aku sepesial ya Dek, di hati kamu?" tanya Bejo dengan senyum yang tidak hilang dari tadi.
"Iya dong, kamu kan suami aku Mas, jadi ya sepesial." Ungkap Maura dengan wajah yang malu malu.
Merasa gemas dengan wajah bersemu yang di tunjukkan Maura membuat Bejo tidak tahan ingin menciumnya.
__ADS_1
"Ih, Mas kitakan lagi sarapan." protes Maura yang mendapat kecupan sekilas di bibirnya.
"Habisnya kamu imut, Dek. Ingin rasanya Mas mencubu mu sepanjang hari."
"Ya Allah, Mas, mesum banget sih, kalau kamu lakuin itu, satu tahun aku gak bakalan kasih kamu jatah *** ***." Hardik Maura yang mendapat tawa keras dari Bejo.
"Enggak lah, Dek. Aku tau kok kamu pasti masih lelah, tapi nanti Malam lagi yah." Bejo mengerlingkan matanya membuat Maura memukul lenganya dengan sengaja yang menggoda dirnya itu.
"Mas, Habis ini aku boleh ya tidur, masih ngantuk banget." Tanya Maura setelah sarapannya selesai.
"Hem boleh dong, kamu istirahat aja, kumpulin tenaga supaya nanti malem bisa main lagi sama Mas." lagi lagi Bejo menggoda Maura.
Maura hnya menggelengkan kepalanya mendengar Bejo menggodanya, kalau dipikir pikir makin kesini Bejo makin mesum aja kalau bersama Maura, Wajar namanya orang baru merasakan surga dunia, isi otaknya bakalan menuju hal itu kalau di dekat istri.
Maura terlelap dengan pulas, Bejo memilih membuka laptopnya dan mengecek pekerjaannya, termasuk mengirimkan email tentang tugas untuk para mahasiswanya.
Didalam ruang kelas yang masih sepi, Nada dan amel tengah berbisik bisik, tentang kahabar Maura saat ini.
"Gimana, ada kabar belum dari si Maura?" tanya Amel pada Nada yang tengah memegang ponsel.
Nada hanya menggelengkan kepalanya. "Duh kemana sih, tuh anak gak ada khabarnya, hari ini dia bolos juga, apa nanti kita tanyakan ustadz Bejo aja gimana?" Amel meminta pendapat Nada.
"Mending kita telpon aja gimana? Mungkin aja udah aktif ponselnya."
"Ya udah coba aja lagi."
Amel menghubungi nomor Maura untuk menanyakan kabar gadis itu, sebagai teman yang baik ia ingin mengisikan apsen jika ia tidak masuk.
Setelah ponsel tersambung, Nada terkejut sesaat mengetahui jika bukan Maura lah yang mengangkat telponnya malainkan suara laki laki.
"Hallo, Maura?"
__ADS_1
" Maura masih tidur, kecapekan, kalian tolong izinkan ya, tolong isikan apsen Maura, hari ini." Kata orang yang di seberang ponsel yang langsung mematikan sambungan telepon dari Nada.
Nada hanya bisa melongo mendengar apa yang di katakan oleh laki laki tersebut yang bukan lain adalah Ustadz Bejo.