Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Sapaan


__ADS_3

Maura berjalan santai menuju aula yang memang biasa di buat mengaji bersama Ustadz Bejo, Maura memilih untuk berangkat akhir akhir saja, tidak mau berdusel dusel dengan banyaknya santri.


Hingga ia menjadi santri yang paling akhir datangnya, bahkan sekarang ia masih menaiki tangga dengan santainya.


Melihat seorang santri yang ia kenali meski dari belakang, Bejo menambah kecepatanya untuk mensejajari santri putri tersebut.


"Assalamualaikum, Dek Siti." Sapa Bejo seraya memberikan senyuman mematikanya.


Benar saja Maura yang mendengar sapaan salam dari suaminya itu langsung mematung seperti orang mati, sangking kagetnya tidak menyangka jika orang yang memberikan salam itu Ustadz Bejo.


"Ada salam di jawab Dek bukannya malah bengong," ucap Bejo lagi yang langsung menyadarkan Maura.


"Wa waalaikum salam, warahmatullai wabarokatuh," jawab Maura ternata bata.


Sambil menoleh kesan kemari Maura berbicara.


"Udah buruan masuk, jangan disini nanti ketahuan," ucap Maura seraya mendorong Bejo untuk segera menjauh.


"Ck kamu ini, ketemu suaminya kayak ketemu hantu main usir usir melulu," gerutu Bejo dengan tetap berjalan mendahului Maura.


"Ih, siapa yang suruh situ bikin kaget, main sapa, kan dah di bilang anggap kita gak saling kenal, situ sendiri yang bikin masalah." Maura terus menggerutu di dalam hatinya.


"Hai ra, ngapain sih masih di situ tuh Ustadz Bejonya udah dateng. Buruan kesini." Panggil Amel yang sadar jika Maura masih ada di luar.


"Iya ini aku masuk." Maura berjalan cepat menuju Amel. Kemudian Maura duduk di paling belakang sehingga tidak tampak jelas saat memandang Bejo yang ada di depan.


Sementara dalam pandangan Bejo malah hanya Maura yang terlihat jelas padahal Maura ada di ujung sendiri.


Memang Benar wajah Bejo yang hanya berkedok korea, tetapi jiwanya sudah asli indonesia sampai memaknai kitab kuning yang berbahasa jawapun ia lancar, bikin para santri putri semakin klepek klepek.


Apa lagi saat ada yang minta di artikan ke dalam bahasa korea dan Bejo mau mau aja, mereka semakin terpesona dengan Bejo yang menguasai beberapa bahasa itu.


Bejo memang cukup cerdas, selain bahasa indonesia dan korea, bahasa ingrisnya juga bagus, di tambah bahasa jawanya juga tidak buruk membuatnya semakin di gilai oleh para santri.


Maura pun diam diam merasa kagum, karena ternyata Bejo memang bisa mengusai beberapa bahasa dan juga penjelasan dari kitab yang di ajarkan pun mudah di pahami.


"Gak heran semuanya suka sama kamu Mas, ck, aku semakin yakin keputusan ku untuk menyembunyikan pernikahan kita itu hal yang terbaik." Batin Maura.


"Ok, sebelum kita mengakhiri mengajinya adakah yang mau di tanya kan."

__ADS_1


"Saya Ustadz," jawab salah satu santri mengangkat tanganya.


"Iya silahkan, tanya apa?"


"Em, begini Ustadz, tipe wanita idaman Ustadz itu yang seperti apa?" tanya santri tersebut yang langsung mendapat sorakan dari santri lain.


"Saya sudah pernah bilang ya, tidak akan saya jawab pertanyaan yang tidak ada hubunganya dengan pembelajaran kita hari ini," jawab Bejo ramah tanpa sedikit pun marah.


Tampak kekecewaan di raut wajah para santri yang sepertinya mereka semua juga penasaran dengan tipe wanita idaman ustadz Bejo.


"Kalian bertanya tipe wanita idaman, tentu jawabannya ya yang seperti istri saya lah," jawab bejo dalam hati tentunya.


"Baik karena tidak ada pertanyaan lagi, sara rasa kucup sekian, wassalamualaikum warahmatullahi wabaro katuh." Bejo bangkit dari duduknya hendak melangkah keluar pintu aula.


Namun ia terhenti di ambang pintu karena di cegat oleh para santri untuk memberikan hal favorit Bejo yang pastinya akan membuat Fahri sangat senang.


Maura yang melihat para santri tengah asik memandangi Bejo, ia mengambil kesempatan tersebut untuk keluar terlebih dahulu, membuat Bejo bisa melihat Maura yang pulang terlebih dahulu.


Sesampainya di asrama.


"Bagaimana Ra, udah gak penasaran lagi kan," tanya Amel pada Maura yang kini tengah menata kasurnya.


"Iya beda lah Ra, kemaren kan di kampus kalau ini kan pas mengaji," sahut Nada.


"Kok aku lihat Ustadz Bejo makin ganteng aja ya, beneran sumpah penasaran banget dia udah nikah apa belum sih." Nada penasaran dengan setatus Bejo


"Uhuk uhuk uhuk..." Maura tersedak dengan air minumnya yang baru saja ia tenggak dari botol mineral.


