
"Kok udah rapi Mas, mau kemana?" tanya Maura yang linglung karena bangun tidur.
"Mas Mau ketemu temen, yang detektif itu, pagi ini dia ajakin ketemuan, kamu mau ikut?" tanya Bejo seraya mendekati istrinya yang terlihat menggemaskan.
Jujur saja muka bantal Maura selalu membuat Bejo gemas setiap melihatnya, Maura yang dilanda nyeri haid sejak subuh tadi terus berbaring hingga tertidur dan baru bangun jam tujuh pagi ini.
"Kalau mau i.. " Belum selesai Bejo berbicara Maura sudah duluan menggelengkan kepalanya.
"Hari ini kan Amel sama Nadia mau kerumah Mas, kamublupa ya, kemarin kan udah aku kasih tau,"
"A.. iya Mas lupa kalau mereka akan datang,"
"Heem, makanya akau gak ikut, aku drumah aja nungguin mereka datang."
"Baiklah, oh iya gimana perutnya masih nyeri?" tanya Bejo seraya mengusap halus perut Maura.
"udah agak mendingan kok Mas, Mas berangkat aja, kalau ada apa apa aku langsung hubungi kamu."
"Bener ya langsung hubungi Mas, kalau begitu Mas berangkat dulu, jangan lupa wedang jahenya di minum mumpung masih hangat, lalu sarapan ya."
"Siap, Mas ku sayang."
Akhirnya Bejo berangkat juga, meskipun sedikit berat meninggalkan Maura yang tengah tidak enak badan, tetapi dirinya juga harus segera menyelesaikan masalah teror agar menemui titik terang.
Bejo langasung menemui temannya itu di kantor nya.
"Selamat siang, Mbak saya mau menemui bapak Bastian, sudah buat janji." Bejo berada di resepsionis untuk mengatakan tujuan kedatanganya.
"Atas nama siapa?" tanya petugas resepsionis yang lumayan cantik tersebut.
"Atas nama Bejo."
"Hah?"
"Nama saya Bejo mbak, kalau tidak percaya coba tanyakan saja sama Pak Bastian," ucap Bejo yang mendapat tatapan aneh dari wanita tersebut.
"Maaf, silahkan langsung saja, anda menuju lantai dua melalui tangga itu Pak." Tunjuk sang resepsionis kearah tangga.
"Baik mbak terimakasih." Bejo langsung menuju lantai dua sesuai petunjuk dari wanita tadi.
__ADS_1
sekentara itu dua resepsionis tadi tertawa, karena merasa lucu dengan nama Bejo yang dirasamya tidak sesuai dengan tampangnya.
"Ganteng ganteng namanya Bejo,"
"Emang bule jaman sekarang mah sukanya pakai nama yang aneh aneh." sahut temannya. kemudian mereka berdua tertawa bersama.
di lantai dua Bejo sudah bertemu dengan temannya itu.
"Apa kabar Baek, lama tak jumpa ya. bahkan dipernikahanmu saja kau tidak mengundangku."
"Alahamdulilah kabar ku baik, Bas. tapi akhir akhir yah kau taulah, aku minta maaf tidak bisa memberi undangan pernikahan padamu."
"Aku hanya bercanda, duduklah. mau kopi atau yang lainnya?" tawar Bastian.
"Air putih saja sudah cukup."
"Wah, kau memang ya, maaih saja tidak berubah."
"Yah, begitulah," ucap Brjo di susul tawa mereka berdua.
"Oke, ini hasil penyelidikan yang berhasil kudapatkan, hanya sedikit karena mereka sangat menjaga rahasia, biasalah orang teepandang memang begitu, terlalu banyak rahasia sehingga menutup rapat identitas." Terang Bastian setelah memberikan amplop coklat pada Bejo.
memang hanya sedikit ingormasi yang didapat, dan seperti nya semua itu tidak ada kaitannya dengan masalah teror.
"Jika di lihat dari hasil ini, kemungkinan besarnya memang tidak ada kaitanya dia dengan masalah ku, tetapi aku masih tetap nerpikir jika dia pasti ada hubungannya." Kata Bejo sangat yakin.
