Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Terbongkar


__ADS_3

Sore ini Maura tengah merasa gelisah menunggu kabar dari suaminya yang sedang mengadakan pertemuan dengan Najwa dan Pak kiyai.


Setelah menegaskan pada Paman dan Bibinya bahwa dirinya tidak akan mengambil permintaan Najwa, Sore bakda Ashar Paman dan Bejo berkunjung ke rumah Pak Kiyai untuk memperjelas jawabannya.


Maura yang sudah kembali ke asrama bersama Amel dan Nada pun kini tengah dilanda kegelisahan.


Amel dan Nada sangat terkejut saat mendengar cerita dari Maura jika Najwa menawarkan pernikahan pada Bejo.


Bahkan tetap menginginkan pernikahan meski sudah tau dengan setatus Bejo yang sudah menikah.


"Kamu yang sabar ya, berdoa aja, yang terbaik, percaya deh Ustadz suamimu itu pasti bisa mengatasinya." Amel menguatkan Maura dengan berbisik di telinganya.


Maura hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum memperlihatkan bahwa dirinya baik baik saja.


Ketika mendapat SMS dari Amel,


Maura sudah menduga jika setatus pernikahan Bejo sudah tersebar di seluruh pesantren, untungnya namanya tidak ikut terseret karena Bejo memang tidak mengatakan siapa nama istrinya itu.


Tapi Maura rasa itu tidak akan bertahan lama, pasti cepat atau lambat semua orang akan tau siapa dirinya.


Maka dari itu Maura sudah membicarakan pada Bejo bahwa dirinya sudah siap jika setatus pernikahan mereka berdua di beritahukan pada publik.


di tempat Pak Kiyai tepatnya di ruang tamu Bejo duduk di samping Ustadz Zainal dengan penuh keyakinan dan tanpa sedikitpun rasa takut.


Disana Sudah ada Pak kiyai, Ummi dan Najwa yang tampil cantik dengan mengenakan jubah pink yang memperlihtkan keanggunan dan kefeninimannya.


Najwa dengan rasa berdebar dan kepala yang menunduk ketika matanya beradu dengan mata Bejo yang meneduhkan itu.


Bejo tau jika wanita itu tengah dilanda rasa cinta pada dirinya, di akuinya parasnya cantik, juga sangat anggun. Bejo tidak bisa meremehkan keturunan Pak kiyai, tetapi hatinya sudah memilih wanita yang dicintainya yaitu Maura istri yang sudah memberikan dirinyata secara lahir dan batin, rasanya Bejo sangat bersalah meski sekedar duduk di tempat itu untuk memberikan kejelasan.


"Nak Bejo, Abah bukannya tidak mengerti dengan perkataan mu saat pagi kemarin, tetapi Najwa putri Abah dia ingin mendengarkan langsung, jawaban Nak Bejo, mungkin kemarin Nak Bejo tergesa gesa memberi jawaban, dan saat ini mungkin sudah Maura memberikan jawaban sesuai yang Putri Abah inginkan." Pak kiyai mulai membahas inti persoalan sore ini.

__ADS_1


Bejo melirik Pamanya yang menganggukkan kepalanya, meyakinkan Bejo untuk menjawab sesuai yang ia putuskan.


"Mohon Maaf Pak Kiyai, sebelumnya. Karena Jawaban saya masih tetap sama, dan saya rasa akan tetap sama sampai kapan pun, saya menghargai dan menghormati keinginan Najwa, tetapi Saya tidak bisa menyakiti istri saya yang sudah saya beri janji jika tidak akan ada perikanan lain selain bersama dirinya." Jelas Bejo yang membuat Pak kiyai menganggukkan kepalanya, Pak Kiyai pun sebenarnya sudah paham, tetapi memang putrinya lah yang keras kepala.


Ummi langsung menggenggam tangan Najwa setelah mendengar pernyataan Bejo, tetapi Najwa menepisnya, yang sudah merasa kesal dan sakit hati langsung saja pergi dari tempatnya tanpa berkata apapun.


Semua orang menghela nafas berat, Semuanya tahu bagaimana sifat Najwa yang keras kepala itu, bahkan Ustadz Zaibal pun mengetahui hal itu makanya dirinya sering menasehati Najwa saat dulu masih menjadi muridnya.


"Nak Bejo, terimakasih karena sudah mau datang kemari dan memberikan jawaban, Abah tau, berpoligami itu tidak mudah, Abah pun juga tidak setuju sebenarnya dengan keinginan Najwa, tetapi Abah tidak bisa membiarkanya bersedih dan terus meminta Abah untuk membujuk kamu, dengan kamu yang langsung memberikan jawabanya, Semoga saja Najwa bisa menerima semua ini."


