Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Keceplosan


__ADS_3

"Kamu sering puasa senin kamis?" tanya Bejo yang duduk mensejajari Maura.


Deg deg deg.


Jantung Maura berdebar dengan sangat cepata mendapati Bejo duduk di sampingnya.


"Duh kenapa sih jantungku berdebar terus kalau dia di samping ku, mungkinkah ini yang namanya cinta, tapi kok aku merasa lebih pada serangan jantung ya, kenceng banget berdebarnya." Batin Maura seraya menundukkan kepalanya.


"Kok malah Diem sih Dek?" tanya Bejo lagi.


"Eh, iya Mas, tadi tanya apa?" ucap Maura yang malah balik bertanya.


"Kamu melamunkan apa sih, sampai gak denger apa yang saya pertanyakan, padahal saya sudah keras loh bertanyanya." Ungkap Bejo sedikit kecewa.


"Kamu serius tidak ada pria lain di hati kamu kan?" tanya Bejo lagi, yang berulang kali menanyakan hal itu, membuat Maura mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa sih Mas selalu tanya hal seperti itu, aku kan udah jawab kemarin kemarin kalau aku gak punya perasaan apa apa sama laki laki lain. Sama kamu aja aku masih belajar," jawab Maura dengan panjang lebar.


"Terus kamu kenapa gak jawab pertanyaan saya malah melamun seperti itu, kalau bukan memikirkan kekasih mu." terang Bejo masih mengeira jika Maura menyembunyikan isi hati yang sebenarnya.


Sejujurnya Bejo merasa sakit di hatinya kala melontarkan pertanyaan seperti itu, tetapi ia juga harus mencari kebenaran akan hati Maura, istri yang kini telah menempati ruang dalam hatinya.


"Aku melamun bukan berarti aku memikirkan laki laki lain, lah wong aku lagi mikirin kamu, ups.." Maura langsung menutup mulutnya saat menyadari akan kecerobohanya mengungkapkan siapa yang sebenarnya tengah ia pikirkan.


"Hah, tadi kamu bilang sedang memikirkan saya, kenapa memikir kan saya?" Tanya Bejo dengan senyuman di bibirnya.


Menandakan bahwa hatinya tengah berbunga bunga saat ini.


"Enggak kok siapa juga yang mikirin kamu, tadi aku salah ucap aja." sanggah Maura dengan gugupnya.

__ADS_1


"Aku dengerkok tadi kamu bilang sedang mikirkan saya, apa yang sedang kamu pikirkan dari saya, apa ada sikap ku yang membuat mu tidak nyaman?" tanya Bejo merasa sedih jika pertanyaanya itu benar adanya.


"Em, iya bisa gak kalau bicara jangan dekat dekat, aku gak nyaman Mas," ucap Maura yang sungguh menyakitkan dalam hati Bejo.


"Tidak bisa, kalau kamu menyuruhku untuk menjauh, lihat aku bagaimana caranya kita bisa membangun hubungan rumah tangga yang harmonis hingga akhir hayat." Tolak Bejo dengan tegas.


"Kalaupun aku mau memaksamu, itu juga tidak akan dosa, tetapi aku menghargaimu sebagai istriku yang sama sama kita ketahui bahwa dua orang asing, dipertemukan pasti butuh adaptasi. Dan saya menghargai adaptasi mu, jadi jangan meminta untuk ku menjauh dari mu." Terang Bejo panjang lebar sehingga membuat Maura melongo.


Niat hati Maura hanya ingin menyuruh Bejo jangan terlalu dekat padanya yang pasti menyebabkan debaran yang tidak bisa ia kendalikan.


Tetapi ujung ujungnya malah membuat suaminya itu mengungkapkan isi hatinya.


"Bukan begitu juga Mas maksud ku, aduh gimana ya jelasinnya, ya udah deh, dari pada ribet aku gak akan minta itu lagi, sekarang balik ke permasalahan awal, kamu tanya apa sih tadi?" tanya Maura frustasi.


"kamu ada pria lain?"


"Astagfirullahaladzim, harus berapa kali aku bilang Mas, gak aku gak punya pria lain, pria ku cuma kamu doang."


