
"Bibik Awas. " Teriak Maura saat melihat bik inem dalam bahaya.
seseorang tengah bersiap memukul bik inem dari belakang, bertepan dengan hal itu Maura dan Bejo melihatnya.
Bugh...
sayangnya teriakan Maura tidak dapat menghentikan orang tersebut untuk tidak melakukan aksinya.
Bik inem terkapar tak berdaya di lantai, meski syok tubuh maura malah maju seolah menghadang penjahat tersebut
.
"Dasar orang jahat, beraninya main belakang, kamu menyakiti bik inem, sampai pingsan, gak takut dosa hah." Maki Maura yang geram pada orang yang sudah jelas pasti pelaku teror dirumahnya.
Orang yang berpakaian serba hitam seperti ninja itu kini kebingungan, mencari jalan untuk kabur, tetapi jika di lihat dari sorot matanya, penjahat tersebut akan menerobos pertahanan Maura yang memang sedari tadi sudah bersiap siap untuk menangkap penjahat di depannya itu.
"Oh ternyata sembunyinya didalam toh," ucap mang ujang yang kini sudah ada di belakang si penjahat bersama Bejo.
tentu saja pria jahat itu langsung terkejut melihat di belakangnya ternayata banyak orang yang siap menangkapnya.
"Mau lari kemana hah, udah ke kepung nih." Kata pak satpam yang ada di depan pria jahat berasama dua petugas polisi.
sementara itu Maura mengambil langkah mundur, agar tidak menjadi alat penyandra bagi penjahat yang tengah terjepit situasi itu.
meskipun sebenarnya Maura kasihan pada bik inem yang masih ada di tengah tengah yang pingsan tak sadarkan diri dilantai yang dingin itu.
tetapi demi kelancaran rencana mereka menangkap pelaku kejahatan teror ini Maura harus mengabaikan bik inem sebentar.
tidak mau menunggu lama, yang akan mengakibatkan si penjahat beraksi kabur, Bejo langsung melemparkan sesuatu hingga mengenai si penjahat lalu dengan mudah mereka menangkapnya mengikatnya dengan kuat kuat.
beberapa saat sebelum penngakpan, di saat lainya akan berpencar mencaro pelaku pelemparan batu hingga mengakibatkan kaca jendela menjadi pecah.
__ADS_1
Maura melihat bayangan seseorang di balik tembok dekat dengan anak tangga yang mengarah ke dapur, bayangan tersebut sangat jelas terlihat dari sebuah kaca bufet yang jernih karena memang di buat sebagai kaca cermin, Maura yang melihat hal itu pun langsung berinisiatif untuk ikut berpencar mencari sang pelaku.
begitu sampai di luar Maura membisikkan pada Suaminya, memberi tahu jika pelakunya bersembunyi di dalam rumah.
Bejo sangat kaget dan hampir tak percaya, tetapi melihat keseriusan sang istri, bejo pun menuruti perkataan Maura yang di suruh masuk lewat jalan belakang serta menghubungi orang orang yang berpencar tadi untuk kembali lagi ketempat kejadian untuk menangkap pelaku.
"Alhamdulillah, sudah tertangkap. Bik aduh kok malah tiduran disini sih, Ayo bangun, buruan diberesin ini tempatnya berantakan begini." Mang ujang membangunkan Bik inem yang belum juga sadar dari pingsannya.
"Loh, aku dimana ini," ucap Bik inem yang linglung tak ingat dengan apa yang terjafi pada dirinya.
"Ya di rumah nyonya dan tuan toh, kok malah pura pura lupa ingatan, kamu ini, kayak di film film aja." Mang ujang lantas memunguti pecahan kaca yng berbentuk besar untuk di singkirkan.
"Neng Maura dan Tuan kemana?" tanya Bik inem setelah mengingat semuanya sebelum dirinya pingsan.
"Nyonya dan Tuan lagi di kantor polisi, ngantar si penjahat manja itu, udah ketangkap dia, semoga aja dapat hukuman berat," ucap Mang ujang seraya terus memberaihkan pecahan kaca.
