Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Teror ke 2


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian paket tak bertuan, kini Maura di kejutkan dengan sebuah tulisan berdarah di kaca rias miliknya.


"Astagfirullahaladzim, Mas.. " teriak Maura seraya berlari menuju dapur dimana Bejo tengah menikmati secangkir kopinya.


"Ada apa Sayang, kok teriak teriak?" tanya Bejo yang kaget, mendengar teriakan Maura.


"Ya Allah Mas, Ayo ke kekamar, kamu lihat sendiri deh, itu ada ada ada..."


"Ada Apa Sayang, ngomong pelan pelan, kenapa?" tanya Bejo dengan lembut meski nampak khawatir melihat istri nya terlihat pucat pasi.


tanpa bicara lagi Maura langsung menarik Bejo menuju kamar mereka agar melihat tulisan berdarah yang ada di kaca.


Begitu sudah sampai di dalam kamar.


"Astagfirullahaladzim, apa ini, Sayang?" Bejo memandang Maura yang kini sudah mengeluarkan air mata.


"Ini gak bisa dibiarkan lagi, Mas akan lapor polisi Sayang, kita diteror seperti ini, siapa pun orangnya harus di hukum karena membuat hidup orang tidak nyaman." Bejo memeluk Maura yang menangis dalam ketakutan.


Bejo membawa Maura keluar dari kamar, menenngknya di dapur.


Bik inem yang melihat majikannya menangis pun heran, karena tidak pernah sekalipun dirinya melihat sayang nyonyanya menangis selama ini.


"Ada Apa neng, Tuan ini kenapa kok Neng Maura menangis seperti ini?"


"Bik, kita diteroro lagi," jawab Bejo seraya menglus punggung Maura untuk menenangkannya.


"Hah, diteror bagaimana maksutnya Tuan, Oh ada paket seram kayak kemarin lagi?"


"Tidak Bik, ini sebuah tulisan ancaman di kamar kami. tolong temani istri saya sebentar, saya mau kedepan." pinta Bejo pada Bik inem.


"Baik Tuan, Ya Allha. yang sabar ya Neng." Bik inem duduk di samping Maura yang sidah berhenti menangis meski ketakutannya belum menghilang.


sementara Bejo keluar menuju pos satpam, dirinya ingin bertanya pada satpam barunya yang bertugas menjaga keamanan sekitar rumahnya, jadi dia harus tau siapa yang keluar masuk kedalam rumahnya, bisa bisanya di pagi pagi buta seertu ini sudah ada teroro yang mengerikan.

__ADS_1


Entah siapa daangnya tapi mereka ingin melenyapakan nyawa entah itu Bejo ataupun Maura karena teror tersebut bertuliskan "AKAN KU BUNUH KAU."


entah siapa yang di incar yang pasti semua orang harus waspada.


karena tidak mendapat kan hasil yang memuaskan Bejo pun memeriksa CCTV dirumahnya lagi, tetapi kali ini malah tidak ada satupun orang yang mencurigakan yang terekam kamera.


"Bagaimana bisa, mereka tidak terekam oleh CCTV," gumam Bejo yang kini kembali lahi menuju kamarnya untuk melihat tulisan ancaman tersebut.


Di periksanya tullisan tersebut ternyata bahan yang digunakan untuk menulis adalah sebuah darah karena berbau anyir bahkan warnanya sangat merah pekat hampir menyentuh hitam.


"Aku harus melapkan ini kepolisi, aku harus melindungi iatriku, Ya Allah lindungilah kami dari orang orang yang jahat." Batin Bejo yang langsung mengeluarkan ponselnya dan memotret tulisan tersebut sebagai bahan bukti, lalu ia menghubungi polisi.


Beberapa saat kemudian.


"Mas, aku takut. naga man kalau teror tersebut beneran berhasil membunuh saah satu diantara kita." Mayra masih saja kepikiran dengan tulisan itu hingga membuatnya tidak mampu untuk menelan makanan.


Dirienya sangat takut, jika anamana tersebut benar benar terjadi dan merenggut nyawa salah satu diantara mereka atau bisa jadi keduanya.


"Tenang sayang, percaya sama Allah, Allah pasti melindungi kita, Mas pun juga gak akan biarkan orang jahat itu menyakiti kita, apa lagi menyakiti kamu, Mas akan lindungi kamu Sayang."


"Tidak ada tapi, buang rasa takut kamu dan ganti dengan rasa berani, kita punya Allah, jangan menjadi lemah dan takut pada manusia, tapi kita harus takut hanya pada sang pencipta, ingat Allah tidak pernah membiarkan keburukan menimpa manusia kecuali sebagai ujian penghambaan sayang, semuanya pasti akan berkah di waktu yang sudah ditentukan." Tutur Bejo mencoba mengembalikan rasa berani Maura.