"Aamiin, Bah, Maaf karena saya sudah melukai putri Abah."


"Tidak, kmu tidak salah, mungkin ini sudah takdirnya, biar Abah nanti bicara lagi dengannya, kamu tidak perlu merasa bersalah."


"Benar Jo, kamu tidak perlu merasa bersalah, Najwa pasti nanti akan paham setelah mendapat nasihat dari Abah dan Umminya." Sambung Ustadz Zainal.


"Benar Ustadz, saya sebagai ibu Najwa meminta maaf ya atas sikap Najwa yang kurang sopan," ucap Ummi yang sungguh merasa tidak enak dengan sikap Najwa yang langsung pergi tanpa pamit.


"Wes to Nal, tidak usah minta maaf, kamu ini, kita semua tau kok, menginginkan hal yang terbaik untuk anak anak kita, jadi yo wes, ndak usah merasa bersalah juga kamu itu." Sanggah Pak Kiyai yang sudah menganggap Ustadz Zainal sebagai adiknya sendiri.


"Terimakasih Bah, atas pengertianya." kata Ustadz Zainal dengan tersenyum.


"Eh, ngomong ngomong, kamu kok diam diam toh menikahkan bejo, kenapa, aku mau tanya ini loh dari kemarin, lupa ae." Tanya Pak Kiyai kemudian.


"Oh, itu Bah, pernikahan mereka cukup mendadak, dan dilakukannya di jakarta, tempat istri Bejo, sebab Ayah istri Bejo mengalami sakit keras sehingga kami cepat cepat menikahkan mereka, dan kemudian Ayah istrinya meninggal dunia, setelah pernikahan berlangsung, Saya rasa Abah juga tau berita meninggalnya." Terang Ustadz Zainal yang membuat Pak kiyai kaget.


"Loh, siapa memangnya Ayah dari istri Bejo?" tanya Pak kiyai.


"Abah Husain Yai," jawab Bejo sopan.


"Masya Allah, jadi kamu nikah sama anaknya Abah Husain, Ya Allah, jadi kalian kesana waktu meninggalnya, Aku tidak bisa datang kesana karena ada acara di mojokerto waktu itu."

__ADS_1


"Siapa sih Bah?" tanya Ummi penasaran.


"Itu loh Mik, abah Husain, teman Abah yang di jakarta, orangnya baik dan sabar itu loh, yang kita ketemu pas di lamongan ingat gak, terus menitip kan anaknya kesini itu loh Mik."


"Oh, Abahnya Maura?" tanya Ummi memastikan.


"Benar Ummik," jawab Bejo seraya menganggukkan kepalanya.


"Terus kamu nikahnya sama kakaknya Maura kah?" tanya Ummi.


"Bukan Ummi, tapi sama Mauranya." Jawaban Bejo langsung membuat kegaduhan. Di dalam rumah Pak Kiyai maupun di luar.


Pasalnya Banyak santri yang tengah menguping dari berbagai tempat yang sekiranya membuat mereka bisa mendengarkan percakapan mereka.


sesuatu yang membuat gaduh bukan dati para santri di luar, melainkan dari dalam ruang tengah dimana Najwa langsung menjatuhkan gelas minumnya setelah mendengar nama yang menjadi istri ustadz Bejo.


Suasana di ruang tamu menjadi hening setelah mendnegar sesuatu yang pecah itu.


Tetapi kemudian Pak kiyai berkata.


"Saya doakan pernikahan kalian nanti akan selalu bahagia, Dan mendapat rahmat dari Allah SWT. Menadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah."


"Aamiin," jawab semua orang yang ada di ruang tamu tersebut mendengar doa dari Pak kiyai.


"Terima kasih doanya Bah, saya sekalian mau mengatakan, jika saya mau membawa Maura pulang, maksud saya mau memboyong Maura ke tempat Paman saya, apakah Abah mengizinkanya?" tanya Bejo dengan sopan.


"Oh, ya ndak papa, Maura kan sudah jadi istri kamu, kalau kamu sudah memutuskan untuk membawanya pulang dan tinggal bersama kamu ya ndak papa." Pak Kiyai dengan baik mengizinkan Bejo memboyong Maura.


Meski hal ini belum di bicarakan Bejo pada Maura, tetapi Bejo tidak mau mengulur waktu, dan membiarkan istrinya itu tinggal di tempat yang mungkin akan berbahaya bagi dirinya, dimana sepertinya setatus Maura sebagai istrinya sudah di ketahui oleh para santriwati.


Sesuai dugaan Bejo kini Maura tengah mendapat tatapan tajam dari para Santri yang baru mengetahui jika Maura adalah Istri ustadz Bejo.

__ADS_1


__ADS_2