
Maura merunduk mendapat tatapan tajam dari Bejo, pasalnya ini pertama kali Bejo memperlihatkan kemarahanya yang mengerikan menurut Maura.
dengan berusaha setenang mungkin Maura menarik tangan Bejo itu mendudukaknnya di pinggir ranjang.
"Sayang, jangan marah dulu ya, aku bisa jelaskan." Tutur Maura selembut mungkin agar tidak semakin memancing kemarahan suaminya itu.
"Ya harus dijelaskan dong Dek, supaya aku tidak salah paham, dan berpikir yang tidak tidak." Sahut Bejo dengan suara yang dibuat sedatar mungkin, meski sejujurnya hatinya sudah mulai panas.
"Rifan itu, orang yang tadi gak sengaja aku tabrak waktu jalan jalan keliling Mall, karena tabrakan itu ponsel ku jatuh dan rusak Mas, dan dia memaksa menggantikannya dengan ini, padahal kan aku yang salah."
"Mas jangan marah ya, aku gak ada niatan buat bohong kok, tadi udah rencana mau bilang sama Mas, tapi kan kita harus shalat dulu biar gak kehabisan waktu. Maaf ya Mas, bikin kamu marah." Maura menjelaskan dengan wajah yang tertunduk, meskipun semua itu bukan sepenuhnya salah dirinya, tetapi Maura pikir mendapat ganti rugi tanpa sepengetahuan suaminya itu, tidak seharusnya ia terima, apalagi dia adalah seorang laki laki yang bukan mukhrimnya.
Mendengar penjelasan dari Maura, pelahan hati Bejo merasa lega karena mengetahui jika istrinya ini tidak ada niatan untuk berbohong padanya, dan masih memikirkan perasaanya.
"Masih ada lagi, yang musti di jelaskan?" tanya Bejo yang sepertinya masih ada yang belum di jelaskan oleh Maura, melihat gerak gerik istrinya itu masih merasa gelisah.
"Dek, jujurlah sama Mas, tak apa, mas gak akan marah kok, janji." Bejo menangkup wajah Maura membuatnya dapat melihat penyesalan di mata Maura.
"Itu, semua belanjaan juga di bayarin juga sama dia." Maura mengerucutkan bibirnya, terlihat lucu di mata Bejo.
__ADS_1
"Hahaha, Ya Allah Dek, kamu kok menggemaskan sekali sih, jadi pengen makan kamu." Mendengar Bejo tetawa malah membuat Maura cemberut.
"Habisnya gimana, wajah kamu tuh mengerikan tau, kalau lagi marah gitu, kayak mau makan orang aja," gerutu Maura.
"Ya sudah, lebih baik ponselnya disimpan, bagaimana selepas magrib kita beli yang baru lagi. Jujur Mas gak suka melihat kamu menggunakan barang yang di belikan oleh laki laki lain, membut Mas gak nyaman Dek, mau kan?" tawar Bejo, berharap jika Maura setuju dengan ajakannya itu.
dalam hatinya, Bejo tau jika semua itu hanya alasan kecemburuannya saja, mungkin bisa di katakan egois, tetapi Bejo sungguh tidak rela jika nantinya ada hal yang memicu ketidak harmonisan rumah tangganya.
"Mau Mas, aku juga tadi terpaksa pakai ponsel ini, soalnya kan aku harus menghubungi kamu, nanti biar aku simpan, aja, buat kalau darurat aja gimana."
"Sip, kalau begitu nanti selepas magrib, kita keluar cari ponsel untuk kamu."
"Makasih ya, Mas. Udah gak marah lagi sama aku," ucap Maura dengan mata yang berbinar bahagia.
Maura dan Bejo saling berpelukan, Maura sangat senang kerena Bejo dapat menegerti dengan penjelasannya, jujur saja Maura sangat takut jika Bejo marah marah, dan akan mengakibatkan buruknya hubungan mereka. untungnya Bejo masih bisa mengontrol emosinya.
sementara itu, mobil yang sedari tadi mengikuti Bejo dan Maura, sudah kembali ketempatnya. Dan sedang menghadap Tuannya.
"Malam Tuan, saya sudah mengetahui letak rumah mereka, yang berada di kawasan rumah Surya. Blok A nomor 17. Tuan." Lapor sang penguntit yang bukan lain adalah orang yang di tugaskan oleh Rifan untuk mengikuti Bejo dan Maura.
__ADS_1
"Bagus, kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan juga?" tanya Rifan yang kini tengah duduk di kursi kerjanya dengan rokok yang mengepul dari sela jari jarinya.
"Sudah Tuan besok anda sudah bisa pindah."
"Good, kau boleh pergi, bayaranmu akan ku taransfer setelah ini." Rifan menggerakkan tanganya menyuruh anak buahnya itu pergi dari ruang kerjanya.
"Kita akan segera bertemu lagi, Manis." Senyum seringai terbit dari bibir Rifan yang sangat mengerikan.
Sementara itu Nada dan Amel tengah asik membongkar barang belanjanya yang sungguh diluar dugaan mereka.
Meski terlihat seperti tidak tahu diri, mereka berdua tetap saja mengambil apa saja yang mereka inginkan, mumpung geratis, itulah yang mereka pikirkan tadi saat Rifan menawarkan mereka berbelanja.
"Alhamdulilkah, rejeki nomplok ini mah, duh, kapan lagi ada yang kayak begini, mana ganteng pisan, Ustadz Bejo mah sebanding kali sama Rifan." Nada begitu senang hingga membandingkan Rifan dengan Bejo.
"Tapi Nad, kamu curiga gak sih, kok ada orang sebaik dia, jangan jangan ada udang di balik wajan."
"Ada udang dibalik rempeyek, Mel." Nada membenarkan istilah yang keliru padahal dirinya juga keliru.
"Ada udang dibalik batu yang bener itu, Ck. Gak usah membenarkan kalau kamu juga salah. Ini tuh ya aku beneran kayak Rifan tuh merencanakan sesuatu gitu." Amel mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
"Hussttt. Kamu itu, udahlah, jangan berperasangka buruk pada orang lain, aku yakin kok dia itu tulus baik sama kita."
"kamu mah siapa aja juga dibilang baik, apalagi udah dapat yang geratisan begini." Amel menoyor kepala Nada yang memang polos dan kadang juga lemot.