Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Nagih.


__ADS_3

Di karenakan peristiwa tadi, kini Maura dan Bejo terlihat canggung, sehingga Maura maupun Bejo tidak ada yang memulai perbincangan, di saat sarapan pun, Maura juga hanya diam saja, tidak seperti biasanya yang akan basa basi sedikit.


Mang ujang dan Bik susi saling lirik, mengisyaratkan sesuatu terjadi diantara kedua majikannya itu.


Apakah terjadi pertengkaran sehingga mereka berdua jadi diam diam saja, atau terjadi hal lain.


Maura yang tidak tahan dengan kecanggungan tersebut merasa bosan karena tidak ada yang bisa ia bahas.


Sementara Bejo malah menatap dirinya terus terusan.


"Ehem,,, neng katanya mau puasa, kok gak jadi apa neng lagi palang mereh?" tnrya Bik susi yang ingat semalam perkataan Maura.


"Enggek Bik, gak jadi udah batal." Kata Maura seraya melirik pada Bejo.


"Kok bisa, batal kenapa?" tanya Bik Susi lagi.


"Karena aku sangat lapar dan tidak bisa menahanya."


"Den Bejo juga sama, bukanya jam dua tadi sudah sahur ya?" tanya Bik susi kini bergantian puasa Bejo.


"Iya Bik, saya tidak sengaja tadi pagi pagi sekali makan sesuatu yang sangat manis, sangking manisnya saya tidak bisa berhenti, karena itu saya tidak berpuasa sekarang." Bejo menjawab seraya mengerlingkan matanya pada Maura yang melotot mendapat kerlingan mata dari Bejo.


"Oh, begitu, ya sudah, silahkan nikmati sarapan kalian Saya mau antar ini pada pak satpam biar sarapan dulu sebelum pulang." Ujar Bik susi dengan menenteng makan pagi pada satpam yang akan segera pulang pasalanya akan bergantian dengan temannya yang berjaga di pagi hingga sore hari.


Setelah selesai sarapan, Bejo langsung menuju ruang kerjanya, mungkin ia tengah memberikan pengajaran pada mahasiswanya sementara itu Maura asik membaca buku buku yang ada di dalam kamarnya.


Mendapat satu jam Maura membaca buku ia baru ingat jika besok mertuanya itu akan datang langsung dari korea.


Maura berpikir sejenak apa yang seharusnya ia lakukan untuk menyambutnya.


Kira kira mertuanya itu bisa menerima dengan baik dirinya atau tidak ya, secara Anaknyakan sangat tampan dan mapan, seharusnya bisa mendapat istri yang lebih baik lagi seperti wanita lain.


"Kalu di pikir pikir mertua ku itu bisa bahasa indo gak ya, kalau dia omongnya bahasa korea aku yang gak bakalan mengerti," gumam Maura dengan menatap keluar jendela.


"Kenapa memusingkan hal itu, kan ada aku." Suara Bejo yang tiba tiba hadir membuat Maura terkejut.


"Eh, Mas," gumam Maura dengan memutar badanya menghadap Bejo.


"Kamu itu suka sekali melamun, sudah beberaa kali aku mengetuk pintu tapi kamu tidak mendengarnya, Dek Siti sedng melamunkan apa?" Tanya Bejo pada akhirnya.

__ADS_1


"Dek Siti, kenap kamu terus memanggilku begitu sih." Protes Maura merasa tidak senang dengan nama yang di berikan Abah.


"Memangnya kenapa kan nama kamu Siti," ucap Bejo sambil duduk di samping Maura.


"Jangan dekat dekat Mas, semua ini gara gara kamu aku gak jadi puasa. Aku tidak suka di panggil Siti Mas," ucap Maura memberitahu.


"Lalu kmu mau di panggil siapa?"


"Maura, kayak yang lain panggil aku Maura," tutur Maura seraya tersenyum.


"Tidak, saya tidak suka memanggil dengan nama yang di pakai banyak orang, kamu itu sepesial, jadi hanya akau dan keluarga mu saja yang dapat memanggil nama Siti, bukankah itu hal yang sangat sepesial, tandanya aku sudah sangat mengenal diri mu.


Dan Ya, bukan salah ku jika kamu batal berpuasa, karena ini sangat lah menghoda." Tunjuk Bejo pada bibir Maura yang merah merekah itu.


