Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Paket


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, kini kondisi kaki Bejo jauh lebih baik, bahkan dirinya sudah bisa berjalan tanpa di bantu oleh Maura, meskipun masih belum bisa melepas togkatnya.


Selama dua hari dirumah untuk pemulihan, banyak tamu berdatangan menjenguk, mulai dari sang paman, kemudian kerabat dosen dosen, para santri putra maupun putri, mahasiswa dan mahasiswi, tak terkecuali duo sahabat Maura yang super rempong itu.


**


setelah yakin dengan apa yang akan diberikan sebagai buah tangan, Bejo dan Maura mantap berjalan menuju rumah Rifan, untuk mengucapkan kata terimakasih, serta mengganti uang rumah sakit.


"Selamat sore Pak, apa pak Rifannya ada?" sapa Bejo pada satpan yang tengah berjaga.


"Sore Pak, kebetulan sekali Pak Rifan sedang tida ada di rumah, beliau sedang di luar kota pak, apa ada yang mau di titipkan?"


"Oh, beliau tidak dirumah ya, Em kalau begitu, saya dan istri saya menitipkan ini saja, dan sampai kan kepada beliau, bahwa kami datang berkunjung." Bejo mengambil alih keranjang buah dari tangan Maura dan di berikannya pada satpam.


"Baik pak nanti saya sampaikan."


"Kira kira pak Rifan kapan baliknya ya Pak?" tanya Maura penasaran.


"Wah kalau itu saya kurang tau bu, nanti saya akan langsung sampaikan kunjungan bapak dan ibu begitu beliau pulang."


"Baiklah, kalau begitu terimakasih pak, kami pamit undur diri." Bejo tersenyum ramah dengan di bantu Maura mereka kembali kerumah.


Begitu Bejo dan Maura sudah jauh dari rumah Rifan, Satpam tersebut menghubungi seseorang, seperti melaporkan sesutu.


sementara itu Maura merasa kecewa karena tidak bisa menyelesaikan masalah yang menurutnya membuat resah.


"Sabar sayang, besok kita coba kesana lagi ya, mudah mudahan beliau sudah ada dirumah." Bejo mencoba menenangkan kekecewaan hati sang istri.


"Iya Mas, Amiin. Aku tuh ngerasa gak enak aja, kita punya hutang sama beliaunya, nanti dikira kita gak mau bayar ganti uang dia lagi, kan ini kayak kita punya hutang, punya hutang kan gak enak Mas, bikin kepala pusing dan hati gak tenang." Keluh Maura.


"Iya, Mas ngerti. Yang sabar ya." Bukan hanya Maura saja yang sebenarnya merasa tidak tenang, Bejo pun juga begitu, tetapi mau bagaimana lagi, orangnya saja tidak bisa ditemui.


Karena waktu sudah masuk magrib, Maura dan Bejo memutuskan untuk melakukan shalat berjamaah, kemudian seperti biasa mereka melakukan murojaah bersama.


selesai murojaah, mereka berdua mmilih untuk bersantai di ruang TV, sembari menunggu waktu isyak.


ada suara bel pintu berbunyi, membuat Maura dan Bejo saling pandang, siapakah tamu yang datang.

__ADS_1


Saat Maura akan bangkit untuk membukakan pintu, Bik inem sudah terlebih dahulu berjalan kearah ruang tamu.


"Siapa Bik?" tanya Bejo begitu melihat Bik inem kembali lagi tetapi ada sebuah paket di tangannya.


"Anu Tuan, tidak ada orang diluar, tapi Bibik cuma menemukan paket ini aja." Bik inem memberikan paket yang ia temukan.


"Serius bik gak ada orang yang datang, tukang paketnya gitu, kan tadi kederngeran bik ada yang mencet bel." Maura menanggapi laporan bik inem.


"Beneran Neng, gak ada orang atau tukang paketnya, makanya bik inem langsung buru buru masuk kedalam, takut kalau kalau... "


"Kalau Apa Bik, jangan mikir yang macam macam ah," sahut Maura.


"Ih, isa aja hantu yang kirim kan, bibik takut." Bik inem berguduk ketkutan.


"Astagfirullahaladzim, bik hantu itu gak akan mungkin bisa kirim paket beginian, lagian kita itu tidak perlu takut sama bangsa jin, karena kita jauh lebih mulia dari pada mereka di mata Allah, Kalau ma u takut itu hanya pada Allah jangan sama Hantu dan sejenisnya, istigfar bik." Nasehat Bejo yang langsung di angguki oleh Bik inem meski tetap terlihat mimik muka ketakutannya.


