Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Sepiring berdua.


__ADS_3

Setelah menuntaskan keinginan suaminya, kini Maura membersihkan diri kemudian melaksanakan shalat lalu pergi ke kedapur untuk mempersiapkan makan siang, sementar Bejo masih berada di atas sajadahnya.


meminta kelegaan hati pada dirinya sendiri dari sang penjaga hati. Jujur saja rasa cemburu tidak di pungkiri olehnya saat melihat reaksi Rahmat tadi pagi, karena itu, dirinya meminta pada sang haliq untuk menjaga hati dan pikiranya dari perasangk dan pikiran buruk.


"Makan Mas," ucap Maura saat melaihat Bejo di sampingnya.


"Hem, sini Mas suapin." Bejo mengambil piring dan lauk pauk yang disiapkan oleh Maura, Maura pun hendak mengambil satu piring lagi untuk dirinya sendiri.


Namun Bejo melarangnya, dan memintanya untuk makan bersama dirinya dalam satu piring, Bejo dengan telaten menyuakan makanan pada Maura, sangat romantis.


"Kalau makan biar Mas yang suapin, kita makan satu piring berdua, kamu suka tidak?" tanya Bejo yang membuat Maura tersenyum.


"Maulah Mas, disuapin sama suami tentunya Mau, tapi harus setiap makan loh ya,"


"Iya, setiap makan." Bejo tersenyum melihat Maura yang makan dengan lahab.


***


Hari ini selerti biasa Bejo mengajar di kelas kelas, rumor nemang cepat menyebar tetapi ia hanya diam saja dan tidak menanggapi gosip tersebut toh tidak ada gunanya, masalahnya dengan Rahmat sudah selesai, jadi menurutnya tidak perlu ada yang di khawatirkan.


Berbeda dengan Lala yang sudah dengar perihal masalah Bejo dengan Ustadz Rahmat, dan menyalahkan Maura karenanya Ustadz Bejo sampai terkena tonjok oleh Ustadz Rahmat.


Maura yang hari ini sudah doperbolehkan masuk kelas oleh Bejo pun, melepas rindu dengan kedua sahabatnya.


"Cie, yang sekarang tinggal sama suami, gumana, enak gak?" tanya Amel dengan nada sedikit menghoda.


"Enak lah, enak banget malah, kalau malem tidur, ada yang nemenin, ada yang meluk, emmm poko mantapu..." Maura mengerlingkan matanya menbuat Amel dan Nada mencubit pipi Maura dengan bersamaan.


"Ish, kalian ini. Sakit tau dicubit begitu." Maura menghempaskan tangan Amel dan Nada.


"Awas aku aduin ke Ustadz Suami nanti." ancam Maura seraya emngelus elus kedua pipinya.


"Kagak takut," ucap Amel dan Nada bersamaan kemudian tertawa bersama.


Dari ujung lorong, Lala yang sudah baru selesai dengan kelasnya menghampiri Maura.


"Heh, Cewek pungut. kamu itu ya, bisanya nambahin masalah aja ya, buat orang lain." Kata Lala denga nada menghina.


"Maksud kamu apa, aku nambahin masalahnya siapa?" tanya Maura dengan mengerutkan keningnya.


"Ya buat Ustadz Bejolah, gara gara kamu, dia berantem sama ustadz Rahmat, dan sekarang tengah di panggil rektor, kamu kan biang keroknya." Terang Lala yang membuat Maura terkejut.

__ADS_1


"Di panggil Rektor." Maura bergumam lirih.


Tanpa pikir panjang Maura langsung berlaliri menuju ruang rektor yang ada di lantai tiga.


Amel dan Nada pun ikut mengejar Maura, sementara Lala dan Anggi di tinggalkan begitu saja.


"Apa masalahnya sebegitu besarnya sampai di panggil oleh rektor, aku tidak mau kalau Mas Bejo mendapatkan masalah karena aku." Maura bergumam sendiri di dalam hati.


Saat sudah sampai di depan pintu ruang Rektor, Maura berhenti.


"Ra, gila kamu lari kenceng banget, gak denger apa kita panggil panggil." Protes Amel.


"Iya, kamu kok budeg sih kita panggilin." Sambung Nada.


Keduanya ngos ngosan mengejar Maura, kini tengah mengatur nafas agar normal kembali.


"Maaf ya, aku emang gak denger sih kalian panggil, aku lagi khawatir sama Mas Bejo."


