
Meskipun yang di katakan Nada hanyalah untuk menggoda nya, tetapi menurut Maura ada benarnya, bahkan hal itu memang sudah Maura lakukan.
setiap selesai sahat ia berdua, Maura selalu mengirimkan surah Alfatihah untuk suaminya, agar suaminya itu selalu di lindungi oleh Allah SWT.
Bahkan terkadang saat dirinya senggang, juga mengirimkan surah alfatihah tersebut, sekedar untuk menenangkan hati, serta berharap rumah tangganya tidak di berikan cobaan yang berat.
Setelah makanan tiba, mereka bertiga bergegas memakannya, perut yang sedari tadi keroncongan pun sudah tidak sabar lagi, segera mita di isi, tidak lupa mereka berdoa sebelum makan.
sudah tau adab makan tidak ada satu pun di antara mereka yang berbicara, lebih fokus menikmati makan siang mereka dengan serius.
"Alhamdulillah, kenyang." Nada bersuara setelah makanabnya habis tanpa sisa, dan kini tengah menikmati es teh jeruk kesukaannya.
"Seger banget, Dah." Lanjut Nada bergumam atas kenikmatan minuman yang ia tenggak.
"Iya segernya bukan main. Enak nih bisa buat langganan kalau kita lain kali kesini lagi." Sahut Amel yang di angguki oleh Maura.
"Alhmdulillah, kalau udah selesai kita langsung jalan jalan atau tunggu nasinya turun dulu?" tanya Maura, memandang kedua sahabatnya secara bergantian.
"Tunggulah Ra, nanti malah sakit perut kalau langsung jalan." Amel menjawab pertannyaan Maura yang kemudian di angguki oleh Nada.
__ADS_1
Sementara itu Bejo yang kini tengah makan siang di asrama tersenyum melihat kebersamaan yang beberpa minggu ini tidak ia rasakan, karena memang ia sudah memilih untuk pulang kerumah bersama Maura.
"Kenapa Senyum senyum bang, bahagia banget?" tanya Fahri yang melihat Bejo tersenyum.
"Bukan begitu Ri, Abang seneng aja udah lama gak makan bareng begini, tapi Abang juga tetap bahagia sih karena makannya diganti bersama istri tercinta." Perkataan Bejo langsung mendapat sorakan dari para santri yang ikut makan bersama di tampah bagian Bejo.
seperti biasa di pesantren ini, masih menggunakan lengser atau tampah sebagai alas makan, mereka makan bersama, dalam satu tampah tersebut cukup untuk tujuh hingga sepuluh orang, karena tampah yang digunakan berukuran besar.
Dan Bejo memang selalu ikut makan bersama santri yang lebih junior di bndingkan dengan santri sebayanya, karena di kamarnya itu lebih banyak junior di banding senior, karena memang kamar pengurus sudah dibedakan.
"Duh, si Abang yang udah nikah, nikahnya sama gadis pujaan hati para santri pula, aku mau kecewa tapi kok bahagia ya." Sahut Rizal santri yang tengah duduk di bangku menengah keatas itu.
"Kenapa bang, kecewa tapi kok bahagia maksudnya bagaimana itu?" tanya Fahri yang memeng masih sekolah dasar tentu saja ia tidak paham.
"Maksudnya itu, aku kecewa karena gadis yang menjadi tipe ideal ku menikah, tapi aku juga bahagia karena Bang Bejo lah yang menikahinya, aku ini hanya sekedar ngefan aja sama Kak Maura, jangan cemburu Bang." Rizal tersenyum pada Bejo wajahnya yang sudah mulai memerah, menahan emosi, mendengar langsung jika Istrinya ternyata banyak yang menyukai.
Hening sesaat, kemudian Bejo bersuara setelah berhasil menekan rasa emosinya, dirinya paham betul dengan apa yang di katakan Rizal, dan ia tidak perlulah marah karena Rizal sendiri sudah mengatakan hanya sebatas Ngefens saja.
"Cemburu, pasti lah Zal, yang tidak boleh itu cemburu buta, lagian Abang sudah paham dan tau kalau istri Abang itu banyak yang suka, jadi ya Abang gak akan marah kok sama kamu."
__ADS_1
"Makasih Bang, aku tadi udah ketakutan loh kalau Abang bakalan marah marah." Cengir Rizal yang kini sudah selesai dari makannya.
Hanya tersisa beberapa pulukan nasi di atas tampah, dan yang terakhir menghabiskan adalah Fahri. Sedangkan yang lainya sudah berhenti sedari tadi.
Mereka langsung mencuci tangan mereka, Bejo pun bergegas ke ruang perngurus dimana mereka akan mengadakan rapat.
Meskipun Bejo sudah tidak tinggal di Asrama, tetapi ia masih menyandang sabagai pengurus di bidang keamanan saat ini, mungkin nanti jika sudah berganti priode maka dirinya akan meminta untuk tidak di masukkan dalam kepengurusan inti.
Rapat keuangan ini sering dilakukan setiap tiga bulan sekali, meskipun Bejo baru dua bulanan di sana, tetapi karena posisinya langsung masuk kedalam kepengurusan tentu saja dirinya harus ikut dalam rapat tersebut.
Rapat berjalan selama dua jam, tepat jam tiga sore, Rapat usai. Bejo langaung menuju rumah pamannya untuk sekedar menyapa.
"Loh kok sendirian Jo, dimana Maura?" tanya Bibik Aisyah yang melihat keponakannya hanya sendiri.
"Maura lagi ke mall Bik, sama temen temennya tadi udah bilang sama aku. Paman kemana belum pulang?" tanya Bejo yang tidak melihat keberadaan Pamanya.
"Paman mu mengantar Rafli ke mini market, Rafli sedang ingin makan es krim katnya tadi."
"Oh, ya sudah bik, aku balik dulu ya, Mau sekalian jemput Maura, salam buat paman." Bejo pamit pulang setelah menata buah yang ia bawa untuk paman dan Bibiknya itu.
__ADS_1
"Iya, hati hati dijalan ya." Bibik Aisyah dengan senyuman mengizinkan Bejo pulang, karena ia juga tidak bisa menahan keponakannya itu, yang mau menjemput sang istri.
"Bibik bahagia, melihat rumah tangga kalian berdua bahagia, semoga kalian cepat di karuniai momongan, agar menambah keharmonisan rumah tangga kecil kalian, Aamiin." Doa Aisyah yang melihat kebahagiaan Bejo.