Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
RUMAH BARU


__ADS_3

Maura masih saja termangu, menatap Bejo yang tengah mengulurkan tangannya, karena tidak ada pergerakan dari istrinya, Bejo meraih tangan Maura dengan lembut, menariknya dengan perlahan.


"Kamu masih kaget ya, Dek?" tanya Bejo yang mesih melihat wajah Maura yang bingung.


"Mas, Beneran ini rumah kita?" tanya Maura balik.


"Benar, ini rumah baru kita, ini rumah dari uang Papa yang diberikan pada Mas, sebenarnya walaupun gak pakai uang Papa pun, Aku masih bisa beli runah ini, tetapi karena Papa sudah memutuskan untuk memberikan hadiah berupa Rumah jadi dia memberikan kita uang lalu membeli rumah sesuai dengan yang kita inginkan.


Aku harap kamu suka Dek, sama rumah pilihan Mas, selain asri dekat dengan kampus dan pesantren, jadi Mas bisa dengan cepat saat melaksanakan tugas berbagi ilmu." Terang Bejo yang semakin membuat Maura tercengang.


ada rasa haru mendengar semua penjelasan dari Bejo, Maura yang sudah tidak memiliki siapapun, karena Umminya pun juga sudah melepaskan dirinya, jadi sekarang hanya Bejo sebagai suaminya yang dapat ia ikuti, menjadi tempat pulang baginya.


"Kamu gak suka ya Dek sama rumahnya, kok kamu diam aja sih." Bejo merasa tidak enak pada Maura karena mengira istrinya itu tidak menyukai rumah pilihannya.


Maura menggelengkan kepalanya, kemudian memeluk Bejo, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya, isak tangisnya membuat Bejo khawatir.


"Dek, kamu menangis kenapa?" tanya Bejo dengan was was.


"Kalau kamu gak suka rumahnya kita bisa car rumah lain yang sesuai dengan yang kamu mau Dek." Bejo benar benar merasa bingung karena mendadak Maura menangis dipelukannya.


"Enggeak Mas, aku gak nangis karena gak suka rumahnya." Kata Maura kemudian yang sudah mulai berhenti menangis.


"Terus kenapa?" Bejo kini melepaskan pelukan Maura dan menangkup kedua pipinya.


"Aku terharu mas, merasa bahagia, ternyata aku masih punya rumah, ada tempat untuk ku pulang." Air mata Maura kembali keluar lagi membut Bejo mengerti akan apa yang di maksud oleh istrinya itu.


"Baiklah, menangislah kali ini, selepas itu tersenyumlah selamanya, Mas gak mau lihat kamu menangis lagi, ini rumah kita, rumah kamu, tempat kamu pulang, rumah ini sah milik kamu Sayang, Mas sudah bikinkan sertifikatnya dengan nama kamu, jadi Mas yang numpang di rumah kamu."


"Masya Allah Mas, Makasih ya, aku sangat bahagia bisa dapat rumah sendiri, tapi tetap lah mas ini rumah kita, aku gak pernah menyangka kalau bakalan dapat hadiah rumah."

__ADS_1


"Untuk masa depan kita tentu sja Mas harus beri hadiah Rumah, untuk kita berlindung di hari tua bersama anak dan cicu kita nanti."


"Eh, anak aja belum ada, suadah cucu Mas," ucap Maura dengan cengeesannya.


"Makanya kita masuk yuk, bikin anak biar bisa punya cucu." Kata Bejo yang membuat Maura mendelik.


"Mas Jangan ngada ngadi lah, Nanti kalau udah resmi pindah baru kita bikin." Maura membalas dengan kerlingan Mata, membuat Bejo tertawa bahagia.


Mereka berdua pun langsung masuk kedalam untuk melihat lihat dalamnya rumah baru mereka, Maura sangat menyukai nya, meski dari luar terlihat kecil ternyata didalam sangatlah luar biasa, cukup besar juga rumah tersebut, terdapat tiga kamar tidur yang masinv masing memiliki kamar mandi didalam, dua kamar mandi luar, satu ruang makan yang tergabung dengan dapur, ruang keluarga, ruang tamu, serta kamar pembantu sebanyak dua buah.


