Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Jujur


__ADS_3

"Kamu seriusan Ra, jadi Rifan itu juga orang kaya yang kasih sumbangan buat pembangunan di kampus kita?" tanya Amel dengan suara pelan. Maura pun mengagukkan kepalanya.


"Aku takut Mas Bejo marah, kalau aku jujur masalah ponsel yang waktu itu, Pas tau aku di belikan orang ponsel dia aja udah marah, apa lagi kalau tau yang belikan itu Rifan, pasti bakalan marah banget." Maura menunduk setelah mengatakan ketakutannya.


"Waduh, kok kayak kebetulam begini sih, tapi Ra, kamu emang harus segera mengatakan yang sebenarnya biar ustadz Bejo tidak makin salah paham nantinya." Saran Amel yang di angguki oleh Nada.


"Iya, tapi aku takut." Maura memperlihatkan wajah sedihnya.


"Semangat, aku yakin kamu bisa, mending marah sekarang ketimbang nanti Ra, kan nanti atau sekarang sama aja sama sama di marahinnya." Sahut Nada memberi semangat untuk Maura.


"Iya deh, semangat." ucap Maura dengan suara lirih.


"Samangat samangat semangat." Nada dan Amel berkata berbarengan.


Terdengar seuara adzan Isya', semua santri pun bergegas mengambil Air wudhu dan pergi berjamaah di mushalla, Maura pun juga ikut shalat berjamaah.


selesai shalat barulah para santri putri tinggat lanjut bersiap siap untuk menghadiri jadwal mengaji ustadz Bejo.


sementara itu di Asrama putra, Bejo pun juga sudah selesai melaksanakan shalat isyak di masjid.


dan dia pun bertemu dengan ustadz rahmat.


"Gimana Ustadz, si Raka minta apa?" tanya Ustadz Rahmat yang kini berjalan mensejajari Bejo.


"Ternyata cuma minta di ajari menjawab soal bahas inggris Ustadz, saya pikir ada hal genting apa, sampai harus titip salam begitu." Terang Bejo.


"Iya ya, apa dia gak ada nomor ustadz, di ponsel pengurus kan pasti ada, kenapa gak menghubungi lewat ponsel saja." Heran ustadz Rahmat.


"Katanya, ponsel pengurus tidak ada pulsanya ustadz, makanya dia titip salam pada ustadz, lagian saya heran, kan ustadz juga ada, kenapa masih repot repot minta saya, kenapa tidak ke ustadz saja yang juga jago bahasa inggris." Keluh bejo yang mendapat tepukan di pundaknya.


"Ya, tidak bisa begitu ustadz, orang Raka maunya ustadz yang ngajarin dia, ya gak akan mau kalau saya yang ngajari."


"Iya, juga sih, yah Alahamdulilah dia tadi cepat bisanya, dan tadi saya sudah pesan kok ke raka, kalau saya tidak ada, bisa minta tolong ustadz rahmat saja yang stanbay di asrama."


"Begitu ya, Alhamdulillah kalau begitu."

__ADS_1


"Em, saya pamit duluan ya Usyadz. Saya mau ke asrama putri untuk mengisi pengajian kitab," ucap Bejo berpamitan.


"Oh, ada jadwal ya, silakan Ustadz, saya juga ada jadwal di kelas putra. kalau begitu kita pisah sampai disini."


"Iya, Ustadz. Mari?" Bejo menyapa Rahmat dan di angguki oleh rahamat, mereka kemudian berpisah jalur untuk menuju kelas masing masing.


"Kenapa, Aku terbayang dengan wajah nya ya, saat ustadz bejo bilang mau ke asrama putri, ada apa dengan diri ku, apa mungkin aku jatuh hati padanya, tidak salah sih, dia juga manis." Batin Ustadz Rahmat yang kini tengah terbayang wajah Nada.


Bejo sudah sampai di aula asrama putri, dan santri pun telah berkumpul, Seperti sebelumnya setiap ada Maura, pandangan Bejo hanya bisa mengarah padanya, wajah cantik nya begitu jelas terlihat, meskipun dirinya berada di banyak kerumunan orang.


