
"Kali ini aku membiarkan kamu pergi, tapi lain kali aku tidak akan melepaskan kamu Maura. sebelum semua keinginanku tercapai." Batin Rifan dengan senyum menyeringai, bahkan dirinya mengabaikan tetangga tetangga lain yang baru datang.
"Jadi Pak Rifan Itu, donatur di kampus kita Mas?" tanya Maura.
"Iya, dia donaturnya. Aku juga gak nyangka kalau dia adalah tetangga baru kita,"
"Apa benar ini sebuah kebetulan, aku takut kalau Mas Bejo tau jika dia adalah orang yang membelikan aku ponsel, apa aku bilang sekarang ya, tapi tadi kan aku pura pura gak kenal, duh Maura kenapa sih, tadi gak ngomong aja kalau kalian udah kenal," Gumam Maura dalam hati merasa frustrasi.
"Kenapa bengong, Dek?" tanya Bejo yang memperhatikan raut wajah istrinya berubah bingung.
"Hah, apa Mas?"
"Tuh kan, makanya jangan bengong aja, jadinya gak dengerkan kalau Mas ngomong."
"Hehehe, Maaf ya Mas, em nanti aku mau ngomong sesuatu Mas, tapi kalau kita udah pulang."
"Ngaomongin apa sih Dek, kenapa gak sekarang aja."
"Gak Ah, enakan nanti sambil tidur, hehehe."
"Pasti ada maunya ya," ucap Bejo seraya mencolek dagu Maura dengan telunjuknya.
"Maaf Ya Mas, aku gak bisa kalau harus diam aja, aku harus jujur sama kamu, dan aku gak mau ngomongnya sekarang, itu bisa buat susana hati kamu buruk, lebih baik nanti kalau sudah dirumah, aku harap kamu gak marah sama aku." Batin Maura yang sudah bersiap untuk jujur.
Tidak terasa mereka berdua susah sampai di pesantren. Maura dan Bejo turun di depan pesantren putri, karena masih ada waktu Bejo pergi ke Asrama putra sesuai janjinya untuk datang menemui Raka.
"Dek, Mas ke asrama putra dulu ya, mau ada urusan," ucap Bejo.
__ADS_1
"Iya, Mas. aku langsung temuin Amel dan Nada ya."
Bejo dan Maura berpisah, Bejo berjalan ke arah pesantren putra, dan maura sendiri masuk kedalam asrma putri.
sesampainya di asrama Putri Maura langsung masuk ke kamar Amel dan Nada, membuat semua santri yang tengah duduk bersantai pun terkejut.
"Maura?" ucap semua santri di dalam kamar itu bersamaan.
"Hehehe kompak amat sih, lagi ngapain?" Tanya maura lalu ikut duduk bersama.
"Ya Allah, gak pernah datang kesini sih, sombong ya," Lilis menggoda Maura dengan mengejek nya sombong.
"Maaf ya, bukan bermaksud begitu, tapi jiwa sombongku keluar tanpa di minta," ucap Maura dengan niat bercanda.
"Hahaha, bisa aja kamu Ra, tumben kesini. pasti ikut Ustadz Bejo mengaji ya?" tanya Lilis.
"Wah, Bu ustadz Bejo ada disini, tumben bener nih, lagi ngintilin ustadz suami ya?" Amel yang sedari tadi tengah membaca buku pun menampakkan wajahnya, sementara itu nada sudah menempel di samping Maura sedari tadi, dan membiarkan para temannya menggoda Maura.
"Iya, aku ngintilin, biar gak ada perempuan lain yang berani godain dia," ucap Maura dengan senyum manisnya.
"Dahlah, jangan godain aku mulu, nih ada rejeki, silahkan di nikmati." Maura menaruh bingkisan makanan dari Rifan tadi.
"Wah, ini makanan enak banget, nasi tumpeng ayam panggang besar banget, beli dimana Ra?" tanya Amel yang sudah merapat dengan yang lain.
"Gak beli, dapat dari kondangan di tetangga baru."
"Eh, tetangga depan rumah mu yang kaya raya itu?" tanya Nada.
__ADS_1
"Betul, orangnya sangat kaya,"
"Wah, punya anak bujang gak, boleh dong dikenalin." Sahut lilis,
"Em, di masih lajang kayaknya, orang yang punya rumah seumuran Mas Suamiku." ucap Maura jujur.
"Eh, wah. berarti kamu punya tetangga yang hot dong Ra, hati hati, nanti kamu kecantol loh," ucap Lilis yang di tertawakan oleh yang lain.
"Hus, naudzubillah, gak akan. bagi ku tetap hot Ustadz Bejo. luar dalam." Maura mengedipkan sebelah matanya.
"Ah, dasar Maura, bikin otak ku berkeliaran kemana mana." Sahut Amel yang di sambut tawa dari yang lainnya.
tak berselang lama, makanan sudah habis, di keroyok oleh banyak orang.
kini Maura, Nada dan Amel tengah duduk berama sedikit menjauh dari yang lain.
"Kenapa wajah kamu berubah muram Ra, apa ada masalah?" tanya Nada yang melihat perubahan raut wajah Maura.
"Hem, aku lagi merasa khawatir, kamu tau gak kalau tetangga yang aku maksud itu adalah Rifan." Kata Maura dengan suara lirih
"Rifan yang pernah kita temui di mall waktu itu." sahut Amel.
"Heem, dan aku sedang mempersiapkan diri buat jujur ke mas Bejo."
"Ah, emang sih kamu harus jujur, biar nanti kalau ketemu lagi gak ada salah paham, ucap Amel yang di angguki oleh Nada.
"Iya, Rifan itu juga donatur kampus kita."
__ADS_1
"Apa?" teriak Amel dan Nada bersamaan membuat yang lainya memandang ke arah mereka.