"Iya kita tau, terus kamu mau masuk kedalem gitu?" tanya Nada.


Maura menggelengkan kepalanya, "Aku mau nungguin disini aja. Aku takut kalau masuk nambah masalah."


Tak berselang lama, muncul lah Bejo dan Ustadz Rahmat yang keluar dari ruang tersebut secara bersamaan.


"Mas," panggil Maura yang membuat Bejo dan Ustadz Rahmat pun menoleh ke sumber suara.


"Loh, Dek. Kok disini?" tanya Bejo dengan sekilas melirik Ustadz Rahmat.


"Iya, aku denger dari Lala kamu di panggil Rektor, ada masalah apa?" tanya Maura penasaran.


"Apa karena masalah kemarin?" tanya Maura lagi yang kini juga menatap Ustadz Rahmat sekilas.


"Ahh... Masalah itu sudah lewat kok Dek, ini masalah lain, kamu ada kelas lagi gak habis ini?" tanya Bejo mengalihkan pembicaraan.


"Em, gak Mas. Soalnya ustatadz Ali tidak bisa hadir dan cuma di kasih tugas. Kenapa?"


"Gak Papa, ikut Mas, Ya."


"Kemana?"


"Nanati kamu tau sendiri," jawab Bejo dan beralih pada Ustadz Rahmat.

__ADS_1


"Ustadz, Saya pamit dulu ya, dan terima kasih untuk penjelasanya tadi."


"Iya, Sama sama."


Bejo langsung menggandeng Maura pergi dari temopat tersebut, meninggalkan Ustadz Rahmat yang masih setia memandangi kepergian mereka berdua.


Amel dan Nada juga masih berada di situ, kini memandang ustadz Rahmat.


"Ustadz, bagaiman kabarnya?" tanya Nada yang mengagetkan Ustadz Rahmat.


"Oh, Baik."


"Kita permisi ya Ustadz, Assalamualaikum." Nada dan Amel langsung pergi dan tinggal Ustadz Rahmat sendiri berdiri disana.


"Aku doakan kalian selalu bahagia." Ustadz Rahmat berguman dan memilih pergi ke asrama putra.


Di dalam perjalanan Bejo menjelaskan alasan dirinya dan Ustadz Rahmat di panggil ke ruang rektor, yang memang ada kaitanya dengan permasalahan kemarin, tetapi semuanya dapat di selesaikan dengan baik meski mereka berdua mendapat peringatan dari Rektor langsung.


"Maaf ya Mas, secara tidak langsung itu kan aku yang menyebabkan, aku minta Maaf."


"Hei, kok minta Maaf kamu gak ada kewajiban minta Maaf Dek, kamu gak ada salah dalam hal ini, jadi jangan minta Maaf, Ok."


"Em, kita sebenarnya mau kemana sih Mas?" tanya Maura penasaran.


"Bentar lagi nyampek kok dek, kamu bakalan tau sendiri nanti."


"Kamu bikin penasaran terus Mas."


Tidak ada lima belas menit Mereka berdua sudah sampai di depan halaman rumah yang cukup besar, Maura merasa heran rumah siapa ini.


Bejo memarkirkan Mobil nya di dalam garasi rumah tersebut. Membut maura semakin bertanya tanya, kenapa Bejo malah memarkirkan mobilnya di garasi bukan di halaman.


Bejo memang berniat memberikan kejutan untuk Maura sang istri, dimana kejutan itu adalah sebuah Rumah yang sudah ia beli dari tiga minggu yag lalu, tepatnya Ustadz Zainal selaku pamannya yang mengurus pembeliannya.


Itu adalah hadiah dari sang Papa, untuk pernikahnya, sebenarnya Papa Bejo sendiri yang ingin memberikan kejutan ini, tetapi dikarenakan gagalnya kepulangannya ke indonesia maka Papa Bejo memasrahkan semuanya pada Bejo sendiri.


Dan Bejo memilih rumah ini karena selain asri dan nyaman, Rumah ini sangat dekat dari area pesantren dan kampus, sehingga memudahkanya untuk melakukan pekerjaanya.


"Yuk, Dek. Turun, kamu gak mau lihat lihat rumah kita?" tanya Bejo yang otomatis membuat Maura terkejut.


"Apa Mas, rumah kita?" Maura menatap pada Bejo tanpa berkedip.

__ADS_1


__ADS_2