Saat ini pun Bejo ingin mencium lagi bibir Maura, tapi ia tidak ingin mendapat penolakan sehingga Bejo hanya diam belum bertindak.


"Ck, terserah kamu lah Mas." Waja Maura terlihat bersemu merah membuat Bejo semakin gemas.


Dan kini tanpa sadar ia mengulang lagi ciuman seperti di waktu subuh.


Tidak ada pemberontakan dari Maura kali ini, sehingga Bejo bisa leluasa mengeksplor ciumannya yang semakin lama semakin menuntut.


"Host host host." suara Maura yang tersengal, mencoba meraup oksigen yang tadi hampir habis.


Seperti ketagihan, Bejo menarik pinggang Maura sehingga tubuh mereka saling berdekatan tanpa ada jarak sedikitpun.


"Stop Mas, yang tadi subuh aku belum hikin perhitungan sama kamu, sekarang kamu sudah main sosor lagi, apa lagi kamu kan yang udah menghilangkan pembatas yang aku buat." Protes Maura seraya mendorong kuat tubuh Bejo agar tidak terlalu dekat dengan dirinya.


"Jangan marah, maaf aku tidak bisa menahanya, dan sekarang sepertinya kamu harus selalu siap menerima ciuman saya, karena saya mulai sekarang, tidak akan sungkan untuk melakukanya." Jelas Bejo yang membuat Maura melotot.


"Dan menag saya yang menghilangkan pembatas, untuk apa kita pakai pembatas, bukan kah kita suda setuju untuk memulai hubungan baru, jika kamu memasang pembatas akan sulit untuk saya masuk kedalam hatimu."


"Em, aku melakukannya karena tidak terbiasa tidur di pekuk dengan orang,"


"Tapi buktinya saya peluk kamu aman aman saja,"


"Nah itu dia yang aneh, padahal ya, kalau di asrama aku akan terbangun dari tidur saat Amel atau Nada memeluk ku saat tidur." Terang Maura seraya telunjuknya bermain di pundak Bejo.


"Manisnya," gumam Bejo di dalam hatinya melihat tingkah Maura yang lucu dalam pelukannya itu.

__ADS_1


"Mas," panggil Maura.


"Heem," jawab Bejo dengan terus menatap wajah Maura.


"Samapai kapan kita bepelukan begini?" tanya Maura seraya memandang lekat mata Bejo.


"Beri aku kecupan, maka akan aku lepaskan pelukannya."


"Ih, maunya kamu itu mah, lepasin dong aku mau baca buku lagi," ucap Maura.


"Emangnya kamu tidak mau mencium suami sendiri, Pahala loh Dek." seringai Bejo membuat Maura gelagapan.


"Ih, jangan godain aku begitu, ya sudah, nih."


"Cup." Kecupan singkat mendarat di pipi kanan Bejo.


"Kok yang kanan aja, yang sini nangis tuh karena iri." Protes Bejo yang kuni menyodorkan pipi kirinya.


"Cup." kecupan singkat mendarat di pipi Kiri Bejo.


"Sudahkan, bisa lepaskan aku?" senyum Maura dengan wajah yang bersemu.


Tanpa menjawab Bejo masih memandangi wajah Maura, kemudian mengecup lama kening Maura, setelah melepaskan pelukanya.


"Besok kita balik ke surabaya," ucap Bejo kemudian.


"Loh, kamu bilang Papa mu mau datang, kok malah balik ke surabaya?" tanya Maura heran.


"Maaf karena tidak bisa menahan godaan dari bibir kamu, Saya lupa kasih tau tadi, Klau Papa ku betal pulang ke sini, ia bilang ada pekerjaan yang sangat penting jadi ia tidak bisa meninggalkanya." Terang Bejo panjng lebar.


"Em, begitu ya."


"Apa kamu kecewa?" tnya Bejo.


"Gak terlalu sih, karena aku pun takut kalau nanti bertemu, dia menolak ku menjadi menantunya bagaimana?"


"Tidak mungkin aku sudah mengirimkan foto kita, dia bilang kamu cantik."


"Benarkah, em emang cantik kan kalau gak cantik gak mungkin kan aku jadi idola para santri putri di asrama." Bangga Maura memamerkan dirinya.

__ADS_1


"Oh, iya, tapi gak heran sih kan kamu memang cantik," ucap Bejo memuji tulu pada Maura.


__ADS_2