Dibelakangnya terdapat sebuah taman dengan kolam ikian yang jernih, di samping rumah sebelah kanan terdapat kolam renang, dan yang sebelah kiri untuk garasi.


Aura terus menyunggingkan senyumnya saat berkeliling rumah baru mereka. rumah tersebut sudah di huni dengan satu pembantu perempuan dan satu tukang kebun.


Bejo memperkenalkan Maura pada kedua pengurus rumah tersebut yang baru satu minggu ini berkerja.


"Siang Pak Man, Bik Inem, perkenalkan ini istri saya Siti namanya." Bejo memperkenalkan Maura pada merka berdua yang saat ini tengah berada di tepi kolam.


"Iya, Non. Amiin." mereka menjawab dengan serempak.


"Saya kira tadi Aden, tidak jadi kemari katanyakan jam sepuluh mau datang, ternyata malah jam segini, untung gerbangnya tadi di buka sama Pak man, kalau tidak pasti kami gak bakalan denger kalau Aden teriak dari depan, rumahnya kan besar jadinya gak kedengaran Den, Non."


"Gak papa Bik, Maaf ya saya telat datang, kalau begitu saya dan istri saya lanjut keliling ya, kalain lanjutkan aja kerjanya." Kata bejo yang di angguki oleh Pak Man, dan bik Inem yang melanjtkan kegiatan membersihkan kolam renang .


Kini Bejo dan Maura tengah duduk di samping kolam ikan yang terasa sejuk karena ada sebuah pohon mangga yang menghalangi sinar mata hari langsung.


"Mas, rencanaya kit mau pindah kapan?" tanya Maura.


"Semaunya kamu Dek, mau besok monggo, atau mau sekarang juga monggo," jawab Bejo memasrahkan keputusan pada Maura.

__ADS_1


"Em, kalau begitu, bagaiman kalau lusa aja Mas, sekalian kiat bisa siap siap buat tayakuran mempunyai rumah baru sekalian mau pindahnya." Usul Maura yang kemudian mendapat anggukan dari Bejo


"Tersarah kamu sayang, Mas akan dukung semua yang jadi pilihan kamu, kalau lusa berarti besok kita harus membeli bahan masak, untuk tasyakuranya. Apa kita pesen aja ya dek, Mas takut kalau kamu kenapa kenapa," ucap Bejo.


"Ya sudah kita pesen aja Mas, gak perlu repot repot nanti." Maura setuju dangan usulan Bejo yang meminta untuk memesan saja makanan yang di buat tasyakuran.


Mereka berdua pun pamit undur diri, kembali kerumah Ustadz Zainal untuk mengatakan rencan perpindahan mereka.


"Gimana Ra, rumah barunya, kamu suka?" tanya Bibin Aisyah setelah Maura dan Bejo kembali.


"Suka, Bik, suka Banget," jawab Maura dengan seyum ceria.


"kalau begitu kapan kalian akan menempatinya?" Kali ini Ustadz Zainal yang bertanya.


"Kami sepakat Untuk melakukan tasnyakuran lusa Paman. Kamudian baru menempatinya."


"Bagus itu, kalau begitu nanti Bibik bantu masak ya." Bibik Aisyah menawarkn diri untuk membantu memasak.


"Gak usad Bik, kita sepakat untuk memesan aja , biar kita nanti gak capek." Bejo menjawab seraya memandang Maura.


"Iya, bik. Bibik tau ketring yang enak di sekitar sini?" tanya Maura.


"Oh, ya sudah, gak papa, pesan aja sama bu Atun, rumah pojokan, biasanya beliau menerima pesanan makanan, masakannya enak ko, Bibik sering pesan ke beliau kalau tidak sempat memasak."


"Baik bik, besok kita ke san ya sayang untuk memesan." Terang Bejo.


"Kalian mengadakan tasyakuran, memangnya mau mengundang siapa saja?" tanya Ustadz Zainal.


"kita bakalan mengundang anak, yatim Paman, dan beberpa teman saja." Maura menjawab dengan melirik pada Bejo.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, semoga rencananya berjalan dengan lancar, Ammin."


Mereka berempat pun saling ngobrol mengenai acara tasyakuran rumah baru mereka.


__ADS_2