Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Iklan lewat


__ADS_3

Saat ini Maura tengah berada di dalam kamar, mengobati luka lebam Bejo yang sudah sedikit memudar warnanya.


"Masih sakit, Mas?" tanya Maura dengan mengoleskan saleb.


"Sudah enggek kok Dek. Besok pasti udah sembuh total." Kata Bejo seraya melihati wajah Maura dengan seksama.


"Kenapa melihatnya seperti itu?" tanya Maura penasaran.


"Kamu cantik," ucap Bejo memuji Maura.


"Makasih, pujiannya, tapi pasti ada maksud lain kan." selidik Mara karena tiba tiba di puji, merasa ada maunya dengan pujian suaminya itu.


"Tau aja kamu dek, kalau Mas lagi Mau." Kata Bejo yang langsung mencium bibir Maura.


Sudah bisa menebak apa yang da di kepala Bejo, Maura pun hanya bisa pasrah dan mengabulkan keinginan sang suami, toh mereka sudah selesai shalat isya' tinggal tidur saja, tetapi tidurnya harus melewati perjalanan yang nikmat dulu sebelum samuk ke alam mimpi.


Ke esokan paginya, Maza seperti biasa akan bangun terlebih dahulu, kali ini dirinya membntu Bibik Aisyah masak di dapur, memebiarkan suaminya tidur mungkin lelah, karena itu di banguninya susah.


"Loh, sudah bangun Sayang?" tanya Bibik Aisyah yang sudah berada di dapur.


"Sudah Bik, Bibik mau masak apa?" tanya Mura penasaran.


"Ah, ini mau Bikin sayur Asam, terus goreng ayam, sama tahu tempe, terus bikin sambal."


"Wah, pasti enak itu, aku bantuin ya Bik." Maura pun langsung mengambil pisau untuk mengupas bawang merah dan bawang putih.


"Iya, kalau kamu mau Bibik gak maksa loh ya, lagian kamu ngapain jam segini sudah bangun, masih jam setengah empat loh ini."


"Tadi Maura bangun jam tiga Bik, denger sesuatu dari dapur, aku langsung tengokin ternyata Bibik mau masak."


"Iya, Bibik nanti jam enam ada pengajian, di dusun sebelah, Bibik menjadi panitianya, jadi harus masak lebih awal untuk sarapan kita nanti."


"Oh, ya udah Maura bantuin biar cepet selesai."


"Iya, Makasih ya," ucap bibik Aisyah seraya tersenyum senang karena menadpat menantu yang rajin seperti Maura.

__ADS_1


pukul empat pagi suara qira'ah telah muncul, Maura berpamitan untuk membangunkan Bejo untuk shlaat malam.


"Mas, Bangun sudah mau subuh tuh, kamu gak shalat malam. Mas bangun." Maura mengelus pipi Bejo ntuk membangunkannya.


Bejo yang merasakan tangan halus membelai pipinya pun lalu membuka matanya.


"Iya dek, sudah jam berpa?" tnya Bejo seraya mendudukkan dirinya.


"Jam empat Mas, mau subuh masih ada waktu, kalau mau shalat malam." Kata Maura yang hendak bangkit dari duduk nya.


"Kamu mau kemana, Dek?" tanya Bejo.


"Mau balik ke dapur Mas, bantuin Bibik Masak, nanti bibik ada acara di dusun sebelah jam enam pagi."


"Oh, ya sudah Mas minta tolong boleh?"


"Ya boleh lah Mas, kamu may minta tolong apa?"


"Bikinin Kopi." Senyum Bejo seraya mengecup kening Maura.


selesai melaksanakan shalat Malam, Bejo menuju Dapur, untuk mengambil kopinya.


Bersamaan dengan itu suara Adzan berkumandang, Bejo mengajak Maura untuk shalat berjamaah terlebih dahulu baru nanti melanjutkan memasaknya.


Bibik Asiyah pun juga menghentikan aktivitasnya dan melakukan shalat berjamaah bersma ustadz Zainal beserta Fahri.


"Gimana Mas, enak kopinya?" tanya Maura setelah melaksanakan shalat.


"Em, rasanya belum tau dek, kan belum di coba." Kekeh Bejo yang melihat ekspresi kecewa dari Maura.


"Ya udah ini di coba dulu." Maura mengambilkan cangkir kopi, yang sepertinya sudah sedikit menghangat karena terlalu lama di diamkan.


Bejo meyeruput kopi buatn istrinya, untuk yang pertama kali. Meneurutnya rasanya sungguh luar biasa, sangat pas di lidahnya, Maura pun menunggu hasil kritik dari Bejo dengan hati yang berdebar.


Maklum ini pertama kalinya ia membuatkaan kopi untuk sang Suami, dimana ini juga pertama kalinya dirinya membuat kopi hitam, biasanya dirinya kalau di rumah Abah, suka membuat kopi yang kemasan jadi sudah tertera takarannya.

__ADS_1


" Nungguin ya, Dek." senyum Bejo melihat wajah Maura yang tegang.


" Is kamu tuh mas, di tunggun kok malah di lama lamain sih." Maura memukul lengan kiri Bejo dengan manja, membuat Bejo terkekeh.


"Jadi gimana kopinya?" tanya Maura yang sangat penasaran.


"Enak, sangat enak." Kata Bejo.


"Beneran, Enak?" tanya Maura tidak percaya, ia pikir pasti Bejo hanya menutupi rasa sesungguhnya, karena tidak mau melihatnya kecewa.


"Jangan bohong Mas,"


"Lah selius Sayang, ini kopinya enak banget, kopi korea mah lewat."


"Lewat seol gitu maksudnya."


"Lah, bukan. maksudnya kalah sama kopi buatan kamu."


"Udah deh mas, jangan bohong."


"Kamu ini, sini Mas cium, kok mlah ngatain suaminya bohong, sini sini." Bejo hendak menarik Maura untuk mendekat pada dirinya agar nudah mencium istrinya itu.


Tetapi dengan gesit Maura lari keluar kamar dan kembali ke dapur, Bejo pun mengikutinya.


Maura tidak tau akan hal itu, saat dirinya berbalik badan, bibirnya dikecup oleh Bejo, saat ingin melepaskan diri Bejo sudah lebih dulu menahan tengkuknya sehingga Maura tidak bisa melepaskan diri.


Bibik Aisyah yang hendak kembali ke dapur pun di kejutkan dengan pemandangan itu, langsung balik lagi ke dalam kamar.


"Loh Mik, kok balik lagi udah selesai masaknya?" tanya ustadz Zainal.


"Belum Bi, masih ada iklan di depan dapur." Ujar Bibik Aisyah yang membuat ustadz Zainal tidak paham.


"Hah, maksudnya iklan apa?"


"Iklan ini." Bibik Aisyah, memperagakan apa yang Bejo dan Maura lakukan. Membuat Ustadz Zainal tersenyum dan memperdalam ciuman istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2