"Tenang lah, aku sudah menyuruh orang ku untuk mengusut masalah peneror yang sudah tertangkap itu, tunggulah satu atau dua hari, aku akan mengabarimu tentang hasilnya, semoga kita bisa mendaatkan hasil yang bagus di banding yang ini."
"Hem, Aku percaya pada, tanks ya sudah mau membantuku."
"Tentu saja kita kan teman, lagi pula kau tidak pernah meminta bantuan dengan tangan kosong, Wkwkwk." Bastian tertawa memgingat transferan yang diberikan oleh Bejo, selalu membut gemuk ATMnya.
"Oh iya, kenapa kau tidak membawa istrimu kemari, aku kan ingin berkenalan dengan Adik ipar."
"Dia lagi tidak enak badan, jadi aku tidak mengajaknya," ucap Bejo.
"Ah, sayang sekali, semoga lekas membaik, jangan lupa bawa dia di pertemuan kita selanjutnya." Pinta Bastian.
"Insyaallah, Aku pamit dulu ya,"
__ADS_1
"Hem, hati hati dijalan, salam untuk adik ipar."
Bejo hanya mengangguk seraya tersenyum menanggapi permintaan Bastian.
sementara itu, dirumah Amel dan Nadia sudah datang, dan kini tengah meminta Maura untuk menceritakan perihal teror yang Maura alami, sampai seperti orang yang mengintrogasi.
"Kira kira siapa ya, Ra. yang menyuruh orang itu untuk meneror kalian, paati ada sesuatu sampai sampai tuh orang mengganggu rumah tangga kamu yang damai dan tentram." Kata Amel dengan mimik muka yang berpikir keras.
"Udahlah jangan dipikirkan, kalian gak perlu memikirkannya terlalu berat, biar aku dan Mas Bejo aja, tuga kalian tuh cuma buat hibur aku tau gak sih."
"Hehehe, makanya kita datang kesini untuk menghibur kamu tau," sahut Nadia dengan cengengesan.
Merke bertiga pun saling bercerita, bahkan sampai perut merka terasa sakit karena banyak tertawa, Maura sungguh terhibur dengan kedatangan kedua sahabatbya itu, sejenak dia bisa melupakan permasalahan yang akhir akhir ini membuatnya sedikit setres.
Bejo yang sudah pulang, perlahan masuk kedalam dengan diam, dirinya cukup lega melihat istrinya bisa tersenyum bahkan tertawa dengan bahagia seperti itu, Bejo berpikir munhkin dirinya hatus membawa Maura jalan jalan keluar untuk menghikangkan setres.
semenyara itu di kediaman bak istana, terdapat seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi ayunnya, memandang taman bunga mawar yang bermekaran menyebarkan harum wangi.
"Nyonya, anginya semakin kuat, mari aya bawa anda ke dalam, " ucap salah satu wanita yang masih muda yang termayata adalah seorang pelayan.
"Apakah Hendra masih belum bisa menemukan cucuku?" tanya sang nyonya.
"Maaf nyonya Tuan Hendra masih belum kembali,"
"Apa saja yang dia lakukan, memgapa lama sekali, jangan sampai mereka terlebih dahulu menemukannya, apapun yang terjadi, dan bagaimana pun caranya temukan cucuku dan lindungi dia."
"Baik nyonya, saya akan segera menyampaikan nya pada Tuan Hendra."
"Aku semakin Tua, wanita licik dan anak rubahnya itu, pasti tidak akan tinggal diam, jika dia bisa menghabisi putraku, mereka pasti juga akan melakukan sesuatu terhadapku kan." senyumnya dengan miris.
"Nyonya, kami akan menjaga dan melindungi anda, nuonya muda tidak akan bisa menyentuh anda selama saya dan Tuan Hendra masih hidup."
"Terimakasih, Eme. kau memang orang ku yang paling setia, maafkan aku jika selama ini banyak perbuatanku yang menyinggung mu,"
"Tidak nyonya, anda tidak ada salah sama sekali terhadap saya, justru saya yang berterimakasih karena nyonya telah menampung saya yang bukan siapa siapa ini."
"Kau adalah keluarga ku Eme, Ayo kita masuk."
"Baik Nyonya." Pelayan yang bernama Eme itu dengan patuh meuntun Majikannya maauk kedalam rumah.
__ADS_1