
Setelah pergi ke rumah Ratih Abah dan Ummi merundingkan bagaimana kedepanya mengurusi Maura Bayi.
Lebih tepatnya Abah yang mengajak Ummi untuk merundingkan semuanya, dan hasilnya, Ummi tidak mau mengurus Maura bayi, ia tidak mau dirrpotkan lagi dengan bayi yang seharusnya di kembalikan pada keluarganya itu.
Abah menerima keputusan Ummi yang lepas tangan dan menyerahkan kepengurusan Maura bayi padanya. setidaknya Ummi tidak lagi menyuruhnya untuk mengembalikan Maura bayi ke pada keluarganya yang sudah jelas tidak menginginkan kehadiranya.
"Pokoknya bah, Abah sendiri yang merawat dia, aku tidak mau, aku sudah repot mengurus Marsya, kalau Abah memang ngotot agar bayi itu tetap tinggal disini urus sendiri dan jangan merepotkan aku." Terang Ummi dengn tegas kemudian kembali ke kamarnya.
Abah mengehela napasnya dalam hatinya masih berayukur karena Ummi tidak mengusir bayi yang tidak berdosa itu.
Kemudian Abah memilih menambahkan nama di depan nama Maura dengan sebutan Siti, agar Ummi tidak semakin benci karena Abah memanggil dengan nama yang di berikan Rianti.
Falasback Off.
Selesai menceritakan sumua yang Umminya jelaskan Maura tertidur dengan pulas di pelukan Bejo.
Bejo terus mengelus kepala Maura dengan lembut seraya bergumam.
"Aku tidak tau jika hidupmu begitu berat, mulai saat ini, aku akan sepenuhnya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, melindungi dan membahagiakan dirimu, meskipun cinta itu belum ada, setidaknya aku bisa merasa lega jika bisa melihatmu tersenyum.
Kau bukan wanita yang buruk, parasmu cantik, dan sikapmu juga tidak seburuk itu, sehingga aku bisa mempertimbangkan semua permintaanmu, yang ingin menyembunyikan pernikahan sah kita, melihat mu rapuh begini sungguh hatiku terasa sakit."
Kalau sakit berarti sepertinya ada rasa tuh Bejo, tapi gak sadar.
Lama mengamati wajah cantik Maura diam diam Bejo tersenyum sendiri, kemudian dengan gerakan pelan Bejo merebahkan Maura di atas ranjang, kemudian Bejo melepaskan Hijab yang masih di kenakan oleh Maura.
"Selamat tidur, My istri, semoga mimpi indah," ucap Bejo tidak lupa mendaratkan kecupan lembut pada kening Maura.
Keesokan harinya Maura yang kini telah selsesai mandi dan rapi berniat mencari suaminya karena saat ia bangun dari tidurnya yang kedua tadi Bejo audah tidak ada di tempatnya.
Maura sehabis Shalat subuh tadi ia kembali tidur di karenakan kantuk yang masih menyerangnya.
Bejo pun yang tahu Maura kelelahan membiarkan nya tertidur pulas dan saat ini Bejo tengah berada di taman belakang bersama Pak Ujang.
Maura turun keluar kamar kemudian menuju depan mencari Bejo atau siapa pun yang bisa di tanyai.
__ADS_1
Kebetulan ia bertemu dengan Bik Susi istri pak Ujang pengurus rumah disini.
"Eh, neng mau kemana?" tanya Bik susi yang sepertinya habis pulang belanja.
"Oh tidak kemana mana kok Bik, ah boleh saya bantu bawa kan belanjaanya." Tawar Maura yang melihat Bik susi tanpak kerepotan.
"Eh, bibik bisa kok neng, ndak usah ndak papa." Tolak Bik susi tetapi aku sudah duluan mengambil blanjaan yang berada di kantong plastik mera besar.
Maura tidak tega meliht Bik susi yang tidak muda lagi harus membawa barang barang yang berat.
"Ndak papa Bik saya bantu," ucap Maura kemudian di angguki serta senyuman dari bik susi.
Merka berdua pergi menuju dapur untuk meletakkan semua belanjaan yang mereka bawa.
"Sudah Neng di taruh sini saja biar bibik sendiri yang menatanya di kulkas, neng duduk aja." Pinta Bik Susi.
"Ndak Bik, tetap saya bantu, oh ya bibik mau masak apa?" tanya Maura yang kini tengah memasukkan sayuran ke dalam kulkas.
