Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Gantengnya gak ada obat


__ADS_3

"Ais, Suami Ustadz jangan mesum dong, malu tau." Maura memukul dada Bejo dengan wajah yang masih bersemu merah.


"Eh, kenapa malu Dek, disini gak ada orang lain selain kita berdua, gak usah malu lah." Bejo malah mengedipkan sebelah matanya, semakin menggoda Maura, sungguh dirinya sangat suka menggoda Maura, apa lagi melihat kedua pipi merah itu, sangat menggemaskan.


Tanpa terasa sudah satu bulan Maura dan Bejo menempati rumah barunya, Maura semakin hari semakin mandiri, ia memutuskan menjadi juru masak khusus untuk suaminya, Bik inem, di minta bantu beres beres rumah saja, tentu saja wanita paruh baya itu senang.


Apa lagi Maura bukan tipe majikan yang lupa akan bawahanya, dirinya memerlakukan Bik inem dan Mamang, seperti orang tua mereka sendiri, menjadikan hubungan mereka sangat harmonis.


Pagi ini Maura dan Bejo pergi ke kampus bersama sama, karena Maura akan ada kelas pagi, begitupun juga Bejo.


Di dalam kelas Maura disambut ceria oleh Nada sementara Amel terlihat wajahnya ditekuk.


"Kenapa, si Amel?" tanya Maura pada Nada.


"Biasa Ra, gak ada kamu sekarang kan dia tuh yang jadi kepala pengurus bidang kebersihan, tau sendiri anak anak bagaimana, dia lagi suntuk, karena anak anak gak ada yang mau nurut perkataanya." Curhat Nada pada Maura.


"Yang sabar ya, Mel, mau gak habis kuliah kita jalan jalan, kita kan cuma kuliah sampai jam dua belas." Tawar Maura yang langsung dilirik oleh Amel.


"kemana?" tanya Amel dengan wajah yang masih kesal.


"Em, ada deh, yang pasti bisa bikin kita gak stressss...." Bisik Maura yang membuat Amel mengerucutkan bibirnya menahan senyuman.


"Hem.. Boleh." Nada memukul punggung Amel.


"Heh, kalau mau ketawa, ketawa aja, seneng kan kamu diajak jalan jalan, kagak usah ditahan tahan, kagak pantes tuh bibir jadi monyong begitu." Ledek Nada yang tertawa puas, Maura pun ikut tertawa melihat tingkah absurd kedua temannya.


"Ih, Nada sumbang, bisa diam gak berisik." Tegur Amel dengan wajah yang masih dibuat kesal itu.


Tidak berselang lama kelas pun semakin ramai, satu persatu santri atau mahasiswa telah memenuhi kelas, kemudian Kelas pun dimulai dengan kehadiran sang dosen.


Dua jam sudah berlalu, dan kelas pertama suda usai, kini dirinya akan beralih pada kelas ke dua, sebelum kelas kedua dimulai, ia mengirimkan pesan pada Ustadz Suaminya, meminta izin jalan jalan bertiga dengan Amel dan Nada.

__ADS_1


("Assalamualaikum Mas, Aku mau jalan jalan habis kuliah, boleh?")


("Kemana dek?") balas Bejo cepat juga, karena memang dirinya juga sudah selesai dengan kelas pertamnya dan mau beralih di kelas lain.


("Mau ajak Amel dan Nada ke Mall Mas, mereka lagi suntuk tuh, boleh ya.")


("Hem, hati hati ya, jangan lupa, makan dan sholat dulu, ya.")


("Siap, Mas. Makasih. Love you.")


("Love you too.") Bejo memasukkan ponselnya kedalam saku celananya, kemudian masuk kedalam kelas kedua dimana ini adalah kelas Lala.


Maura merasa senang, mendapat izin dari sang suami, membuatnya semkin semangat untuk melanjutkan kelasnya.


Begitu kelas usai, Maura dan Kedua sahabatnya langsung melipir ke musholla kampus, untuk melaksankan shalat dhuhur, kemudian baru pergi ke mall dengan niatan makan siang disana.


Sementara itu, Bejo. Tengah menemani Rahmat yang katanya akan mengadakan rapat pondok dengan pengurus lainnya setelah dhuhur.


