
Seusai ba'da isya' Maura pergi dari rumah Ustadz Zainal dengan cara mrngendap endap, kayak maling aja.
di punggungnya terdapat ransel yang besar, kedua tangannya menenteng kresek beasar yang berisikan oleh oleh yang di tambah oleh bibi Aisyah, yang katanya sebagai syukuran pernikahanya.
Bejo hanya bisa mengamatinya dari jauh, ia sudah menawarkan bantuan tadi tetapi dengan cepat di tolak oleh Maura, dan sekarang ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat Maura seperti kura kura berjalan di atas tanah.
Maura langsung masuk ke dalam pesantren melalui gerbang belakang, yang kebetulan bertemu dengan Nada yang mau buang sampah di sana.
"Nada, hai bukain dong gerbangnya." Pinta Maura begitu melihat Nada.
"Maura, wah kamu baru balik," tanya Nada seraya membukakan pintu gerbang belakang.
"Heem, nih bantuin banyak makanan buat kalian semua." Maura menyodorkan dua kresek besar yang ia tenteng tadi pada Nada.
"Berat Ra, ih." Keluh Nada, sementara itu Maura tidak peduli dia sudah berat sedari tadi.
Masuk kedalam kamar cukup sepi karena hari ini ada mengaji kitab dengan Ustadz lain, hanya beberpa santri yang tidak ikut.
Maura langsung meletakkan tasnya dan menaruh semua barang dan bajunya ke dalam lemari, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
dan langsung merebahkan diri untuk tidur, meski sangat sulit untuk menidurkan diri sebisa mungkin Maura menutup matanya agar bisa tidur.
pikiranya masih tertuju pada sang Abah karena itu meski mata terpejam tapi hati dan pikirannya masih terbayang kenanganya bersama sang Abah.
Nada dan santri lainnya, tidak mau mengganggu Maura, mereka semua sudah tau jika Abahnya Maura meninggal dunia sebab itulah Maura di panggil pulang.
Amel yang baru datang dari mengajinya terkejut melihat Maura yang sudah tidur di kamar mereka.
"Sejak kapan Maura balik? " tanya Amel pada Nada.
"Sehabis isya' tadi, tidak berselang lama dengan keberangkatan mu mengaji tadi," jawab Nada yang kini juga tengah mempersiapakan tempat tidurnya.
"Oh, dia pasti kelelahan ya, biarkan dia istirahat, aku mau kekamar mandi dulu ya, tolong siapin tempat tidurku juga Nad." Pinta Amel yang membuat Nada mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Di pagi harinya.
Maura yang sudah bangun sejak jam tiga dini hari sampai sekarang masih setia dengan mushaf yang sedari tadi ia baca.
hingga subuh pun menjelang, Maura lallu ikut shalat subuh berjamaah dengan santri lain yang bangun saat adzan berkumandang, ada juga yang bangun bersamaan dengan bangunnya Maura itu hany beberapa Santri saja.
Maura kali ini tidak banyak bicara ia lebih banyak diam, saat ada sampah berserakan ia hanya memandanginya, para sanrti yang melihat Maura memandangi sampah pun langsung tergerak untuk membersihkannya.
Barulah Maura akan beranjak pergi setelah sampah itu di bereskan.
Entahlah rasanya malas sekali ia untuk berbicara, dan lebih memilih menggunakan isyarat saja.
Amel dan Nada pun ikut bingung karena Maura lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
"Ra, udah siap berangkat ke kampus?" tanya Amel yang melihat Maura sudah siap.
"Heem, ayok berangkat." Ajak Maura dengan senyum.
Pagi ini ada kelas, sehingga Maura Amel dan Nada berangkat pagi karena ketiganya berada dalam satu kelas.
Dua jam kemudian mereka sudah selesai di kelas pertama tinggal menunggu kelas kedua yang akan dilaksanakan tiga puluh menit lagi sehingga mereka memilih duduk duduk di taman depan kelas.
Sementara itu di atas lantai dua seorang laki laki yang merupakan dosen juga tengah mengamati ketiga gadis di bawah sana.
"Hai, melamun saja, nagapain sih?" tanya Bejo pada Ustadz Rahmat, salah satu dosen di kampus ini.
"Eh, Ustadz Bejo. tidak papa," jawab Ustadz Rahmat yang sekilas memandang pada Bejo kemudian kembali lagi memandang ke arah taman.