"Kamu benar Mas, tidak seharuanya aku seperti ini, Mas janji ya, harus selalu hati hati, aku benar benar khawatir, meaki aku yakin ada kuasa Allah, tapi aku kan cuma manusia biasa Mas, yang punya rasa ketakutan, meski aku tahu itu tidak baik."


"Iya, Mas Paham sayang, tapi jangan berlarut larut sampai kamu gak bisa makan sepertiini dong, makanlah meski hanya satu sendok saja." Bejo menyodorkan satu suapan kearah Maura.


Dengan senyuman yang meski di paksakan, Maura menerimannya, setelah mendengar nasihat suaminya, Maura menyadari dirinya harus berani mengahdapi ujian ini, siapapun orangnya Maura akan menghadapinya dengan berani.


Tulisan tersebut telah di bersihkan, polisi yang bertugas pun telah memeriksa seluruh rumah dan juga mengecek CCTV untuk di selidiki lebih lanjut, karena polisi yang bertugas adalah kenalan Bejo, dari pihak polisi juga menugaskan dua orang untuk berjaga jaga di rumah Bejo.


Bejo tidak mengira jika dirinya akan mendapat teror, pasca paket berisikan bangkai ayam tempo hari, Bejo pirir itu hanya sebuah paket yang nyasar tana sengaja, karena keesokan harinya setelah di cari tau tidak membuktikan apapun.


tetapi pagi ini sungguh mengejutkan karena mendapat ancaman di kamarnya sendiri hingga membuat istrinya sangat ketakutan.

__ADS_1


Maura sudah kembali tenang, tetapi dirinya masih belum berani masuk kekamarnya sendirian, jadi jika buth apa apa dirirny akan meminta tolong pada Bejo untuk menemaninya.


Maura pun audah menceritakan masalah terori tersebut pada kedua sahabatnya melalui telepin, mereka sangat terkejut, dan berbanji besok akan berkunjung kerumahnya.


Sementara itu Bejo memberitahukan pada pamannya agar lebih berhati hati lagi, karena Bejo takut jika bukab hanya dirinya dan Maura yang terancam, bisa jadi para peneror itu mengincar keluarga pamannya juga.


Pamanya yang mendengarpun juga terkejut dan langsung datang kerumah Bejo sore itu juga.


"Kok bisa ada teror Jo, bagaimana bisa?" tanya Ustadz Zainal tampak khawatir.


"Aku juga tidak tau Paman, pertamanya paket ayam mati, sekarang tulisan darah, aku benar benar tidak tau siapa pelakunya."


"Apa kamu tidak terpikirkan siapa begitu kira kira yang mungkin punya motif bisa melakukan semua ini?"


"Maksud paman?" tanya bejo tidak mengerti.


"Mungkin ada orang yang kamu curigai, orang yang dendam sama kamu mungkin, meakioun paman gak yakin sih kalau kamu punya musuh."


"Tidak ada Paman, aku merasa tidak punya musuh sama sekali, beberapa bulan yang lalu sih aku ada selisih dengan ustadz rahmat, tetapi aku sangat yakin ustadz rahmat tidak akan mungkin melakukan hal seperti ini."


"Betul juga," gumam Ustadz Zainal yang juga mengetahui permasalahan keponakannya dengan ustadz rahmat itu, dan Ustazd Zainal pun setuju jika tidak mungkin ustadz Rahmat pelakunya.


"Paman juga harus hati hati ya, aku takut mereka juga nekat menyakiti paman dan bibi juga, apa pun itu kita harus berjaga jaga." pinta Bejo yang khawatir.


"Pasti Jo, paman akan berhati hati, kamu juga, jaga istrimu, paman yakin dia sangat syok dan merasa tidak tenang."


"Baik Paman."


"Bagaimana kalau kalian pindah kerumah paman dulu smpai penerornya ditangkap. " Tawar Ustadz Zainal.


"Tidak dulu paman, kami akan mengahadapi peneror nya dulu, kan sudah berjanji untuk menghadapi bersama sama, lagian kalau kami pindah kempat paman takutnya malah keluarga paman ikut terseret dalam teror ini."


"Baiklah, hati hati ya, kalau ada apa apa langsung hubungi paman."

__ADS_1


Ustadz Zainal berpamitan pulang karena waktu sudah menjunjukkan pukul lima sore, sementara itu Bejo memilih membangunkan Maura yang tidur di ruang tamu.


__ADS_2