"Oh ini bibik mau bikin nasi goreng udang kesukaannya Den Bejo. Neng mau dibuatkan sarapan apa?" tanya bik Susi yang berpikir jika Maura menginginkan makanan lain.
"Baiklah bibik masukkan ini dulu baru saya bikinkan nasi gorengnya."
"Bibik langsung eksekusi aja nasi gorengnya, ini semua serahkan pada saya, biar saya yang masukkan ya ke dalam kulkas, biar bibik tidak terlalu capek."
"Beneran gak papa nih Neng?" tanya Bik susi yang tidak enak hati membiarkan istri majikannya itu mengerjakan tugas dirinya.
"Bener gak papa kok bik, saya juga udah lapar, hehehe."
"Oh, baik kalau begitu saya akan segera buatkan."
Sambil menata semua belanjaan ke dalam kulkas, Maura juga memperhatikan bibik yang sangat cepat membuat nasi goreng, Maura pun berpikir jika nanti ia masak sendiri harus bisa cepat dan bersih seperti Bik susi.
Maura sangat kagum dengan tindakan Bik susi dalam memasak, sudah seperti chef profesional yang ada di TV itu.
"Oh, iya Bik kira kira Mas Bejo kalau pagi suka kemana ya, tadi pas aku selesai mandi orangnya udah gak ada di kamar." Tanya Maura.
__ADS_1
"Em, bibik sih kurang tau ya Neng mungkin lagi di taman belakang bersama Mang Ujang soalnya biasanya Den Bejo suka ke taman belakang taman faforit almarhumah ibunya." Kata Bik susi seraya menuangkan nasi goreng ke mangkuk besar.
"Oh, begitu ya, aku panggil dia dulu ya Bik untuk sarapan, nasi gorngnya sudah matang kan, ini belanjaanya juga sudah aku masukkan semua ke dalam kulkas."
"Oh, Iya Neng, terimasih ya sudah di bantu menatakan belanjaanya. ini saya akan siapkan nasi goregnya di atas meja makan."
"Iya bik," jawab Maura yang kini tengah berjalan menuju taman belakang.
Sebenarnya Maura pun tidak tau letak taman belakang, tetapi ia ingat waktu kemarin berkeliling sebentar ada taman yang sepertinya lebih luas, Maura ingin menuju sana siapa tahu tebakannya itu benar jika taman itulah yang di maksud bik Susi.
Sesampainya disana, sesuai yang Maura perkirakan Bejo tengah berada disana bersama Mang Ujang.
Bejo tampak berjongkok, mengamati salah satu bunga yang ada ditaman tersebut.
Maura pun penasaran dengan apa yang Bejo lakukan.
"Ehem, Sarapanya sudah matang, kita sarapan yuk." Dengan suara lembut Maura mengajak Bejo yang sepertinya tampak terkejut.
"Kenapa malah bengong sih ngelihatin aku sampai segitunya, ada apa?" tanya Maura yang kesal dengan ekspresi cengo Bejo.
"Hah, gak gak papa, kamu tadi bicara apa?" tanya Bejo membuat Maura jengah.
"Sarapan udah jadi, yuk makan." Kata Maura dengan sedikit nada tinggi.
"Tadi lembut banget suaranya, sekarang kenapa balik lagi sih kayak suara petasan meledak ledak," gumam Bejo yang tidak jelas di dengar Maura.
"Kamu ngomong Apa?" tanya Maura yang merasa Bejo berbicara sesuatu.
"Hah enggak, gak ngomong apa apa. Ya sudah ayok kita sarapan." Bejo berdiri seraya memanggil mang Ujang untuk sarapan bersama.
Tetapi mang Ujang menolaknya dengan alasan masih ada yang perlu ia urus, padahal sebenarnya Mang ujang tidak ingin mengganggu kedu majikan mudanya yang baru saja menikah itu.
"Eh.." Maura tampak kaget saat Bejo menggandeng tanganya menuju ruang makan karena memang mendadak Bejo melakukannya tanpa izin dari Maura.
"Gak usah protes disini tidak ada orang lain selain kita dan Mang Uajng juga bik Susi. Tidak ada santri Al hikmah. Jadi kita tidak perlu menyembunyikan apa apa." Uangkap Bejo yang seolah tau pikiran Maura yang ingin membahas hal itu.
__ADS_1