
Pagi hari udara begitu sejuk, sesejuk hati Maura setelah membaca Ayat Suci Alquran.
Maura membaca memang dengan niatan agar hatinya merasa dingin, setelah kehebohan semalam yang bikin panas seasrama putri, banyak santri yang menangis patah hati dikala mendengar jawaban Ustadz Bejo yang berwajah korea itu.
banyak tisu bertebaran dimana mana, menyulut emosi Maura yang benci akan sampah sampah yang membawa kuman itu, merasa frustasi.
"Huh, ademnya hati ini, emang gak salah kok, kalau hal yang bisa membuat hati tenang ya hanya mendekatkan diri pada Allah, dengan perantara Alquran hati jadi damai..." Gumam Maura seraya mencium bolak balik mushaf Al-qurannya.
Diletakkannya mushaf tersebut di rak bukunya yang paling atas, kemudian dilipatnya mukena yang sudah ia lepas, di masukkanya lipatan mukena tersebut ke dalam al mari.
Maura menatap ke semua arah dalam kamar dimana para santri masih bergelut dalam selimut, membuatnya menghela nafas pelan.
Nada yang datang bulan sudah biasa akan berlama lama di dalam selimutnya, sementara Amel yang habis mandi terlihat segar.
"Buruan mandi, nanti di pakai yang lain loh." Perintah Amel pada Maura.
"Ok, tau aja kalau aku mau antri kamar mandi." Maura bergegas mengambil handuk serta baju ganti untuk menuju kamar mandi.
"Hai tukang molor, buruan bangun ini udah jam enam loh, kamu berangkat kuliah apa kagak, kita ada jam tujuh loh." Tukas Amel membangunkan Nada.
Maura yang baru saja mandi dengan sengaja menempelkan kedua tanganya yang basah ke pipi Nada, yang langsung membuka mata karean merasa dingin akibat tangan Maura.
"Ih Maura dingin tau," ucap Nada dengan bibir yang cemberut.
"Habisnya kamu itu, asik molor aja, mentang mentang gak sholat, gak bangun bangun kamu, emang kamu gak mau bersih bersih diri apa, gak risih kamu?" tanya Maura seraya menyisir rambutnya.
"Em, iya iya Aku mandi, lagian kalian ini lagi enak enak mimpi jadi istri kedua Ustadz Bejo malah di ganggu."
"Uhuk uhuk,..." Maura terbatuk batuk tersedak ludah nya sendiri mendengar apa yang Nada ucapka barusan.
__ADS_1
Beneran gila tuh si Nada masak sampai ngimpi jadi madunya Maura.
"Kamu ngimpi apa tadi?" tanya Maura memastikan apa yang ia dengar tadi setelah memastikan tenggorokanya sudah membaik.
"Hehehe, aku ngimpi jadi istri kedua yang sangat disayang ustadz Bejo, pas lagi asik asiknya disuapin malah kalian ganggu." Keluh Nada seraya semakin mengerucutkan bibirnya.
"Ngehalu kamu udah kelewaran Nada." Kata Maura dengan nada sedikit tinggi, yang membuat Nada dan Amel kaget.
Maura yang merasa marah langsung berlalu keluar setelah mengenakan hijabnya.
"Emang salah ya Mel, kalau aku mimpi jadi istri kedua ustadz Bejo, Kenapa Maura semarah itu sih. Aneh deh, kayak dia yang jadi istri pertama aja." Celetuk Nada yang kini sudah bersiap untuk mandi.
"Iya sebenarnya sih, gak salah salah amat sih, itu kan cuma mimpi, tapi kalau di pikir pikir, kamu emang keterlaluan, masak mau jadi istri kedua, kalau kamu istri kedua biar aku jadi yang pertama," ucap Amel yang langsung mendapat tinjuan dari Nada.
"Huh, dasar, itu mau kamu. Huh." Kesal Nada yang langsung berlalu meninggalkan Amel.
