Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Menghalu


__ADS_3

Maura sampai di asrama tepat jam satu siang, Amel dan Nada yang melihat temannya berjalan memasuki asrama dengan menenteng tas, membuat mereka berdua langsung berlari mengahampiri Maura.


"Maura, Mrs. Clean, udah balik you, lama amat di Jkt, kita udah kangen tau." Teriak Nada seraya menubruk Maura, membut Maura limbung dan hampir terjatuh.


"Nada Sumbang, bisa gak, gak usah pakai nuburuk segala, gak lihat nih tas segede gaban." Protes Maura kesal.


"Ulu ulu, berat ya Ra, sini aku tambahin." Amel ikut memeluk Maura sehingga meraka bertiga terjatuh di lantai paving untung Bersih pavingnya sehingga tidak terlalu kotor si baju mereka.


"Amel mol...." teriak Maura dengan memanggil nama amel yang ia tambahi sendiri sebagai ejekan.


santri lain hanya tertawa melihat tingkah ketiga gadis tersebut. Ada yang bergelang geleng melihat tingkah kocak mereka, ada pula yang hanya diam menatap tanpa ekspresi.


"Ih, Nada Amel, bangun badan ku sudah berat ini, kok malah kalian tambahain sih, hus hus." Maura bersuara seperi mengusir ayam saja.


"Biasa aja Ra, gak usah pakai suara pengusir Ayam begitu, kamu pikir kita ini anak ayam." Protes Amel seraya berdiri.


Sementara Nada yang ikutan berdiripun ikut menganggukkan kepalanya.


"Bukan kalian bukan anak ayam, tapi induk ayam." Ketus Maura yang di sahuti tawa oleh santri lain.


"Bantuin." Pinta Maura seraya mengangkat kedua tanganya.


Amel dan Nada pun menarik tangan Maura dan Maura berhasil berdiri.


Mereka bertiga langsung pergi ke kamar untuk membuka oleh oleh yang Maura bawa, Maura meletakkan beberapa tas lalu memindahkan isinya kedalam lemari.


"Udah nih buat kalian juga, jangan rebutan ya," Maura memberikan sekantong Brouwnis coklat pada Amel dan Nada yang membuat meraka berteriak gembira.


Sementara itu Maura pergi untuk membersihkan diri kemudian melakukan shalat dhuhur.


Selsesai melaksanakan sahlat dhuhur Maura ikut bergabung bersama teman teman satu kamarnya yang asik menikmati oleh oleh dari dirinya.


"Ra, makasih ya brownisnya," ucap para santri satu kamarnya bergantian setelah melihat Maura duduk bergabung di antara mereka.

__ADS_1


"Iya, sama sama. Kalian nikmatin aja, itu aku beli untuk kalian kok."


"Terimakasih Mrs.Clean." jawab kompak semua temannya.


Maura hanya memutar bola matanya jengah, dengan panggilan Mrs.Clean.


melihat ekspresi wajah Maura semua temanya langsung tertawa, mereka tau bahwa Maura tidak suka dengan panggilan itu, tetapi mereka tetap memanggilnya untuk menggoda.


"Nanti malam, waktunya Ustadz Bejo, aku udah kangen banget tau gak sih, aku sungguh kangen banget dengan nya." Uangkap salah satu teman Maura.


Deg.


Jantung Maura seolah berhenti, mendengar ada yang merindukan suaminya, terasa panas di dalam dadanya mendengar kata rindu keluar dari mulut wanita lain.


"Sabar Ra, toh mereka gak tau kalau kamu itu istrinya Ustadz Bejo." Batin Maura.


"Iya, aku juga kangen loh di ajar sama Ustadz Bejo, andai aja aku jadi istrinya, ih aku bakalan seneng banget tiap hari bakalan aku kurung tuh di dalam kamar." Sahut salah satu dari yang lain.


"Buk." Suara bantal yang mendarat di muka seseorang.


Sontak Mata Maura melotot, bahkan hampir saja bola matanya melompat, mendengar perkataan teman temannya.


"Sampai segitunya kah mereka mengharapkan Mas Bejo, sampai membayangkan hal hal yang ada di dalam kamar hanya berdua saja." Batin Maura lagi, tetapi tanpa sadar wajah Maura menjadi merah semerah buah tomat.


karena tanpa sadar pula Maura teringat beberpa adegan ciumanya bersama Bejo, yang membuatnya terlena itu.