"Udah bik jangan takut," ucap Maura seraya menepuk nepuk punggung bik inem.


Bejo pun hendak membuka paket tersebut, tetapi di hentikan oleh Maura.


"Ada apa sayang?" tanya Bejo bingung.


"Bukannya gimana gimana ya Mas, tapi kan kita gak tau nih, itu paket datang dari siapa, kalau kalau isinya bom gimana, kita kan gak tau, buat jaga jaga, biar Mang ujang aja deh yang bukain paketnya diluar." Maura merasa curiga dengan paket yang datang tiba tiba tanpa tau pengirimnya.


di paket tersebut tidak ada apapun hanya kertas coklat polos berbentuk kotak dadu saja.


setelah mendengar ususlan Maura Bejo pun meminta Bik Inem untuk memanggilkan mang ujang.


kini mereka telah berada di halaman belakang, mereka semua merasa penasaran dengan isi paket tersebut.


mangujang drngan hati hati membuka tutup kotak yang telah hilang dari bungkusnya itu.


mang ujang menggunakan sebuah kayu untuk membuka kotak tersebut, dirinya pun juga merasa takut jika apa yang di pikirkan majikannya tersebut benar, kalau paket tersebut berisikan bom, dirinya akan langsung lari dengan mudahnya begitu kotak terbuka.


"Waspada semuanya, Tuan, nyonya. begitu kotak terbuka langsung lari semua, Oke. kita bukannya takut tapi hanya waspada." Mang ujang memberikan eanti wanti dan di angguki oleh ketiga orang yang ada di belakngnya itu.


"Bissmilahirrohmannirrohim.., satu dua tiga...."

__ADS_1


"Kelantang."


Semua orang berlari masuk kedalam rumah, tetapi tidak ada suara ledakan hanya ada suara kayu yang di lempar


"Alhamdulillah, ternyata bukan bom." Bejo merasa lega karena apa yang mereka pikir ternyata salah.


"Alhamdulillah," ucap serempak Maura, bik inem serta mang ujang.


"Coba dilihat isinya Mang, yang pasti itu bukan bom kok." Perintah Bejo.


"Siap Tuan." Mang ujang pun mendekati kotak tersebut dengan hati hati.


"Astagfirullahaladzim, mati mati mati.." Mang ujang berteriak seraya melompat lopat dengan mulut latahnya membuat Bejo, Maura dan Bik inem menatap Mang ujang.


"Apa isinya Mang, apa yang mati?" tanya Bejo sangat penasaran, sehingga dirinya tak lagi sabar mendekat kearah kotak tersebut.


"Astagfirullah, apa apaan ini, siapa yang mengirim beginian," ucap Bejo geram.


mendengar sang suami marah Maura pun mendekatinya dan melihat juga isi kotak tersebut.


"Astagfirullahahladizim, siapa yang iseng kirim Ayam mati berlumuran darah seperti ini, kurang kerjaan sekali." Maura merasa kaget dan juga kesal, orang sinying mana yang mengirimkan hal tidak bermanfaat seperti ini.


Mang ujang dan Bik inem merasa ketakutan melihat isi kotak tersebut, ini seperti ancaman, atau hanya sekedar menakut nakuti saja.


"Mang, buang yang jauh bangkai ayam itu, sata mau cek CCTV, ini tidak bisa di biarkan," ucap Bejo yang langsung menuju ruang CCTV dirumahnya.


maura pun mengikutinya, dirinya juga penasaran siapa orang yang ingin menakut nakuti keluarga kecilnya dengan mengirimkan ayam mati.


"Pintar sekli orang ini menutupi identitasnya, seluruh wajahnya tidak terekam kamera sayang," ucap Bejo.


"Siapa ya Mas, kira kira orang yang mau mengganggu ketenangan rumah kita, sebelumnya kan gak pernah ada kayak begini," gumam Maura.


"Tenng Sayang, besok Mas akan cari satpan untuk berjaga dirumah kita, Mas gak mau kamu merasa tidak nyaman dirumah sendiri, dan Mas akan cari tau siapa orangnya yang telah mengirim barang tidak jelas sepeerti itu."


"Iya, Mas. semoga kita selalu di lindungi oleh Allah dari orang irang yang berniat jahat ya,"


"Aamiinn, Pasti sayang, karean Allah akan selalu bersama kita."

__ADS_1


__ADS_2