
Bejo dan Maura berangkat ke kampus bersama sama, karena mereka berdua ada jam pagi, Mereka berjalan beriringan, ingin rasanya Bejo menggandeng tangan Maura, jika tidak memikirkan pandangan mata orang orang yang nenyaksikan mereka berdua Bwjo sudah menggengamnya sejak tadi
Maura pun mencoba bersikap cuek, toh Bejo suaminya, berjalan beriringan bukanlah hal yang salah, semakin salah jika dirinya berjalan jauh jauhan.
"Mas, aku ke kelas dulu ya," ucap Maura setelah sampai di depan kelasnya.
"Iya, belajar yang rajin ya." Pesan Bejo yang di angguki oleh Maura, Maura meraih tangan Bejo lalau menciumnya dengan takdim, Bejo pun tersenyum melihat sikap sopan istrinya.
Sementara itu mahasiswa yang melihat nya merasa iri dengan perilaku Maura yang bisa cium tangan Ustadz Bejo yang mereka idolakan itu.
"Ih, iri deh, lihatnya, kenapa gak aku sih yang jadi istri Ustadz Bejo." Rajuk salah satu mahasiswa putri.
Lala pun yang juga menyaksikan hal tersebut, nengepalakan tangannya, merasa kesal dan tidak terima, Maura mencium tangan laki laki idamannya.
Rasa cemburu dalam hatinya begitu kuat hingga bukan panas lagi yang ia rasakan tetapi sudah mencapai level tinggi yang siap meletus.
Kelas dimulai sepeuluh menit lagi, Kelas Lala dan Maura yang berjarak cukup dekat pun menghampiri ke kelas Maura.
"Hai, Cewek pungut." Panggil Lala lantang membuat Maura menoleh padanya bukan hanya Muara semua mahasiswa yang berada dalam kelaspun menoleh padanya.
Maura mengeryitkan keningnya, ngpain tuh Lala Po, datang ke kelasnya dengan wajah yang emosi. Mau cari ribut dia. Pikir Maura.
Melihat Maura tidak kunjung datang menghampirinya, Lala pun langsung datang pada Maura.
setelah sampai di depan Maura, Lala menggebrak mejanya.
"Oi, gak usah pukul pukul meja kali, kamu tuh ngapain datang marah marah gak jelas." Seru Maura uang mulai tersulut emosinya.
"Aku kasih tau ya sama kamu, gak usah sok sok an jadi istri yang alim deh, pakai cium cium segala, tau sopan santun dong di depan umum, mentang mentang sudah saah jadi istri, sosor sana sini," ucap Lala yang membuat Maura menghela nafasnya.
Maura benar benar tidak habis pikir pada Lala, yah apa urusannya sama dia kalau Maura mau mencium Bejo di depan umum, toh Bejo suaminya, kenapa dia malah marah, kayak dia istrinya aja.
Maura memang sengaja tadi meraih tangan Bejo lalu menciumnya, karena ia merasa kesal dengan pandangan para santriwati yang tidak berkedip melihat suamibya, meskipun dirinya nyata ada disampingnya
__ADS_1
"Astagfirullah haladzim, La, kamu itu kalau ngomobg tuh, di krodcek dulu kek, aku kan cium, cuma cium tangan doang, lagian yang aku cium suami ku sendiri, salahnya dimana, apa hubunganya sama kamu, kan gak ada. Udah deh gak usah marah marah, pagi pagi begini, mending kamu buruan masuk kelas dari pada telat terus kena hukuman." Seru Maura yang malas serius meladeni Lala yang pastinya tidak akan ada habisnya
"Awas ya urusan kita belum selesai," ucap Lala yang langsung meninggalkan kelas Maura.
Semua mahasisea tertawa melihat kepergian Lala yang menurutnya garing, habis marah marah gak jelas tapi marahnya tidak ada gunanya, semua tau yang dia cemburui itu suami orang.
di kelas Maura Pemikiran nya cukup dewasa, tidak mau berpikir terlalu keras yang memng bukanlah areanya, jika memang Maura istri Ustadz Bejo ya sudah biarkan saja karena memang sudah takdirnya begitu.
Mereka pun bisa paham dengan maksud Lala yang cemburu tapi salah tempat.
"Sabar Ya, Ra. Dia itu cum iri aja sama kamu, karena ustadz Bejo berjodohnya sama kamu bukan sama dia si nenek sihir." Amel menepuk pundak Maura untuk menenagkan dan meberi dukungan pada Sahabatnya itu.
