
Keesokan paginya, Maura dikagetkan dengan sebuah kue brownis yang menggugah selera, serta bunga yang ada di atas meja.
Bejo pun juga terkejut melihat ada sebuah bunga dan kue di atas meja makan.
"Bik Inem, ini kue sama bunga dari mana?" tanya Maura, padahal tadi saat dirinya memasak untuk sarapan pagi tidak ada Kue dan Bunga itu.
"Em, itu Non, dari tetangga depan, katanya buat tasyakuranya mereka, karena hari ini sudah menempati rumah tersebut." Kata Bik Ienm seraya menyiapkan susu di gelas.
"Oh ada tetangga baru ya, Dek?" tanya Bejo yang kini duduk di samping Maura.
"Em, iya Mas, kemarin aku lihat mereka pindahan, teranyata benar ada yang nempati."
"Tapi kok aneh sih, kirim bunga segala." sahut Bejo yang kini mengambil bunga tersebut serta menelitinya.
"Iya juga ya, kenapa harus pakai bunga segala, apa mungkin orangnya suka dengan bunga maka dari itu semua tetangganya dikaaih sebuket bunga." pikir Maura yang membuat Bejo mengangkat Bahunya.
"Kamu mau bunga, nanti Mas belikan aja, ini bunga di taruh belakang aja." Bejo memberikan sebuket mawar merah yang cantik nan harum itu pada Bik inem untuk di taruh di taman belakang.
"Kalau kuenya gimana Mas?" tanya Maura.
"Ya dimakan lah Dek, masak mau di tanem, kan dia bukan hunga."
"Kirain mau di bawa kebelakang buat nemenin si itu bunga."
"Hehehe ya gak lah dek, kita hargai tetangga yang kasih kita rejeki, niat nya sudah baik loh, Mas cuma gak suka aja sama bunganya, kalau kuenya suka, kan bikin kenyang."
Mendengar perkataan suaminya Maura tertawa keras, Maura tau jika suaminya itu dalam mode cemburu, pagi pagi sudah ada yang kasih bunga pasti dipikirannya tetangganya itu seorang duda lama tidak mendapat belaian, sehingga memberikan bunga pada tetangga baru.
"Sudah ah, yuk sarapan dulu, nanti telat lagi ke kampusnya, Mas serius udah baik kan keadaanya?" tanya Maura seraya menempelkan tanganya di kening dan leher Bejo untuk mengecek ulang suhu tubuh suaminya itu.
__ADS_1
Bejo meraih tangan Maura dan mengecupnya, seraya berkata.
"Aku baik baik saja sayang, sudah gak demam juga sudah gak pusing, untuk antisipasi habis makan Mas bakalan minum obat yang dari apotik kok, jadi kamu gak perlu khawatir."
"Oke, aku percaya sama kamu, ya udah gih sarapan." Maura mau mengambil nasi dan menuangkannya di piringnya sendiri.
Tetapi Bejo mencegahnya, Maura paham dengan tindakan Bejo. Diurungkannya aksinya untuk mengambil nasi, dan memilih diam menunggu Bejo untuk menyuapinya.
Bejo menyuapi Maza dengan telaten, hingga satu piring makanan habis, kemudian mereka bersama sama pergi ke kampus.
Maura sempat melihat ke arah depan tepatnya di rumah tengga barunya itu, yang ternyata masih sangat sepi, atau mungkin penghuninya sudah pada berangkat beraktivitas itulah yang dipikirkan Maura.
"Mas, nanati pulang dari kampus kita mampir ke rumah Paman ya, ini kue kan besar, pengen bagi bagi sama fadil." Kata Maura yang ingin bermain dengan keponakannya itu.
"Siap Sayang, kayaknya Paman dan Bibik juga lagi kangen sama kamu, kemarin pas Aku ke sana tanpa kamu, bibik cariin kamu loh, pas banget hari ini kamu bawa kuenya kita tinggal beli buah nya aja buat temenin si kue."
"Sip Suami ustadzku sayang." Bejo tersenyum mendengar panggilan baru dari istrinya itu.
