Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Minta cerai


__ADS_3

Sedih memang, mengetahui bahwa diri kita bukan lah bagian sebenarnya dari keluarga yang kita anggap keluarga kandung.


Sedari awal saat mengetahui identitasnya, Maura semakin merasa sedih, dengan apa yang di lontarkan Ummiknya secara terang terangan.


Tidak cukup berkata kasar, pukulan pun juga ia dapatkan, Maura sempat iri pada Marsya yang selalu ada di pelukan Ummiknya, tetapi setelah mengetahui ternyata dia bukan anak kandung, dirinya seakan terpaksa mengerti dengan siapa dirinya sebenarnya.


Maura kini tengah berada di kamarnya, dengan mukena yang menempel di tubuhnya, tak lupa ditangannya memegang mushaf Qu'ran seraya ia membaca meski dengan suara yang pelan.


Meskipun merasa lelah, dan di liputi rasa sedih, Maura tidak mau membiarkan Abahnya sendirian di sana, ia ingin dengan membaca quran ini, akan menjadi teman Abah disana.


Dengan derai air mata, Maura terus melantunkan bacaan yasin yang entah sudah berapa kali ia ulang ulang.


Bejo masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya itu tengah menangis dalam lantunan al quran yang ia baca sendiri.


Bejo tidak dengan tangan kosong masuk kedalam, tahu jika istrinya sedari pagi belum makan apapun, ia berinisiatif untuk membawakan sepiring nasi serta lauk pauk untuknya.


dirinya sendiripun sudah makan bersama Paman dan lainya. sementara Maura setelah dari makam ia langsung masuk ke dalam kamar tanpa mau keluar lagi.


Dengan lembut Bejo duduk di samping Maura. membuat Maura mengehentikan bacaanya.


"Makan dulu ya, untuk menambah energi kamu membaca ayat suci al quran, yang kamu peruntukkan buat Abah," Ucap Bejo yang membuat Maura menoleh padanya.


"Aku gak laper." Tolak Maura yang kemudian menunduk lagi.


"Kamu merasa gak lapar, tapi perut kamu pasti lapar sedari pagi belum terisi apa apa.


Aku tahu kamu merasa tidak lapar karena pikiran kamu masih diliputi dengan kesedihan kehilangan Abah, coba kamu pikirkan, Abah sekarang sudah pulang sang penciptanya, dia lebih aman disana, hanya para malaikat yang berada di sampingnya, yakinlah bahwa Abah orang baik yang akan selalu di jaga oleh Allah.


Bersedihlah, sekedarnya, tapi jangan sampai menyiksa diri dengan melupakan tubuh kita yang perlu di perhatikan." Terang Bejo yang membuat Maura malah menangis keras.


Bejo meletakkan piring di atas meja, kemudian ia memeluk Maura yang menangis.


"Menangislah, keluarkan semua air mata mu agar hatimu lega, tapi nanti aku tidak mau melihat air mata mengalir di pipimu lagi, sudah cukup kamu menangis hari ini, Hem, lihatlah wajahmu bengkak, nanti dikira aku menyiksamu. karean terlihat wajah mu yang lebam lebam ini." Bejo menangkup kedua pipi Maura kemudian mengusap sisa air mata yang ada.


"Kamu kok baik sih, padahal aku gak suka loh sama pernikahan ini, aku udah ada rencana minta cerai."


Mendengar perkataan Maura Bejo langsung melepaskan tangkupannya. ada emosi yang muncul, hatinya terasa panas, tapi ia mencoba untuk menahanya.

__ADS_1


"Minta cerai, mana bisa kita kan baru menikah kemarin, kamu udah minta cerai, aku gak akan pernah menceraikan mu, meskipun kamu sudah ada laki laki lain di hatimu, sampai kapan pun aku tidak akan melakukannya." Terang Bejo dengan tegas, sedikit ada emosi dalam ucapannya.


Siapa yang tidak marah baru kemaren menikah sekarang mau minta cerai, dikira main kemah kemahan yang dua hari usai.


"Kamu gak mau menceraikan aku, meskipun aku gak cinta sama kamu?" tanya Maura lagi, dia semakin penasaran denfan jawaban Bejo.


"Tentu saja, kalau kamu gak cinta maka akan aku buat kamu jatuh cinta pada ku, tapi jangan pernah mimpi kalau kita akan cerai."


Maura mengerucutkan bibirnya, ia tidak menyangka jika Bejo sama sekali tidak akan pernah menerima perceraian, dan kini malah kena omelan.


