
"Wah kita beneran berangkat pakai hellikopter, kaya sekali mereka," gumam Maura yang baru pertama kali naik hellikopter.
"Seperti nya keluarga mu orang yang sangat kaya sayang," ucap Bejo yang juga merasa takjub.
"Sayang, perlu dikoreksi, belum tentu kalau mereka itu keluarga ku, jadi jangan beramsumsi jika mereka adalah keluarga ku." Sahut Maura tak ingin terlalu berharap.
"hem, iya sayang, tapi kalau mereka bemar keluargamu, aku juga akan ikut bahagia."
"Terimakasih," sahut Maura seraya tersenyum merasa senang atas dukungan sang suami.
tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, kedua hellikopter telah mendarat dengan aman.
"Wah, ini rumah siapa besar sekali, rumah apa istana?" tanya Maura dengan ekspresi yang sangat terkejut, karena baru pertama kali ini ia melihat langsung rumah yang sangat besar, megah dan menakjubkan.
"Kita sudah sampai Nona, Tuan, Nyonya sudahenunggu anda sejak lama." Kata Mahendra seraya mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam rumah bak istana tersebut.
sementara itu di dalam Eme dengan senyum sumringah, mendorong kursi roda sang majikan menuju ruang keluarga.
tak jauh beda dari Pelayan Eme, seseorang yang di panggil nyonya itu juga terus tersenyum, menamdakan bahwa hatinya merasa sangat bahagia.
__ADS_1
"Ayo, Eme. cucuku sudah datang, rasanya aku tidak tau harus bagaimana menggambatkan rasa bahagia ini."
"Iya nyonya, anda benar, ini adalah hal yang menggembirakan." sahut Eme.
"Sesampainya di ruang keluarga ternyata Rombongan Maura masih belum sampai, Pelayan Eme menuntun majikanya untuk pindah duduk di sofa dengan nyaman, tak lupa ia juga memanggil salah satu pelayan lainnya untuk menyiapkan jamuan untuk tamunya.
tiga puluh detik kemudian, Mahendra datang bersama Bejo dan Maura di belakangnya, dan langsung menyapa wanita yang dudul di sofa.
"Malam nyonya, Mohon maafkan saya, karena terlambat datang." Kata Hendra seraya membungkuk di depan wanita tersebut.
"Tidak masalah Hen, pergilah istirahat, kau pasti lelah, ku dengar kalian mendapatkan serangan saat diperjalanan."
"Benar nyonya, tetapi kami bisa mengatasinya dengan baik," jawab Hendra.
"Kalau begitu saya pamit permisi Nyonya. " Mahendra pergi untuk membersihkan diri.
tersisa Maura, Bejo, wanita yang di panggil nyonya beserta eme sang pelayan nya.
"Kemarilah, Nak. jangan hanya berdiri duduklah disini, di sampingku." pinta wanita yang sudah tak muda lagi itu.
__ADS_1
dengan sedikit ragu Maura berjalan dan duduk di samping wanita tersebut, sementara Bejo duduk di Sofa sebelahnya.
"Kau pasti Lelah, setelah ini bersihkan dirimu dan beristirahat, besok kita bicarakan yang pasti membuatmu penasaran, kau sangat mirip sekali dengan ibu." Wanita tersebut menggenggam hangat tangan Maura.
"Namaku Fatmala, panggil aku Oma Fatma, dia pelayan pribadiku panggil dia Bibik Eme," ucap Fatma seraya menujuk Eme.
"Antarkan mereka kekamar Eme, ini sudah sangat larut, suruh pelayan mengirimkan makanan kekamar mereka, buarkan mereka makan dikamar saja, dan cepat beristirahat."
"Baik nyonya," sahut Eme kemudian mengantarkan Maura dan Bejo menuju tempat beristirahat mereka.
"Terimakasih, sudah mengantarkan kami," ucap Bejo setelah sampai di depan kamar yang akan menjadi tempat istirahat mereka untuk sementara waktu.
"Sudah menjadi tugas saya Tuan, Nona, silahkan beristirahat secepatnya akan kami kirimkan makan malamnya."
"sekali lagi terimakasih," ucap bejo lagi.
sementara Maura sama sekali tidak mengatakan apapun, dirinya masih sangat bingung dengan keadaan yang mendadak terjadi ini.
Ada Cs baru, jangan lupa mampir ya....
__ADS_1
terimakasih......