
Waktu yang sama saat Bejo memberikan penjelasan pada Najwa.
Rahmat tengah berjalan menuju ke rumah Pak kiyai untuk memberikan laporan keuangan karena dirinya di dalam pesantren tersebut menjabat sebagai bendahara khusus untuk asrama putra, sore ini Rahmat ingin memberikan laporan sekalian ingin menanyakan perihal Maura gadis yang sudah lama ia idamkan untuk menjadi istrinya.
Rahmat merasa heran melihat Bejo beserta Ustdaz Zainal masuk ke dalam rumah Pak kiyai, ia penasaran tetapi tidak mungkin ia ikut masuk jadi Rahmat memilih untuk menunggu di teras saja.
Meski hanya di teras suara di dalam masih sedikit bisa di dengar oleh Rahmat, awalnya dirinya merasa biasa saja mendengar perbincangan mereka, meski sedikit terkejut jika ternyata Bejo telah menikah, karena selama ini ia pikir jika ghosip yang beredar semuanya tidak benar.
Alangkah terkejutnya lagi Rahmat saat mendengar nama istri dari bejo di sebutkan membuatnya, marah hingga memutuskan untuk pergi dari teras rumah Pak kiyai.
Dan kini Rahmat melampiaskan semuanya disini di ruangan kerja Bejo.
"Aku benar benar tidak menyangka, kalau kamu orang yang munafik, kenapa tidak bilang jika kamu menikahi Maura, kau malah seolah iba dan mendoakan aku agar bersatu dengannya, tapi nyatanya kau malah mengambilnya dari ku." Rahmat berkata dengan penuh emosi, nafasnya tersengal sengal seolah dirinya masih belum melampiaskan segala amarahnya.
"Waktu itu semua yang aku lihat, bukanlah karena aku salah melihat, tapi kau menutupinya dan berbohong kan, kau takut pada ku, karena sudah menikung dan bermain di belakang." Cecar Rahmat mengingat saat dirinya melihat Bejo bersama Maura di rumah Ustadz Zainal.
"Aku bisa jelaskan Tadz. Semuanya hanya salah faham." Bejo mencob berbicara.
"Salah paham, salah paham bagaimans, sudah jelas jelas aku yang lebih dulu mau meminangnya tapi kau, diam diam malah mendahului, padahal kau tau jika aku menyukainya." Bentak Rahmat seraya menggebrak meja Bejo.
Ahmad yang sedari tadi hanya diam mulai memahami alur permasalahan yang kini tengah mengalir.
"Duduklah Mat, bicarakan ini dengan kepala dingin, diluar banyak mahasiswa pasti suara kalian terdengar dari luar, ayo lah kalian sudah dewasa, jangan seperti ini, tenagkan dirimu." Ahmad dengan halus menuntun Rahmat supaya duduk menenangkan pikirannya, meskipun Rahmat masih sangat emosi, dan untungnya Rahmat mash bisa mengendalikan emosinya sehingga mau menuruti perkataan Ahmat kali ini.
Bejo yang masih merasa sakit di sudut bibirnya, kini ikut duduk di depan Rahmat, dengan rasa yang sama sekali tidak takut mendapat tatapan yang membunuh dari Rahmat.
__ADS_1
"Aku tau, aku salah, karena menyembunyikan hal ini, tapi jujur saat kamu bercerita tentangnya aku sama sekali tidak tau, jika dia yang kamu maksud, bahkan saat menikhainya pun aku juga tidak tau kalau gadis itu yang kau suka, aku baru tau saat kamu memperlihatkan dirinya padaku di lantai dua waktu itu." Terang Bejo, dengan Bejo berusaha tetap tenang.
"Seharusnya kamu tetap menjelaskan padaku saat itu, sehingga aku tidak merasa di bodohi seperti ini, aku sudah melihat kalian kan waktu itu, jika kau mengatakan yang sebenarnya mungkin aku tidak akan semerasa sakit dan bodoh seperti ini." Cecar Rahmat dengan amarah yang mulai mereda.
Memang bukan salah Bejo sepenuhnya, tetapi Rahmat merasa jika dirinya sudah di tipu dan di bodohi, padahal jika Bejo bicara baik baik denganya, mungkin ia bisa menerima dengan ikhlas dan tidak semarah ini.
