
Begitu semua uang sudah siap, pagi ini Bejo, Maura dan hendra segera berangkat menuju lokasi yang telah di beritahu oleh si penculik.
"Semoga Oma baik baik saja ya Mas, aku merasa perasaanku gak enak." Ungkap Maura yang tambah gelisah.
"Sabar sayang, semoga Oma dan Bibik Eme baik baik saja, sebentar lagi kita akan bertemu dengannya dan menyelamatkannya." Balas Bejo seraya menggenggam jemari Maura untuk menenangkan sedikit kegelisahannya.
"Aamin, semoga saja."
sesampainya disana Keadaan sangat sepi, membuat Maura semakin khawatir.
"Kok sepi Mas, para penculiknya kemana, Oma dan bibik Eme ada di mana," ucap Maura yang Bejo pun juga tengah bingung karena kondisinya benar benar sepi.
Hendra dan sebagian anak buahnya tengah memeriksa di dalam, beberapa saat kemudian mereka keluar dan mengabarkan jika tempat tersebut kosong, polisi yang juga memeriksa lingkungan sekitar pun tak menemukan apapun.
Hanya bekas perkelahian saja yang mereka temukan, yang berarti telah terjadi penyerangan tadi malam.
Maura sangat kecewa pasalnya dirinya sangat berharap bisa segera menyelamatkan Oma dan bibik Eme, tetapi nyatanya dirinya harus pulang dengan tangan kosong.
__ADS_1
sesampainya dirumah, Maura dan yang lainnya di kagetkan dengan adanya Rifan yang telah menunggu di dalam.
"Kalian kecewa ya, tidak bisa menemukan Oma?" ucap Rifan dengan santai.
"Apa Pak Rifan yang membawa Oma." tanya Maura dengan berani.
"Memangnya apa salahnya jika aku membawa Oma, toh aku juga cucunya." Rifan berdiri menghampiri Maura.
"Pak Rifan Mau ngapain?" hadang Bejo begitu Rifan hendak mendekti Maura.
"Mau apa, aku hanya ingin lebih akrab dengan Adik ku, itu saja." Rifan sangat santai bahkan dirirnya sama sekali tidak takut, berada di kandng musuh.
"Apa syarat nya?" tanya Maura tak sabar.
"Kau ikut dengan ku dan tinggalkan dia. " tunjuk Rifan pada Bejo yang membuat Maura Bejo bahkan Hendrapun terkejut.
tak ada yang menyangka jika Rifan kan memita Maura untuk meninggalkan Bejo dan pergi ke sisinya.
__ADS_1
"Pak Rifan lagi ngimpi ya, bangun dong Pak, masak anda mau saya meninggalkan suami saya, bapak pikir saya akan mau, tentu aja gak." Maura sangat kesal dengan syarat yang tak masuk akal itu.
"Em, pikirkanlah selagi aku masih memberimu kesempatan, atau kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan Oma tersayangmu itu." Ancam Rifan.
"Ya sudah, Oma buat Pak Rifan aja, bapak yang rawat Oma, aku akan merawat perusahaan, aku kan ahli warisnya, Pak Rifan kan tadi bilang kalau kau juga cucunya, jadi rawat Oma dengan baik ya." Maura pun menepuk lengan Rifan seraya tersenyum lalu pergi meninggalakan Rifan yang sedikit terkejut dengan jawaban Maura.
Bejo yang juga terkejutpun lalu mengikuti Maura masuk kedalam kamar.
"Sayang, terimakasih ya, kamu tidak meninggalkan aku." Bejo memeluk Maura dari belakang.
"Tentu aja aku gak akan ninggalin kmu Mas," ucap Maura.
"Tapi Mas, sekarang gimana caranya menyelamatkan Oma dari genggaman tangan Pak Rifan, sampai kapan pun kalau sayaratnya itu aku gak akan mau." Maura membalikkan badannya dan memeluk erat Bejo.
"Mas akan cari cara lain sayang, agar bisa membawa Oma pulang, kita cari cara yang lainnya ya. jangan khawatir pasti Oma sekarang baik baik saja." Bejo mengeratkan pelukannya.
"Kita kasih aja lah Mas, perusahaan Papa ke Pak Rifan, tapi cuma perusahaan aja, gimana kita nego sama itu, lagian kan kamu udah punya uasaha sendiri kan, kita juga gak akan bisa menangani perusahaan itu secara langsung, Demi Oma aku rela kehilangan harta." Usul Maura.
__ADS_1
"Kita diskusikan dulu sama Pak Hendra ya, baiknya bagaimana, beliau pasti jauh lebih paham tentang semua ini."
"Iya, besok kita temuai pak Hendra. aku lelah, ayo tidur." ajak Maura yang merasa sangat lelah dan mengantuk.