"Bener itu, dia cemburu bukan pada tempatnya, suami orang kok di cemburui." Timpal Nada yang kini sudah duduk di bangkunya.
Kelas sudah selesai di jam dua belas siang, Maura langsung menghampiri Bejo yang sudah menunggunya di parkiran.
Bejo yang sudah tidak ada jam sedari pukul sepuluh pagi tadi ia mengambil mobil untuk mengantar sang istri untuk jalan jalan mencari sesuatu untuk mengisi rumah batunya itu.
"Sudah nunggu lama, Mas?" tanya Maura begitu sampai di parkiran.
"Boleh ya, Mas, mereka berdua mau ikut lihat rumh baru kita,"
"Ya sudah ayo."
Mereka berrmpat langsung menuju sebuah Mall terdekat di kota Surabaya.
Maura terus menggandeng Bejo membuat Amel dan Nada bermuka masam.
"Kayaknya kita salah deh, ikut mereka berdua." bisik Amel yang di angguki oleh Nada.
"Ck, jadi pengen punya yang kayak ustdaz Bejo." rengek Nada yang di angguki juga oleh Amel.
"Dahlah yuk, kita lihat lihat ke area buku gimana, mungkin aja ada novel bagus." Ajak Amel yang langsung menarik Nada, mereka berdua berjalan mendahului Maura dan Bejo.
__ADS_1
"Eh, mereka berdua mau kemana Mas," tanya Maura yang melihat Anel menarik Nada.
"Mas gak tau Dek, kita ikuti aja dulu."
"Oh, mereka mau cari buku Mas." Maura ikut melihat lihat Buku sehingga mau tak mu melepas genggaman tanganya pada Bejo.
Beebrapa menit kemudian.
"Oppa, duh Oppa, minta tanda tangan dong, em foto juga." Teriak para perempuan yang sedari Bejo masuk sudah memandangi Bejo.
Bejo merasa terkejut di kerumuni oleh brnyak nya wanita yang membuatnya merasa sesak.
"Duh, Dek siti mana lagi, ini cewek cewek pada kenapa sih." Batin Bejo.
"Maaf ya Mbak mbak, saya bukan artis, bukan juga Oppa, jadi Maaf bisa beri saya jalan , saya mau cari istri saya." Ungkap Bejo tetapi para wanita tersebut tidak mengindahkan apa yang Bejo katakan dan tetap memarik narik Bejo hingga baju kemejanya robek, kancing depanya terlepas semua memperlihatkan perut sispeknya yang membuat Bejo kebingungan untuk menutupinya.
Maura yang melihat hal itu pun langsung masuk pada krumunan. Dan menarik Bejo supaya mengikutinya.
Tetapi ada satu wanita yang menahan Bejo agar tidak pergi mengikuti Maura.
"lepasin tangan kamu," pinta Maura dengan nada yang masih datar.
"Kamu yang lepasin tangan Oppa, kamu mau bawa kemana Oppaku?" jawab wanita itu yang sepertinya tidak mau jika Bejo pergi.
"Apa tadi kamu bilang, Oppa mu, saya kasih tau ya, dia itu suami saya, kalain ini sudah membuatnya rugi, lihat, bajunya robek, kalian ini mau meperkosa suami saya atau bagaiman, bisa bisanya kalian berlaku anarkis seperti ini, dia suami saya bukan artis korea." Teriak Maura yang sudah tidak bisa menahan Emosinya melihat suaminya bertelanjanga dada di depan wanita lain.
Semua wnitta yang tadi berebut Bejo pun langsung melongo, tidak percaya dengan apa yang Maura kataknya tetapi langsung merasa kecewa saat Bejo memeluk Maura dari samping serta berkata.
"Maaf mbk, yang di katakan istri saya benar, jadi mohon lain kali jangan main tarilk tarik orang ya, lihat baju saya jadi robek semua. Saya permisi." Bejo menuntun Maura untuk menjauh dari para wanita mengerikan itu.
Wanita wanita tadi langsung merasa kecewa sekaligus bersalah karena mereka salah mengenali orang dan sudah membuat orang tersebut malu bajunya sobek kanan kiri depan belakang.
Bagaiman tidak di anggap sebagai artis, Bejo yabg mengenakan kemeja biru laut, di padukan dengan celana kain berwarna hitam, tubuhnya yang tegab dan atletis, apa lagi ia meninggalkan kopyahnya di dalam mobil menyakinkan banyak orang jika dirinya artis dari negeri gingseng itu.
__ADS_1
"Kok Bisa." Lirih Maura yang kini menatap heran ke arah Suaminya.