"Iya iya, gak usah marah marah kenapa sih, aku kan cuma merencanakan aja, belum tentu aku melakukannya." Maura menatap Bejo dengan sedikit tersenyum.


"Meski hanya rencan, tetap aku melarang, kalau ada syetan yang menambah api dalam hatimu, bisa aja kan kamu, akan melakukannya, sudahlah jangan berpikiran aneh aneh, makan dulu."


Bejo mengambil piring yang tadi ia letakkan di meja belajar itu, kemudian menyuapkan nasi pada mulut Maura.


"Aku bisa makan sendiri kok," ucap Naina yang belum mau menyambar nasi dalam sendok.


"Sudah tidak usah banyak bicara, ayo buruan makan, tangan ku pegal nih, lagian aku mau mendapat pahala dengan menyuapimu, jangan kira yang lain. apa lagi cinta, mana ada cinta tumbuh dalam satu kali pertemuan," ucap Bejo menjelaskan.


"Ck, siapa tahu kamu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada ku, aku kan gak jelek jelek benget juga, huh," gumam Maura didalam hatinya pasti.


"Setelah tiga hari kematian Abah, aku berencana mau balik ke surabaya, aku ada jadwal mengajar, kamu mau ikut atau disini dulu?" tanya Bejo serius.


"Emmm.." Naina berpikir untuk hal itu dengan mulut yang terus mengunyah, terlihat lucu di mata Bejo.


Pipinya menggembung dan bergerak gerak, bibirnya yang tebal itu, berwarna merah muda itu terlihat menggemaskan ingin rasanya Bejo untuk menyentuhnya.


Setelah menelan semua makananya barulah Maura mengutarakan pendapatnya.


"Aku mau ikut, aku juga mau menenangkan hati dan pikiran di pesantren aja, nanti pas tujuh harinya Abah balik kesini ya," pinta Maura.


"Baiklah, itu bisa di atur," ucap Bejo seraya mebyuapkan nasi terakhir.


"Oh iya yang kamu bicarakan itu masih berlaku?"


"Yang mana? "

__ADS_1


"Menyembunyikan setatus pernikahan kita."


"Oh, tentu saja, aku gak mau orang pesantren tahu kalau kita suami istri, ntar aja kalau kita udah saling cinta, aku gak mau di hina karena pernikahan paksa."


"Baiklah, minumlah dulu." Bejo menyodorkan segelas air putih pada Maura.


dengan senang hati Maura menerimanya dan menghabiskan dalam satu tenggakan.


"Hehe terimakasih," ucap Maura dengan cengiran di wajahnya.


Bejo lantas mengembalikan piring dan gelas ke dapur, ia bertemu dengan Marsya di sana yang tengah mengambil air minum.


"Mas Bejo habis makan?" tanya Marsya lembut sekali.


"Tidak, bukan saya yang makan, tapi Siti." Jawab Bejo dengan ramah.


"Siti ya, Siti itu... "


"Maaf saya mau kembali ke kamar mau menanyakan seauatu yang penting pada istri saya, saya permisi." Potong Bejo membuat Marsya sangat kesal.


"Awas saja kamu Siti aku akan buat pernikahan kamu itu hancur, karena seharusnya akulah yang menjadi istrinya, bukan kamu." Dengus Marsya yang kemudian pergi ke kamarmya.


**


"Aku sama sekali tidak menyangka ya Pak, kalau Siti bukan anak kandungnya Abah Husain, tapi pas melihat Abah dan Ummik, memang Si Siti tidak ada kemiripan sama sekali," Tutur Aisyah istri Ustadz Zainal.


"Iya, Aku sendiri pun tidak menyangka, tapi tidak papa dia perempuan yang baik dan Sholehah. insyaallah bisa menjadi pendamping Bejo yang tepat."


"Ammin, aku sangat suka loh sama dia, cantik dan apa adanya, aku ingin sekali dia tinggal sama kita, pasti seru kalau dia bisa menemani ku dirumah."


"Hai kamu ini, apa sedang mencari teman akukan sudah menemani mu selalu Sayang," ucap Ustadz Zainal dengan mengerlingkan matanya.


"Ih itukan kalau malam, kalau pagi kamu kan mengajar Pak," ucap Aisyah dengan mengerucutkan bibirnya.


"Jangan begitu membuatku ingin mengecupnya loh."


"Ih, Bapak, ini dirumah Besan, jangan ngomong gitu dong nanti ada yang dengarkan malu." Aisyah mencubit sayang lengan Ustadz Zainal.

__ADS_1


__ADS_2