"Gak ada apa apa kok melamun, terus mamadang ke arah sana terus sih. Oh aku tahu lagi lihatin gebetan nih." goda Bejo yang ikut memandang ke arah taman bawah yang ada tiga gadis sedang bebincang,tapi tidak terlihat wajahnya.
"Hehe bisa aja kamu Ustadz." Terlihat malu ustadz Rahmat ketahuan lagi lihatin gadis yang di taksir.
"Jadi penasaran sama gadis yang Ustadz Rahmat suka, kenapa hanya dilihatin sih, langsung aja di hitbah/dilamar Ustadz biar gak keduluan orang lain."
__ADS_1
"Kamu lihat tiga gadis ditaman itu?"
"Heem, aku lihat pasti di salah satu diantara mereka bertigakan." Tebak Bejo yang masih belum melihat wajah dari ketiganya.
"Kamu benar, dia gadis yang berhijab merah muda itu, namanya Maura." Tunjuk Ustadz Rahmat bertepatan dengan Maura berdiri dan menoleh ke arah gedung sebrang sehingga terlihatlah wajahnya yang cantik.
"Lebih tepatnya nama lengkapnya Siti Maura Mubarokah, nama yang selalu ku sebut dalam doa ku, dia sangat cantik, gadis yang aku ceritakan padamu minggu lalu." Lanjut Ustadz Rahmat dengan senyuman yang mengembang.
Deg
Deg
Jantung Bejo serasa terkena tombak hingga terpaksa berhenti mendengar nama Siti sang Istri di sebutkan oleh temanya ini, dan juga Bejo semakin terkejut betapa Ustadz Rahmat ini menyukai Maura.
"Sesuai dengan saran mu tempo hari, aku sudah menanyakan akan dirinya pada pakyai, sayangnya ia sudah di hitbah dengan pria lain, dan kemarin aku mendapat khabar jika Abahnya sudah meninggal dunia, dia pasti sedang sedih sekarang, ingin rasanya aku menghiburnya." Terang Ustadz Rahmat yang membuat Hati Bejo panas mendengar Ustadz Rahmat ingin menghibur istrinya.
"Oh jadi dia sudah ada yang menghitbah ya Usttadz, sabar ya pasti Ustadz bisa mendapat ganti yang lebih baik darinya," ucap Bejo dengan tulus meski hatinya panas.
"Aku masih berharab agar hitbahnya batal, sehingga aku ada kesempatan untuk maju. Saya masuk kelas dulu Ustadz." pamit Ustadz Rahmat pada Bejo yang tengah mengumpat dalam hatinya.
"Maju matamu soek." umpatan dalam bahasa jawa yang artinya mata sobek.
"Bisa bisanya dia berdoa seperti itu, sementara aku suaminya ada di depannya. Huf sabar Bejo sabar," ucap Bejo dalam hati seraya mengelus dadanya sendiri.
"Salah Siti nih, membuat ku harus mendengar hal seperti ini, coba aja kalau dia gak minta pernikahan ini di sembunyikan, Ustadz Rahmat tidak mungkin kan bicara seperti itu, apa jangan jangan Maura juga suka pada Ustadz Rahmat, karena itu dia meminta setatus pernikahan kami di sembunyikan. Wah. Tidak bisa di biarkan." Bejo melangkahkan kakinya dengan tergesa gesa, tampak ada emosi didalam langkahnya itu.
Bejo dan Rahmat tinggal satu kamar bersama ustadz Ahmat juga, mereka bertiga menjadi dosen juga di kampus tersebut, tepatnya Bejo baru resmi mengajar menjadi dosen hari ini, ia memang sudah setuju saat Ustadz ahmat menawarinya menjadi dosen di Kampus Al hikmah ini.
Sementara itu, di dalam kelas Maura dan semua mahasiswa tengah menunggu sang dosen yang katanya ada pergantian Dosen baru, di semester dua ini Ada mata kuliah matematika yang harus ditempuh oleh mahasiswa hukum syari'ah, yang seharusnya ada di semester satu, tetapi di ganti di semester dua ini.
Semua mahasiswa langsung ricuh ketika mengetahui siapa yang masuk dan duduk di meja dosen mereka. Terutama para mahasiswa perempuan yang sangat heboh sekali.
"Hah, ngapain dia duduk di disitu, apa dia jadi dosen juga menggantikan Pak Ali?" gumam Maura yang kini matanya tengah beratatapan dengan dosen baru yaitu Bejo.
__ADS_1