"pelan dong Ra, gitu aja bisa kesedak sih." Amel menepuk mepuk pundak Maura.


"Udah lah aku mau tidur, masak minum aja aku tersedak sih." Maura melampiaskan kemarahanya pada botol mineral tersebut yang ia lempar ke dalam tong sampah sebelum ia membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Ye, Maura kamu yang minum gak hati hati botol air yang kena tuahnya." Nada menyindir sikap Maura yang tidak bijak tersebut.


Tetapi Maura mengabaikanya ia tidak peduli. "Salah sendiri kepo bener sih sama setatus orang, mana yang di kepoin suami orang lagi, nih istrinya lagi baring di depan kalian," gerutu Maura yang tentunya di dalam hati. Mana munglin Maura berani mengatakan secara langsung. Bisa bisa kiamat dunia ini.


Di asrama putra.


"Wah beneran kan kalau Bang Bejo yang ngajar tuh penuh rizqi, kita pesta kerupuk malam ini," ucap Fahri dengan menenteng kerupuk berukuran sangat besar yang kemudian mendapat sambutan meriah dari santri santri lainnya lalu menyerbu kerupuk tersebut.

__ADS_1


"Hebat kamu Jo, gak di pesantren gak di Kampus kamu jadi pusat nya para santri putri." Puji Rahmat.


"Oh, Ustadz bisa saja, Ustadz kan juga sangat populer di kalangan mahasiswa perempuan," balas Bejo tak mau kalah.


Ya sebelum kedatangam Bejo, di kampus Rahmatlah yang paling populer, selain tampan sikapnya juga ramah, apa lagi semua orang tau jika dia masih singgle.


Rahmat itu hanya menjadi dosen di kampus, sementara di pesantren ia hanya mengajar ada santri putra saja, masalah ia bisa tertarik pada Maura ya lewat kampus saja.


begitu Bejo datang, Ustadz populer beralih pada Bejo, meski Rahmat tetap menjadi salah satu yang populer.


Dua hari telah terlewati, kini Maura tengah menunggu mobil rental Ustadz Zainal menjemputnya di halte bus, karena tidak mungkin kan ia minta di jemput di depan asrama putri bisa bisa heboh se pesantren kalau pada tau Maura di jemput oleh ustadz Zainal serta idola mereka ustadz Bejo.


Bejo dan Maura di antar ke bandara oleh Ustadz Zainal berserta istri sedangkan anaknya tengah bersekolah.


Kali ini Ustadz Zainal dan Istrinya tidak ikut sehingga hanya Maura dan Bejo saja yang akan terbang ke jakarta.


Berbagai pesan di ucapkan oleh Ustadz Zainal, agar Bejo bisa menjaga Maura dengan baik, mengingat bagaimana sikap Ummi kulsum serta Marya Ustadz zainal besrta istrinya khawatir jika Maura kenapa kenapa disana.


Bejo pun sudah berjanji akan menjaga Maura dengan baik disana, jadi ia berpesan agar paman dan bibinya itu tidak usah kahwatir lagi.


sesampainya di dalam pesawat Maura memilih duduk di tengah sementara Bejo di samping jendela, mengantisipasi jika hal yang seperti kemarin terjadi lagi.


Beberpa menit kemudian, ternyata yang duduk di samping Maura bukanlah wanita seksi melainkan Laki laki tampan yang membuat Bejo langsung meminta tukar tempat.


Maura sempat menolak karena ia pikir bisa sekalian cuci mata pada cogan, tetapi mendapat tatapan tajam dari Bejo mau tidak mau Maura pun pindah tempat.


Bejo di landa Cemburu sehingga menggenggam erat jemari Maura untuk di tunjukkan pada laki laki di sampingnya bahwa gadis cantik itu adalah miliknya.


"Ih, lepasin dong, tangan ku gatal nih, kamu gandeng kayak begini, kayak mau menyabrang jalan aja." Tegur Maura.


"Sttt.. Gak usah protes di kasih pahala kok gak terima kasih malah ngomel, ini tuh surga kamu," ucap Bejo seraya menunjuk pada dirinya.


Maura memutar bola matanya malas, meskipun apa yang di kataka Bejo itu benar tetapi ia jengah dengan sikap Bejo yang sedari tadi tidak mau melepas genggaman tanganya, padahal tangan Maura sudah basah karena keringat.


Sepanjang perjalanan di dalam pesawat Bejo melakukan semua hal yang membuat Maura melongo, dari menyuapinya, berbicara dengan sangat lembut, memanggilnya sayang, mengecup keningnya.


hal itu Bejo lakukan hanya semata untuk menunjukkan bahwa Maura adalah istrinya, lagi pula itu kesempatanya untuk menunjukkan pada semua orang jika mereka adalah pasangan suami istri.


"Udah dong jangan peluk peluk begini kita udah mau turun ini," ucap Maura yang sangat risih karena Bejo masih saja memeluk dirinya di saat mereka antri turun dari pesawat.

__ADS_1


__ADS_2