Bejo memulai mengaji kitabnya, dan alhamdulillah berjalan dengan lancar, suasana mengajipun kondusif, satu persatu dari santri puntri pun kembali ke asrama karena mengaji kitabnya sudah selesai.


"kita langsung pulang kan, Dek?" tanya Bejo begitu Maura menghampiri nya.


"Iya, Mas langsung pulang, yuk." Maura menggandeng mesra lengan suaminya, membuat Bejo mengerutkan keningnya.


Merasa heran tumben si Maura berlaku manja, padahal Maura melakukan hal itu memang di sengaja agar mereka yang sirik semakin terbakar hatinya.


Maura tau jika masih ada anggota Lala yang masih belum pulang.


"Aku capek, harus turun tangga." keluh Maura yang memang sengaja dibuat buat manja.


"Mau di gendong?" tanya Bejo yang mengira jika di belakang mereka sudah tidak ada orang lagi.


"Gak ah, Mas. Malu nanti kalau ada yang lihat dikirainnya aku manja." kata Maura pura pura menolak.


"Lah, gak papa sayang, kan manja sama suami sendiri, itu malah wajib. sudah sini Mas gendong." Bejo langsung menggendong Maura dan turun dengan perlahan.


"Ya udah, nanti turunin kalau udah di lantah bawah ya."


"Iya, sayang ku." Bejo mengecup kening Maura dengan mesra.


Lala dan teman temannya yang ada dibelakang, merka pun merasa sangat kesal akan apa yang dilakukan Maura, Lala dan teman temannya memang sengaja pulang paling akhir, berniat untuk menyapa ustadz Bejo, tetapi malah melihat hal yang sangat ia benci.


"Dasar, ulat bulu, sok banget manja manjaan sama ustadz Bejo, bikin kesel aja. " Gerutu Lala.

__ADS_1


sementara itu Maura diam diam tersenyum penuh kemenangan.


sesuai janjinya, Maura diturunkan di lantai paling bawah, kemudian mereka menju mobil dan pulang.


sesampainya dirumah, setelah membersihkan diri, mengganti pakaian, Bejo menagih janji, suatu hal yang mau di bicarakan oleh maura.


"Ayo Sayang, katanya mau bicara sesuatu."


"Iya, bentar Mas." Maura masih menyisir rambutnya. setelah selesai barulah Maura menghampiri Bejo.


"duduk gih, Mas udah gak sabara mau dengar apa yang ingin kamu bicarakan." Bejo menatap Maura yang masih saja berdiri dihadapannya .


Tanpa di duga Maura duduk di pangkuan Bejo, bahkan memeluknya dengan erat.


"Ada Apa sayang, bicaralah." Bejo mulai khawatir jika hal yang ingin di bicarakan Maura adalah hal yang samgat buruk .


"Janji gak bakalan Marah ya," ucap Maura masih setia memeluk Bejo.


"Bilang dulu baru Mas bisa tentukan marah atau tidak."


"Harus janji gak boleh marah, atau aku gak akan bilang." Ancam Maura yang kini menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Bejo.


"Ya sudah, iya janji. kalau begitu sudah bisa bicara?"


Maura mengehembuskan nafasnya hingga mengenai kuping Bejo, membuatnya sedikit sensitif.


"Mas, sebenarnya orang yang belikan aku ponsel itu adalah Pak Rifan, dia orang yang gak sengaja menabrak aku pas di Mall."


"Apa, tapi bukannya kamu gak kenal sama dia, tadi aja kalian kaya orang baru kenalan, gak saling kenal." Bejo berusaha melepas pelukan Maura dan membuatnya menatap matanya, tetapi Maura dengan erat tidak mau melepaskan pelukannya itu.


"Maaf, tadi aku pura pura gak kenal sama dia, takut kamu marah marah sama aku." Maura memulai aksinya untuk meredam amarah Bejo yang sudah terasa dari datak jantungnya yang memompa lebih cepat.


Dan itu bisa dirasakan oleh maura, karena itu, Maura memberikan sentuhan sensitif pada belakang kuping Bejo, yang membuat Bejo langsung membawa tubuh Maura ke ranjang dan mengukungnya.


"Baiklah, kalau begitu terima hukumannya, karena kamu gak jujur dari awal sayang."

__ADS_1


__ADS_2