"Ups, keceplosan lagi, ih kamu ngejebak aku ya Mas," ucap Maura seraya memukul lengan Bejo.


bukanya Merasa sakit Bejo malah tertawa mendapat pukulan dari Maura membuat Maura semakin kesal pada Bejo.


terjadilah saling menggelitik diantara keduanya, Maura yang masih mengenakan mukenanya menjadi riweh karena kesrimpet oleh mukenanya sendiri.


Sehingga tidak sengaja jatuh ke sebelah kanan dengan di sangga oleh Bejo. Mata mereka saling bertemu, membuat Maura semakin memerah pipinya, Bejo bisa melihat pipi merah tersebut. Ia tersenyum seraya berkata.


"Kamu semakin cantik dan menggemaskan saat pipimu merah begitu." Puji Bejo yang membuat Maura menutupi wajahnya menggunakan mukenanya.


Merasa berat menyangga tubuh Maura dan Maura tidak ada niatan bangkit dengan perlahan Bejo menarik Maura yang masih menutup wajahnya ke dalam pangkuan Bejo.

__ADS_1


Maura membuka wajahnya saat merasakan sesuatu yang berbeda di kepalanya yang ternyata sudah tergeletak di atas paha Bejo.


Belum sempat Maura bangkit dari pangkuan Bejo suara adzan isya' pun terdengar.


"Diam disitu sampai adzannya selesai." Pinta Bejo pada Maura agar tetap diam di pangkuannya sampai adzannya selesai di kumandangkan.


Tanpa menjawab Maura langsung terdiam, di tempat. Maura sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan bisa tiduran diatas paha Bejo, yang memang sudah sah menjadi suaminya.


setelah selesai adzannya pelahan dengan pasti Maura bangkit dari pangkuan Bejo.


saat mau menegakkan dengan benar duduknya Bejo meraih kepala Maura dan di kecupnya Kening putih Maura yang membuat jantung Maura benar benar berdebar sangat kencang.


"Fix ini aku harus periksa ke sepesialis jantung kayaknya, duh masak iya sih aku penyakitan." Batin Maura seraya terus mengelus dadanya.


Sementara itu Bejo sudah pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


"Bagaiman ini, semakin lama aku menatapnya, aku tidak bisa mengendalikan hasratku, sedari tadi pagi ia tampak sangat cantik, tidak mungkin kan kalau aku meminta hak ku malam ini, besok dia mau berpuasa, lagi pula kami berdua baru saja sepakat untuk memulai hubungan dengan mengenal lebih jauh lagi, kalau aku meminta hak ku sekarang pasti dia akan menolaknya mentah mentah." Batin Bejo yang masih mencoba mengendalikan hasratnya yang tiba tiba muncul.


Usai melaksanakan shalat isya' Maura masuk kedapur untuk menghangatkan soto miliknya, kemudian menyantapnya dengan nikmat.


sementara itu Bejo tengah membaca Alquran, suapa dirinya bisa meredam lebih lagi hasratnya yang sedari tadi susah untuk hilang.


Maura kini tengah kebingungan, menata kasur yang akan mereka tiduri. Maura tau kasur tersebut sangatlah besar tetapi ia kan tidak tau saat tidur apa yang ia lakukan sehingga ia sedang berpikir untuk memberinya pembatas, sementara itu Bejo tengah mengobrol dengan Mang Ujang di depan TV.


"Nah begini lumayan juga kali ya, aku gak bisa kalau tidur di peluk peluk, di asrama aja kalau Nada atau Amel tidur di sampingku dan ditengah malam memeluk tubuh ku, aku langsung menyingkirkan tangan dan kakinya kemudian aku pergi mecari tempat yang aman.


Sedangkan ini aku dan dia kan baru saja sepakat memulai hubungan baru, pasti bakalan canggung tidur di ranjang yang sama." Batin Maura seraya puas melihat hasil karyanya.


Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, Bejo mengakhiri obrolannya dengan Mang ujang, kemudian pamit untuk istirahat di kamar.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim.... Apa apa apan ini?"


__ADS_2