"Heh, Maura, mereka yang menghalu kanapa muka kamu yang merah sih, jangan jangan kamu juga lagi menghalu ya, lagi bayangin apa kamu, pasti bayangin lagi ciuman ya sama Ustadz Bejo?" tanya Amel yang mengagetkan Maura, santri lain pun ikut melihat ke arah Maura.


"Ikh, apaan sih Mel, siapa juga yang lagi bayangin itu sih, ngaco deh kamu kalau ngomong." Elak Maura seraya bangkit dari duduknya.


"Lagian ya Ra, kalau iya pun aku gak papa kok, disini kita semua juga lagi membayangkan hal itu, berharap semua itu menjadi nyata." Timpal Nada yang di angguki oleh yang lainnya


"What... Gila kalian, mana ada boleh membayangkan hal begitu dosa tau." Protes Maura kemudian pergi dari kamar.

__ADS_1


"Iya dosa sih tapi gimana ya, membayangkan aja kita udah seneng apa lagi kalau jadi kenyataan," gumam Nada yang di angguki oleh yang lainnya.


Sungguh luar biasa pesona seorang Bejo, sehingga mampu menghipnotis semua santri putri untuk memebayangkan dirinya di dalam tempat tidur, yah bagimana lagi santri yang ikut mengaji di kelas Bejo itu sudah usia menikah, rata rata sudah tujuh belas ke atas.


tidak heran sih kalau mereka bisa mempunyai perasaan seperti itu.


"Dasar teman temannl tidak berakhlak, membicarakan Mas bejo dengan fulgar sekali, di depan ku pula, nih jantung juga kenapasih terasa sakit banget. Merusak mood aja." Dengus Maura di dalam hati.


ketika sedang menenangkan diri sebuah notifikasi nongol di ponselnya.


ternyata pesan dari Bejo, membuat Maura tersenyum tanpa sadar.


Di dalam pesantren Al hikmah untuk santri yang berkuliah diperbolehkan membawa Ponsel dan laptop, untuk mengerjakan tugas tugas dari kampus.


"Dek sudah sampai asrama kah, apa sudah makan, apa ada yang bertanya macam macam sama kamu?" isi pesan Bejo.


Maura mengerutkan keningnya tidak paham dengan maksud isi pesan Bejo itu.


"Aku sudah sampai dari tadi, tapi belum makan, masih kenyang, maksudnya ada yang tanya macam macam apa ya?" Balas Maura menanyakan maksud pesan dari Bejo.


Bejo yang kini tengah berbaring di kamarnya langsung membuka ponsel yang sudah ia genggam sedari tadi menunggu balasan dari istrinya


"Kenapa belum makan, kenyang dari mana, kan tadi cuma sarapan aja di pesawat, makan gih, jangan sampai sakit." Balas Bejo.


"Apaan sih, orang dibilangin masih kenya kok maksa," gumam Maura kesal menbaca pesan dari Bejo.


"Iya nanti aku makan, tadi pertanyaan aku belum dijawab loh?" Balas Maura.


"Yang Mana?" Bejo malah balik bertanya membuat Maura semakin kesal.


"Gak yang mana mana, udah kadaluarsa pertanyaanya, udah aku mau tidur siang, mumpung masih jam dua, aku capek." Pesan terakhir Maura yang kemudian mematikan ponselnya.


Membaca pesan terakhir istrinya Bejo hanya bisa membalas dengan kata kata perhatian.

__ADS_1


"Iya, selamat beristirahat istriku sayang, jaga kesehatan selalu ya," ungkap Bejo yang langsung mengirimkan pada Maura, tetapi hanya terlihat centang satu saja pertanda jika WA maura sudah tidak aktif lagi.


"Maaf Dek, Saya tidak mau kamu cemas, karena itu Mas tidak jadi mengatakan perihal Ustadz rahmat yang tadi curiga, mengatakan bahwa dia melihat mu bersama ku." Bejo menghela nafasnya merasa sangat penat memikirkan bagaimana jika Ustadz Rahmat tau yang sebenarnya akan kah dia memusuhinya.


__ADS_2