"Aku harus membuat sesuatu sehingga merka bisa datang berkunjung kerumah ini," gumam laki laki yang berwajah rupawan itu.
"Tetapi sebelum itu, aku harus pergi melakukan sesuatu, kita akan segera bertemu my baby." Laki laki itu lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sesampainya di kampus, Bejo cukup terkejut karena ternyata hari ini akan ada tamu yang mau menyumbangkan risqinya untuk pembangunan kampus tersebut, bukan pejabat, tetapi hanya seorang pengusaha kaya raya.
yang dari dulu sudah mengucurkan dana setiap kampus melakukan pembngunan gedung.
sehingga semua dosen akan menyambutnya dengan baik di ruang pertemuan.
"Selamat pagi semuanya, maaf saya mengganggu waktu kalian, ini saya memang cukup mendesak waktunya, sehingga saya meminta waktu sekarang untunk salingng menyapa," ucap laki laki yang masih muda itu, jika dilihat usianya setara dengn Bejo.
__ADS_1
"perkenalkan saya Rifan Wijaya, saya menggantikan papa saya mengurus pengaliran dana di kampus ini. Sebelumnya saya berterimakasih karena sudah menerima saya dengan baik disini" sambung laki laki tersebut memeprkenalkan diri.
Bejo yang baru saja diberitahu oleh Rahmat jika Keluarga wijaya itu penyokong dana terbesar di kampus serta pesantren ini, sudah lebih dari sepuluh tahun mereka mengucurkan dana di kampus serta pesantren ini.
Dan kini telah di gantikan oleh sang putra, karena beritanya sang Papa telah pensiun karena sakit sakitan.
Bejo yang mendengar nama Rifan sempat berpikir apakah Rifan di hadapannya ini sama dengan Rifan yang dimaksud oleh sang istri.
Tetapi Bejo menampiknya karena nama Rifan tidak hanya orang ini saja,mungkin mereka berdua orang yang berbeda.
Setelah sesi perkenalan, dan penjelasan tentang pembangunan yang akan dilaksanakan, Rifan pamit undur diri, sebelum pergi, Rifan menatap tajam pada Bejo.
Entah orang lain menyadarinya atau tidak, tetapi Bejo pun meraskan jika tatapan Rifan bukanlah hal yang baik baginya.
Bejo juga sempat berpikir apakah mereka pernah saling bertemu sebelumnya, kenapa Rifan menatapnya sampai sebegitu.
"Alhmdulillah, semuanya berjalan lancar, semoga pembangunan kali ini juga berjalan lancar seperti tahun tahun sebelumnya." Pak Rektor mengakhiri dengan doa bersama kemudian memeprsilahkan para dosen dan staf lainnya meninggalkan ruang pertemuan.
Sang rektor ini selalu transparan ketika mendapat kucuran dana dari manapun, karena itu semua staf dan dosen selalu diajak untuk ikut dalam pertmuan.
"Saya tidak mengira dia masih sangat muda, tapi sudah bisa menjadi pengusaha besar sepeti itu, menggantikan sang Papa." Ujar Rahmat yang merasa kagum pada Rifan.
"Ya, alhamdulillah, dia juga mau meneruskan apa yang ayahnya lakukan pada kampus dan pesantren ini." Sahut Bejo.
"Betul, alhamdulillah sekali. Ya sudah saya lanjut masuk kelas dulu ya." Rahmat berjalan lebih dulu.
Sementara Bejo masih merasa heran dengan tatapan Rifan tadi, tetapi kemudian Bejo tidak mau memusingkannya dan berjalan cepat menuju kelas Maura, yang mana hari ini jadwalnya ia mengajar di kelas sang istri itu.
"Semuanya sudah sesuai rencana, pak tua itu tidak akan bisa menghalangiku, mendapat apa yang aku inginkan." Senyum menyeringai telihat di wajah Rifan, saat ini dirinya tengah duduk manis di dalam mobil mewahnya.
__ADS_1
Sementara itu dirinya mengabaikan panggilan yang berada di ponselnya, tertulis nama Papa di layar ponsel.
Meskipun bising tetapi Rifan membiarkanya, dan malah berjoget sesuai dengan irama dering ponsel miliknya itu.