Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Amel dan Nada tau


__ADS_3

Amel dan Nada saling memandang pada Maura dengan wajah yang terkejut.


"Ustadz Suami?" kata mereka bersamaan.


"Ustadz Suami apaan?" Kata Maura malah bertanya dengan apa yang dua sahabatnya itu teriakkan.


"Siapa Ustadz Suami kamu Ra, kamu sendiri yang nyebutin Ustadz Suami, katanya tadi kamu mau minta sama dia, hayo siapa dia itu?" tanya Nada dengan wajah yang penasaran.


"Aah, Masak sih aku nyebutin ustdaz suami, perasaan gak deh, kalian aja kalik yang salah dengar."


"Hay, kamu mau kemana, jelasin dulu, kita gak akan biarkan kamu pergi sebelum kamu jelasin kekita ya, lagian akmu juga punya utang ke kita tentang kamu ngobrol berdua sama ustadz Bejo." Amel mencegah Maura yang hendak pergi.


"Ih, Amel nada apa apaan sih, lepasin gak," pinta Maura yang mana kini tubuhnya ditahan oleh kedua sahabatnya itu.


"Hay, apa yang kalian lakukan, kenapa tarik tarikan begitu?" Suara orang yang mereka kenali.


"Ustadz Bejo." Teriak Amel dan Nada bersamaan tanpa sadar mereka berdua mendorong Maura hingga terjatuh dipelukan Bejo.


"Astagfirullahaladzim," gumam Amel dan Mada saling membekap mulutnya masing masing.


Melihat Maura terpeluk oleh Ustadz Bejo yang mereka idolakan.


Dengan gerakan cepat Nada menarik tangan Maura yang masih berada di pelukan Bejo, tetapi bukanya ketarik Malah Maura tetap berada di posisinya seolah tubuhnya ada yang tengah menahanya.


Terjadilah tarik menarik antara Nada dan Bejo dimana Bejo tidak mau Maura terlepas dari dekapannya di peluk erat pinggang istrinya itu hingga tidak ada jarak sama sekali di antara keduanya.


Sementara Nada masih juga tidak mau menyerah menarik tangan Kiri Maura untuk segera terlepas dari pria incaranya itu.


Amel melihat Nada kesusahan pun ikut membatun menaraik tangan Maura supaya terlepas dari pelukan Sang Ustadz tercinta.


Bejo memelototkan matanya mendapati musuh yang mendapat bantuan, baginya Nada dan Amel adalah musuh yang ingin merwbut sang istri, meskipun begitu ia tidak akan mungkin terkalahkan dengan hanya kekuatan dua gadis kerempeng seperti Amel dan Nada itu.


Sementara itu Maura terus menjerit dikala merasakan sakit di tangan dan pinggngnya akibat di tarik kesana kemari.


"Setoooppppp."


Teriak Maura dengan keras, sudah tidak sanggup lagi dipakai bahan permainan tarik ulur antara sahabat dan suaminya itu.


"Kalaian mau membunuh ku ya," ucap Maura lagi membuat Nada dan Amel melepaskan tangan mereka berdua.

__ADS_1


Sementar itu Bejo masih tetap pada posisinya yang tidak melepaskan tangyanya yang melingkar nyaman di pinggang Maura.


"Kamu juga Mas, ngapain sih narik narik aku, badan ku sakit semua, kamu mau aku sakit." Sentak Maura dengan mata yang tajam.


Bejo langsung melepaskan kedua tanganya dan mengangkatanya seolah dia tengah tertangkap oleh polisi melakukan perbuatan kejahatan.


"Mana ada sih Dek, Mas cuma menyelamatkan kamu dari dua manusia itu, yang ngedorong kamu seenaknya, untung Mas datang tepat waktu kalau gak, kamu sudah nyungsep toh di trotoar." tunjuk Bejo pada trotoar menggunakan dagunya.


Amel dan Nada yng melihat perdebatan Maura dan Ustadz Bejo pun hanya bisa melongo, tidak percaya dengan keakrapan mereka berdua.


Apalagi mendengar panggilan Mas, dan Dek, keluar dari mulut mereka berdua.


Amel dan Nada langsung saling Pandang kemudian berkata bersamaan menyebut kata "Mas." Seolah mereka tau dengan apa yang menjadi kejanggalan di benak mereka masing masing.


Mendengar jeritan kedua temannya itu Maura langsung terkejut, ia baru saja menyadari dengan apa yang ia lakukan, Bejo pun sama, ia juga baru menyadari apa yang ia lakukan seharusnya tidak dilakukan karena masih ada Amel dan Nada disna.


"Kalian harus menjelaskan hal ini dengan jelas." Tatap Amel dengan tajam pada Maura dan Bejo.


"Ikut Kita." Sambung Nada dengan nada ketus yang langsung menyeret Maura mengikutinya sementara itu Amel masih menatap Bejo penuh curiga.


"Iya saya ikut." Kata Bejo yang merasa takut dengan tatapan tajam dari Amel.