("Dek, udah berangkat?") tanya Bejo mengirimkan pesan pada Maura.


Tanpa Ba bi bu, Maura langsung membalasnya di depan pintu Mall.


YA, Maura dan kedua temanya baru saja sampai di Mall, mereka memesan taksi online tadi, sehabis shalat.


("Sudah Mas, baru nyamapek nih di Mall, Mas Lagi Apa, sudah makan kah?" ) tanya Maura seraya berjalan masuk ke Mall dengan di seret oleh Nada.


("Ini lagi di asrama, lagi mau makan dek, habis ini ada rapat pengurus, kamu hati hati ya, pulangnya jangan sore sore.")


("Asip, Bosqu.")


Maura menyimpan ponselnya ke dalam tas ranselnya kemudian fokus pada jalannya, sembari melirik lirik kanan kiri mencari tempat makan yang enak untuk makan siang.

__ADS_1


"Kita kesana aja Yuk, disitu gak terlalu ramai," ucap Amel yang kini sudah kembali ceria.


Nada dan Maura hanya menganggukkan kepalanya saja, seraya mengikuti langkah kaki Amel.


Seperti biasa, kini giliran Nada untuk memesan makanan, sementara bagian Maura yaitu membayar, wkwkwk.


Maura tidak masalah akan hal itu, karena ia tau kedua temannya itu tidak memiliki uang cukup untuk jajan seperti ini, maksimal uang saku hanya boleh keluar lima puluh ribu saja, jadi tidak akan mungkin jika kedua temannya itu bisa mentraktirnya di tempat Mall seperti ini, yang sudah pasti harganya jauh di atas pasaran.


"Hai, Bu Ustadz, habis gajian ya, dari suami ustadz?" tanya Nada setelah kembali memesan makanan.


Nada ingin tau, kenapa mendadak Maura ingin jalan jalan, pasti Maura lagi banyak uang.


"Hehe, tau Aja." Maura tersenyum.


"Wuih, enak ya, jadi kamu, gak kerja dapat duit, ck, jadi pingin nikah." Sahut Amel dengan Nada dibuat sedih.


"Ya nikah aja toh, Mel. Kanapa malah tuh muka di tekuk begitu," sahut Maura.


"Masalahnya, yang aku mau, dapat suami kayak Ustadz Bejo, yang ganteng, kaya, pengertian, duh paket komplit deh." Puji Amel pada Bejo yang membuat Maura cemberut.


"lah lah lah ini kenapa mulut mu malah sepeti itu, jangan bilang kamu cemburu, gegara Amel muji muji pengen punya suami kaya suami mu." sambung Nada yang melihat wajah cemberut Maura.


"Sedikit sih," ucap Maura yang membuat Amel dan Nada melotot tak percaya, temanya ini sangat bucin, masak sama sahabat sendiri cemburu.


"Habisnya, dia itu meresahkan, gantengnya gak ada obat, kalau kemana mana berdua, suka di incer sama para ibu ibu dan juga perempuan perempuan lain, aku kan sebel." Keluh Maura mengutarakan isi hatinya.


"Hahahhahahah." bukanya simpati kedua sahabatnya itu malah tertawa terbahak bahak.


"Maura maura, kamu itu ya, lucu banget sih, jelas aja meresahkan, ustadz Bejo kan gantengnya kelewatan. Dan itu sudah resiko yang musti kamu tanggung sebagai istri dari orang yang tampan." Amel mengusap halus ujung matanya yang berair karena tertawa tadi.


"Is, kalian ini, sudah puas tertawanya, aku tuh juga tau kalau itu resiko, tetap aja gak suka pas lihat yang genit genit."

__ADS_1


"Ya udah, sih Ra, banyak kirim fatikhah aja buat ustadz Bejo, biar gak kecantol ama yang genit genit." Nada masih saja menggoda Maura dan perkataan nya itu kembali membuat dirinya dan Amel tertawa.


"Ck, kalian itu ya, suka sekali tertawa di atas penderitaan temannya. Huh." Maura berpura pura merajuk, tetapi tetap saja Amel dan Nada terus tertawa hingga pesanana mereka tiba. Dan tawa itu berhenti.


__ADS_2