
"Aa benar Mas, keputusan kita datang kesini, aku kok jadi takut ya, kalau ternyata apa yang mereka katakan dan kirakan, tidak sesuai drngan kenyataanya. " Ungkap Maura membuat Bejo bingung.
"Maksud kamu gimana sayang, Mas gak paham?"
"Maksud aku itu, bagaimn kalau perkiraan mereka itu salah, aku bukan nona yang mereka maksud, aku merasa sedih kalau mengingt kemungk Ik nan hal tersebut, apa lagi teringat raut senang wanita yang minta di panggil oma tadi, kelihatan banget loh Mas, kalau beliau itu berharap banget,"
"Ya, wajar kalau kamu merasa seperti itu sayang, yah apapun hasilnya nanti semoga selesai dengan keadaan yang baik, tapi Mas Rasa mereka gak salah kira kok Sayang, itu firasat Mas sih."
"Ya Udah deh, aku percaya aja sama firasat kamu, hehehe."
"Uh, gemesnya, udahlah yuk tidur, supaya besok bisa fres untuk menghadapi masalah selanjutnya."
"Siap, Mas qu."
Maura dan Bejo mengistirahatkan tubuh mereka yang penat, temtunya setelah mandi dan makan.
__ADS_1
Sememtara itu di sebuah rumah yang tak kalah megah, suasananya terasa tegang, akibat sebuah laporan yang tidak memuaskan.
"Bagaimana bisa kalian tidak berhasil membunuh mereka, itu adalah kesempatan terbaik yang kita miliki, dasar bodoh, kalau begini, pasti si nenek tua itu akan melimpahkan semua hartanya pada anak kampung itu." Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik terus mengomel.
"Tenanglah Ma, kita harus membuat rencana lain," ucap Rafa berusaha menenagkan sang Mama yang tengah marah marah.
"Rencana apa lagi, kamu juga sama saja, disuruh langsung saja menghabisi s Ih anak kampung itu malah, kamu terpesona dan berencana menikahinya. lihat semua rencanamu, tetoro itu juga tidak ada gunannya, rumh tangga mereka tetap baik baik saja, sekarang mereka sudah ada di tangan nenek tua, pasti topeng mu sudah dibuka olehnya."
"Aku tau rencanaku gagal, kalau cara diam diam tidak mempan, maka tinggal hadapi saja secara langsung, lagi pula, semua pemegang saham sebagiannya kan mendukung ku untuk mengambil alih perusahaan, jadi Mama jangan khawatir sampai kapan pun aku gak akan biarkan mereka mengambilnya begitu saja."
"Terserah kamu, Rifan, Pokoknya kamu harus bisa buat perusahaan itu menjafi milik kita, Mama gak akan pernah rela, jika semua bu ya jatuh ketangan anak wanita busuk itu."
setelah kepergian sang Mama Rifan menyuruh anak buahnya untuk pergi juga, tinggallah dirinya sendiri di ruang kerjanaya itu.
"Kamu memang membuatku kerepotan, tapi aku suka, permainan akan segera dimulai jadi beraiaplah menjadi milik ku Maura." Rifan berbicara sendiri seraya memandangi foto Maura yang ia ambil secara diam diam.
__ADS_1
keesokan paginya, Maura dan Bejo sudah berada di ruang bersantai, mereka berdua tengah duduk dengan gelisah menunggu cerita yang sebenarnya dari oma Fatma.
stelah sarapan tadi Oma Fatma langsung mengajak mereka berdua untuk datang ketempat favoritnya, dan saat ini Oma Fatma tengah tersenyum seraya memangku sebuah album ditanganya.
"Coba lihat sayang, ini adalah foto pernikahan Papa dan Mama kamu." Pinta Oma Fatma dan Maura yang merasa penasaran pun langsung menggeser tempat duduknya menjadi lebih dekat dengan Oma Fatma.
"Di foto ini Mama sngat cantik," gumam Maura setelah membandingkan dengan ingatannya mengenai sang Mama di foto Album Abahnya.
"Tentu sayang, Mama kamu memang Cantik, sangat cantik, Oma langsung setuju begitu Papamu bilang ingin menikahi Mamamu, selain cantih di wajah, Hati Mamamu juga sangat baik, dia wanita yang sangat tulus. sehingga Papa bersedia menceraikan Sonya, istri pertamanya, yang ia nikahi karena paksaan dari Kakekmu, suami Oma." Terang Oma Fatma yang terus mengubah ekpresinya saat bercerita sedih wajahnya akan tertekuk sedih, dan saat membicarakan tentang Mama ekspresi oma sangat bahagia.
"Maaf kan Oma tang tidak bisa melindungi Mama mu Nak. saat Mamamu meninggal Oma dan Opamu berada di luar negri, Oma sangat menyayangkan semua yang terjadi."
"Apa yang Oma katan, bukan kah Mama ku meninggal karena bunuh diri, lalu apa maksud Oma tidak bisa melindungi Mama?" tanya Maura bingung.
"Karena Faktanya, Mamu tidaklah mati bunuh diri, semuanya direkayasa, hal itu baru bisa terungkap saat Papamu terus menyelidikinya, tetapi semuany sudah terlambat ." Air mata Oma fatma mengalir dengan deras, luka masa lalu yang sudah lama ia lupakan kini kembali di ingatnya.
__ADS_1
Maura pun ikut menangis karena baru mengetahui jika fakta yang selama ini ia ketahui bukanlah kebenaran yang sesungguhnya.
Bejo sebagai suami yang juga mendengar semuanya, terus mengelus punggung Maura agar menjadi lebih tenang.