Di sebuah tempat makan kaffe yang tertutup, disinilah Nada membawa mereka berdua, sangat jauh sih dari area pesantren habis bagaimana lagi Maura terus merengek, tidak mau berhenti di setiap tempat yang hendak Nada dan Amel hendaki.


"Gak mau pesan makanan dulu?" tanya Bejo yeng di jawab dengan gelengan kepala oleh keduanya


"Pesan dulu ya, aku lapar loh, biar aku yang pesan kan, disini makananya enak enak, dan tenang aku yang akan traktir. Mas Mau pesen apa?" tanya Maura pada Bejo yang di jawapi dengan senyuman lalu berkata.


"Samain sama kamu aja Dek."


"Kalian berdua, jadi mau pesen apa?" tawar Maura sekali lagi pada dua temannya itu.


"Maura," ucap Amel tetapi langsung dipotong oleh Maura.


"Ok, aku tau kok apa yang kalian mau, tunggu ya aku pesan kan dulu." Maura beranjak pergi dari tempatnya dengan kecepatan kilat, gak mau di tahan oleh kedua temannya itu.


Selesai memesan Maura kembali lagi ketempat duduknya dimana Maura tengah duduk bersanding dengan Bejo.


"Ra, kamu itu bukan mukhrim kan sama Ustadz Bejo jadi duduk sini." Pinta Nada dengan menepuk tempat duduk di sampingnya.

__ADS_1


Kaffe itu lesehan ya dan satu tempat seperti bilik yang di sekat sekat yang hanya cukup maksimal tujuh orang saja.


Maura melirik pada Bejo, Bejo yang paham akan lirikan Maura berdehem seraya berkata.


"Duduk sini saja."


Maura yang mendengar itupun hanya bisa menatap pada kedua sahabatnya itu dengan senyuman terpaksa.


"Sudah tidak ada yang perlu di tutupi lagi pada mereka berdua, Dek. Jadi kamu jelaskan saja semuanya." Pinta Bejo seraya memandang pada Maura.


Maura menganggukkan kepalanya mendengar perintah dari Bejo.


"Maaf ya sebelumnya, aku harap kalian gak bakalan marah dengan penjelasan ku nanti. Dan kalian juga harus janji ya, jangan bilang ke siapa siapa tentang hal ini."


"Itu tergantung, apa yang kalian sembunyikan dari kita, apa lagi kita berduakan sahabat kamu Ra, kamu tega ya main rahasia rahasiaan segala." Amel menjawab dengan nada yang masih ketus.


"Ok begini, kalain ingat gak waktu pertama kali aku pulang mendadak?" tanya Maura pada Amel dan Nada yang di angguki oleh keduanya.


"Nah waktu itulah, aku dan Mas Bejo dinikahkan." Terang maura yang membuat Amel dan Nada mengnganga, akibat terkejut tak karuan.


Tidak seperti yang mereka pikirkan, tadi Amel dan Nada masih berpikir positif jika Maura dan Bejo itu masih saudara, bisa saja kan Maura dan Bejo saudara asli dari orang tua aslinya Maura.


Tetapi kenyataan yang mereka takutkan malah menjadi hal yang sebenarnya.


"Dinikahkan, dengan ustadz Bejo." Ulang Amel dengan wajah yang masih tidak percaya.


Maura menganggukkan kepalanya dengan wajah bersalah karena tidak mengatakannya sejak awal.


"Fix ini mah, kamu keterlaluan Ra, kamu udah nikah sama Ustadz Bejo, yang di sukai oleh santri sepesantren ini. Dan kamu gak ngomong sama kita. Wah wah wah keterlaluan sekali." Kata Amel dengan kepala yang di geleng gelengkan.


"Hiks hiks hiks, Maura is kamu tuh, pantesan aja tadi pagi marah marah sampai segitunya perihal mimpi. Orng kamu ternyta yang jadi istri pertamanya. Ih nyebelin kamu Ra." Nada dengan suara tangisannya tetapi tidak ada air mata yang keluar membuat Maura merasa bersalah sekali.


"Maaf ya, bukanya aku gak mau cerita, tapi lalian kan tau kalau semua santri suka sama Ustadz Bejo, jadi aku gak berani cerita kalau sebenarnya aku dan dia udah sah."


"Tunggu, maksudnya mimpi, mimpi apa Dek," tanya Bejo pada Maura yang masih belum ngeh dengan arah bicara Nada.


"Mimpi kalau Nada jadi istri kedua Ustadz." Amel yang menjawabnya.


"Apa? Wah wah klian ini keterlaluan, pantas saja istriku marah padaku, perihal itu, tiba tiba bilang tidak mau di madu ternyata sumbernya dari kamu?" tatap Bejo tajam pada Nada yang membuat Nada sedikit ketakuatan .

__ADS_1


"Mas jangan lihatin Nada kayak gitu dong, dia kan gak tau Mas," ucap Maura pada Bejo.


"Sudahlah, yang terpentingkan kalian sudah tau, sekarang kalian bisa jaga rahasia atau tidak intinya itu, aku tidak mau ya kalau kalian itu ember, lalu membuat Istriku merasa kesakitan karena di hujat, di bully oleh santri santri lain."


__ADS_2