Maura yang merasa kesal, memilih ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong, ketimbang tetap dikamar dan mendengarkan hal hal yang aneh dan bisa bikin moodnya buruk, lebih baik dia makan aja.
Setelah mengambil makanan di atas piring Maura pergi ketempat biasa ia makan bersama dua teman gesreknya itu, kali ini ia memilih duluan makan karena masih kesal dengan apa yang nada impikan.
"Enak saja mau jadi maduku, sampai kapan pun aku gak sudi di madu, meskipun dia itu sahabatku." Batin Maura dengan melahap makannya dengan kasar.
Amel datang dengan sepiring nasi, ia duduk dihadapan Maura dengan mencoba menyapanya.
"Makan kok gak ajak ajak sih, masih marah perihal mimpi Nada, udah gak usah dipikiirkan, lagian kan itu cuma mimpi, kita aja gak tau siapa istri pertamanya eh malah Nada udah mau jadi yang kedua aja." Terang Amel yang membuat Maura berpikir.
"Iya juga sih, mereka kan gak ada yang tau istri Mas Bejo, kenapa aku yang jadi senewen sih. Duh kenapa aku musti marah coba, kan aku sendiri yang mau pernikahan kami di sembunyikan. sabar Ra Sabar." Batin Maura seraya menatap Amel.
"Iya, kamu benar itu hanya mimpi, maaf mungkin aku mau PMS jadinya sensian," ucap Maura memberi alasan.
__ADS_1
"Iya, santai aja, tar tinggal minta maaf aja sama Si Nada sumbang."
"Hahahah." Amel dan Maura tertawa terbahak bahak mendengar panggilan Nada yang mereka buat itu.
Nada Sumbang, bukan hanya sebutan tapi memang nyatanya suara Nada sangat jelek saat bernyayi. Karena itu Maura dan Amel memanggilnya Nada Sumbang.
Sementara itu di asrama putra, Ahmat tengah mengintrogasi Bejo perihal kejadian semalam yang menghebohkan jagat pesatren.
"Itu ceritanya bagaimana kok para santriwati pada pingsan kamu apain Jo?"
"Gak aku apa apakan Ustadz, mereka memang yang lebai, mereka tanya aku sudah punya kekasih apa belum, ya ku jawab kalau ada bagaimana?, eh malah mereka histeris, kayak kesurupan masal pada pingsan, kan aneh." Jelas Bejo yang tidak peka.
"Duh duh Jo, kamu ini, udah umur berapa sih, itu tandanya mereka patah hati denger kamu punya kekasih, mereka kan suka sama kamu."
"Saya gak jawab punya Ustadz saya hanya bertanya kalau ada bagaimana, harusnya mereka jawab dong bukanya malah pingsan."
Ahmat hanya bisa geleng geleng kepala mendengar perkataan Bejo, yang sama sekali tidak memahami perasaan wanita.
Bukanya Bejo tidak memahami perasaan wanita, yang ia lakukan Hanya tidak mau melukai hati Maura istrinya, jika dia mengatakan tidak punya kekasih, karena itu dia menjawab dengan pertanyaan ambigu.
Saat ini pun Bejo tengah memikirkan Maura, semoga istrinya itu tidak marah pada jawabnya kemarin malam.
"Ya sudahlah, semoga mereka tidak salah paham terhadap mu, tapi beneran kamu udah punya kekasih?" tanya Ahmat dengan senyuman.
"Ustadz kenapa jadi seperti mereka yang suka kepo."
"Yah kepo sedikitkan tidak papa, laki laki tampan sepertimu, mana mungkin tidak ada kekasih hati, meski hanya kekasih diam diam tersimpan tanpa sepengetahuan."
Bejo tidak bisa mengatakan apa apa, karena yang di katakan Ustad Ahmad ada benarnya kekasih hati yang cintanya belum terungkapkan.
__ADS_1