Bik inem yang sudah mendapat jawaban langsung mengambil sapu dan cikrak untuk membantu membersigkan pecahan kaca jendela tersebut.
Sementara itu Maura dan Bejo berada di kantor polisi, mereka tengah melakukan pemeriksaan terhadap orang yang telah meneror rumah mereka beberpa hari ini.
di ketahui pria tersebut bernama Rudi, dia mengaku melakukan peneroran karena diauruh oleh orang yang tidak ia kenal, karena tergiur oleh upah yang sangat besar, Rudi mau melakukannya meski tidak mengetahui identitas orang yang membayarnya.
Rudi mendapatkan kurungan penjara, polisi juga masih terus mengawasi untuk mendapatkan petunjuk mengenai orang yang menyuruhnya.
sepertinya orang yang menjadi dalang di balik peristiwa ini semua, sangatlah pintar, nomor yang biasa di gunakan untuk berhubungan dengan Rudi sudah tidak aktif, semua jejaknya tidak ada yang tertinggal, bahkan wajahnya saja ternayata rudi pun tidak tau. mahir sekali.
Setelah semua urusan Rudi usai, Maura dan Bejo pun pulang kerumah, kini sudah pukul dua belas malam.
Bejo memeriksa jendelanya telah di perbaiki dengan baik. dirinya juga berpesan kepada pak satpam dan mang ujang yang ikut berjga malam ini untuk lebih waspada, karena penjahat sesunguhnya masih belum tertangkap.
Bejo dan Maura malam ini akan tidur di ruang tamu, Maura masih belum mau untuk tidur di kamar mereka, masih sedikit terbayang akan teror tulisan berdarah pagi tadi.
__ADS_1
Bejo berencana akan membuang meja rias yang di gunakan untuk meneror besok, dan akan menggantinya dengan yang baru, supaya Maura tidak takut lagi tidur di kamar sendiri.
"Alhamdulillah ya Mas, si pelaku teroro udah ketangkap, meskipun dalangnya belum kita ketahui, setidaknya kita bisa lebih waspada lagi." Kata Maura yang kini tengah berada di pelukan Bejo.
"Iya, sayang alhamdulillah, semoga dalangnya cepat tertangkap juga, agar kita bisa lebih lega lagi."
Bejo masih meminta tolong pada sang teman polisinya untuk terus mengusut kasus teroror tersebut karena penjahat aslinya masih belum diketahui,
dirunya juga sudah menghubungi temannya yang lain yang berprofesi sebagai detektif untuk menwmukan oelakunya secara diam diam, masalah yang tengah menimpanya bukanlah masalah ringan.
pelaku teror bisa saja menyakiti orang orang terdekatnya karena itu dirirnya hatus cepat menyelesaikan permasalahan tersebut.
sementara itu di sebrang rumah Bejo, didalam rumah mewah di sebuah ruangan yang tak kalah wah.
seseorang tengah menatap tajam anak buahnya, hingga membuat gemetar tubuh orang tersebut.
"Ampun Tuan, semuanya sudah saya bereskan, mereka paati tidak akan bisa menemukan petunjuk apapun."
"Memang harus begitu, orang yang kau pilih itu, sunghuh bodoh, bermain sebentar saja sudah ketahuan, dasar tidak berguna. ck ck ck merusak kesenangan." Kata orang yang di panggil Tuan dengan dingin.
"tetap lanjutkan rencananya, buat orang itu berguna, jangan seperti sebelumnya,"
"Baik Tuan, saya permisi." pamit sang anak buah.
datang satu orang yang menjadi asisten pribadi orang tersebut.
"Tuan Rifan, Nyonya meminta anda untuk segera pulang, beliau berpesan ada sesuatu yang ingin di bicarakan."
"Hem, besok setelah rapat langsung pergi."
"Baik Tuan," jawab sang asisiten, lantas membungkuk kan badan sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar sang Tuannya.
__ADS_1