Tapi semuanya sudah terjadi, marahnya pun juga sudah terlampiaskan, kini Rahmat sedikit merasa lega juga menyesal karena bisa lepas kontrol hingga melakukan aksi kekerasan pada Bejo.
"Maaf, seharusnya aku tidak main tangan." Rahmat berkata dengan nada penyesalan.
Bejo megulas senyum.
"Tidak, aku pantas mendapatkanya, karena tidak jujur padamu, Maafkan aku, memang salah ku tidak jujur waktu itu."
Rahmat dan Bejo saling berpelukan, berdamai dengan baik, saling memaafkan dengan setulus hati.
Bejo tetap melanjutkan kelas mengajarnya, ia tidak peduli dengan pandangan para mahasiswanya yang mungkin bertanya tanya melihat sudut wajahnya yang lebam.
Tetapi sebagian mahasiswa yang mendengar kegaduhan di ruangn Bejo, mereka menduga duga sesuatu telah terjadi, meski mereka tidak tau dengan jelas hal apa itu, meskipun begitu tidak perlu di khawatirkan karena tidak banyak mahasiswa yang mengetahui, karena gedung ruangan dosen tidak seramai gedung belajar mahasiswa yang banyak dari mereka berwara wiri.
"Gimana Sinta, Maura ada di kelas?" tanya Lala melalui sebuh pesan dari ponselnya.
"Gak ada, dia gak masuk, mungkin malu kali." Balas Sinta yang memang satu kelas dengan Maura.
"Tapi, wajah Ustadz Bejo lebam, kayak habis kena tonjok." pesan Sinta memberitahukan luka Bejo.
__ADS_1
"What... Kok bisa kenapa?" tanya Lala dengan wajah yang terkejut membaca pesan dari Sinta padahal dirinya juga tengah ada kelas.
"Mana aku tahu," balas Sinta dengan emoji bingung.
Lala tidak membalas pesan Sinta lagi, dia merasa penasaran dengan keadaan Ustadz tersayangnya itu, apa yang sudah terjadi sehingga Ustadz tersayangnya mempunyai luka lebam begitu.
Begitu kelas sudah berakhir Lala dan Anggi langsung melesat pergi ke kelas Ustadz Bejo untuk melihat keadaannya.
Lala sampai disana bertepatan dengan Bejo yang keluar dari kelas sehingga tak sengaja mereka bertabrakan, Lala hampir saja terjungkal kebelakang jika tidak di trik oleh bejo sehingga Lala berada di dalam pelukan Bejo.
"Maaf, kamu tidak papa," ucap bejo yang langsung melepas pelukannya melihat Lala tidak jadi terjatuh.
Lala malah terbengong seolah tidak mendengar apa yang Bejo ucapkan, membuat Bejo menggerakkan tanganya di depan wajah Maura.
"Hai, kamu beneran tidak papa?" tanya Bejo sekali lagi. Barulah Lala sadar akan pertanyaan Bejo.
"Tidak Ustadz, Saya baik baik saja, terimakasih ya sudah menolong saya." Dengan senyum semanis gula, Lala berikan pada Bejo berharap Bejo luluh pada senyumanya.
"Alhamdulillah kalau begitu, saya permisi dulu." Bejo berlalu pergi dengan ekspresi datarnya, meninggalkan Lala yang masih senyum senyum sendiri ditempatnya.
"Ehem, ck cari kesempatan dalam kesempitan sekali sih, ingat itu sudah ada yang punya, jangan jadi pelakor." Sindir Amel yag sedari tadi menyimak interaksi Lala dan Ustadz Bejo dari dalam, bukan hanya Lala, Nada, tapi semua mahasiswa yang lain pun juga melihatnya.
"Heh, iri bilang bos, lagian siapa yang curi kesempatan dalam kesempitan, ustadz Bejonya aja yang gak tega lihat gadis secantik aku jatuh kena lantai,
Lagian siapa juga yang mau jadi pelakor, heh, tanpa jadi pelakor pun Aku yakin Ustadz Bejo bakalan memilih aku dan ninggalin Maura, cewek pungut itu." Cetus Lala yang membuat Amel dan Nada geram.
__ADS_1
"Gak usah sok kepedean kamu, kamu sama Maura itu beda jauh, Ustadz Bejo tau kali mana yang berlian sungguhan mana yang cuma imitasi." Amel menubruk bahu Lala dengan berlalu pergi meninggalkan Lala dan Anggi yang bersungut sungut mendengar perkataan Amel.